
Setelah turun dari kapal yang membuatku muntah berkali-kali semalaman akhirnya kami sampai juga di daratan. Aku tidak begitu memperhatikan sekitar karena kepalaku yang masih terasa pusing. Bu Nia memapahku berjalan masuk ke dalam mobil setelah itu aku tidak ingat apa-apa dan terbangun saat kami sudah sampai di depan sebuah rumah yang megah.
"Nayla, bangun sayang. Kita sudah sampai"
Aku mengerjap-ngerjap, memandang keluar lewat jendela mobil.
"Kamu pasti capek, istirahat saja di dalam" kata pak Rangga dari kursi depan. Aku mengambil tas berisi barang-barangku dan turun dari mobil.
"Wah, ini rumahnya bu Nia sama pak Rangga" aku bukannya tidak percaya itu rumah mereka, hanya saja seumur hidupku baru kali ini aku melihat rumah bertingkat. Dindingnya berwarna coklat, halamanya luas dan dipenuhi rumput hijau. Tidak ada rumah sebagus ini di desaku.
"Iya, ayo masuk, biar saya anter kamu ke kamar"
Aku tersenyum mengikuti langkah bu Nia dan pak Rangga. Mataku masih berkeliaran, memperhatikan setiap sudut rumah tersebut. Entah mengapa aku jadi merasa tidak enak karena di desa dulu mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana.
"Anggap saja rumah sendiri Nay" bu Nia merangkulku. Rasanya masih tidak menyangka aku bisa ikut mereka ke kota. Impianku sejak kecil dulu. Aku berjanji akan memulai kehidupan yang baik dan berusaha keras supaya bisa sukses.
"Kayaknya Miral beneran lupa deh pa. Kebiasaan dari dulu kalau suruh jemput pasti lupa"
"Papa juga heran"
Aku termenung.
Miral, nama yang tidak asing di telingaku. Sampai sekarang aku selalu merasa salah tingkah saat mendengar namanya. Sudah 7 tahun bukan. Sejak saat itu tidak sekalipun aku melihatnya. Dia kembali ke kota secara tiba-tiba tanpa mengucapkan kata perpisahan. Saat itu aku merasa dipermainkan olehnya. Aku benci karena dia pergi setelah menciumku, seakan aku ini gadis desa bodoh yang bisa diperlakukan seenaknya. Tapi aku juga sedih karena mendadak kehilangan sosoknya yang lucu. Walaupun tidak lama, tapi kehadirannya dalam hidupnya memberi beberapa warna. Jika nanti aku bertemu dengannya, apa yang harus kukatakan. Awalnya aku ragu menerima tawaran bu Nia untuk ikut ke kota dan tinggal di rumahnya karena aku tidak berani bertemu Miral, tapi inilah satu-satunya kesempatanku, aku yakin akan menemukan masa depan yang lebih baik di sini. Dan lagi, ternyata sudah lama Miral tidak tinggal di rumah ini, kata bu Nia dia tinggal di apartemen. Entah tempat macam apa itu.
"Nayla, ayo... Kamu kok diem aja, lagi mikirin apa?"
__ADS_1
"Maaf buk, cuma lagi... Lagi kangen ibu di desa"
"Pasti berat ya, ninggalin ibu kamu. Karena itu kamu harus berusaha di sini, kalau butuh apa-apa bilang aja sama ibu atau pak Rangga. Kami pasti bantu kok" bu Nia mengelus kepalaku dengan lembut lalu memelukku. Begitulah sikapnya padaku selama ini. Karena sering membantunya di puskesmas maupun di rumah, dia jadi menganggapku keluarganya sediri, itu yang dia katakan dulu.
"Trimakasih buk"
****
Aku cukup tahu diri, tinggal menumpang di rumah orang aku harus bangun pagi. Karena itu hari ini jam 4 aku sudah bangun dan mandi lalu bergegas ke dapur. Tentu saja berniat membantu bibi, namanya bik Narmi, aku berkenalan dengannnya kemarin dan ternyata orangnya sangat lucu dan baik.
"Pagi bik"
"Loh, neng Nayla kok sudah bangun" karena aku dari desa, dia jadi memanggilku neng.
"Sini, biar Nayla yang potong sayurnya"
"Nggak papa nih, nanti malah ngrepotin"
"Nggak bik, nayla udah biasa kok"
"Oke deh" bik Narmi menyerahkan pisaunya padaku, "kalau gitu bibik urus ayam goreng dulu ya"
Setelah satu jam berlalu sambil masak dan bercanda akhirnya sarapan sudah siap. Bu Nia muncul dari atas, tampak segar dan cantik sementara pak Rangga tampak masih sedikit lelah.
"Lho, Nayla, kamu tadi ikut masak?"
__ADS_1
"He..he.. Iya buk, bantu bik Narmi dikit"
"Ya ampun, saya nggak ngajak kamu ke sini buat masak lho"
"Nggak apa-apa kok buk, lagipula Nayla memang suka masak" aku tersenyum.
"Iy nyonya, neng Nayla ini jago banget masaknya" tambah bik Narmi, aku hanya tersenyum lagi.
"Kalau gitu ayo kita sarapan"
Bu Nia menyuruhku makan di meja makan bersama mereka. Kami berbincang ringan sambil menikmati sarapan. Inikah kehidupan orang kota, kalau di desa jam segini orang-orang sudah ada di sawah atau sungai.
"Nay, nanti kami mau pergi belanja sama bibik, kamu mau ikut atau di rumah aja"
"Saya nggak usah ikut buk, jagain rumah aja"
Karena tidak ada kegiatan aku memutuskan untuk menyiram bunga di samping rumah. Tempat yang menjadi perhatianku sejak aku melihatnya kemarin. Setelah bertanya pada pak Raden, satpam berkumis tebal di rumah ini, bagaimana aku bisa menyiramnya aku dengan semangat mengguyur bunga warna warni itu sambil membayangkan kalau aku sudah kuliah nanti. Kata pak Rangga ada beberapa surat yang harus diurus sebelum aku bisa kuliah. Aku benar-benar menantikan hari itu, aku akan belajar dengan rajin dan membuat ibuk bangga.
Tidak terasa hari sudah siang. Aku terkejut saat mendengar suara bu Nia dari dalam, sepertinya ia sudah pulang, tapi kenapa ribut sekali? Aku putuskan untuk membereskan pekerjaanku dulu, tapi sialnya aku tidak begitu paham cara kerja selang air ini. Dan ketidakpahamanku itu berakhir dengan aku yang basah kuyub.
"Nayla, kamu habis dari mana? Kok basah begitu?" tanya bu Nia saat kami bertemu di dalam rumah.
"Itu buk, saya habis nyiram bunga..."
"Ha..ha.. Ya udah, kamu ganti baju dulu sana, nanti masuk angin" aku ikut tertawa lalu naik ke atas untuk ganti baju sekalian mandi di kamar. Sepertinya bu Nia tahu kalau aku suka berada di lantai dua, karena itu dia memberiku kamar di sini. Aku senang sekali tinggal di sini.
__ADS_1