Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 39


__ADS_3

Miral pov


Aku menutup jendela, mematikan lampu dan bergelung di dalam selimut sejak pagi. Mama datang mengantarkan makan siang sambil menyuruhku minum obat kalau sakit kepalaku kambuh.


Aku tahu mama libur selama beberapa hari untuk mengawasiku.


Ada yang bilang, waktu bisa menyembuhkan segalanya. Kalau kau sudah mengerahkan semua tenagamu untuk berusaha lepas dari kenangan buruk, istirahatlah dan biarkan waktu yang menyelesaikannya.


Apa hal itu tidak berlaku untukku. Aku sudah bosan terus bersembunyi saat musim hujan tiba. Sejujurnya aku rindu dengan tetesan air hujan, tapi kenangan buruk itu selalu menelusup ke dalam kepalaku saat aku melihatnya.


Terkadang aku harus minum obat tidur agar aku bisa tenang dalam tidurku.


Musim hujan kali ini aku hanya berharap hari minggu nanti cuaca cerah supaya aku bisa pergi dengan Nayla.


"Miral?"


Aku bergegas turun dari ranjang. Sampai sekarang aku tidak mengizinkan siapaun masuk ke dalam kamar saat aku sakit. Aku hanya tidak mau terlihat lemah di mata siapa pun.


"Iya ma?"


"Kamu udah makan" mama bertanya, jelas terlihat dia mencemaskan kondisiku. Aku mengangguk, tersenyum untuk meredakan kecemasan mama.


"Mama tenang aja," kupegang kedua tangan mama, "Miral udah gede. Kepala Miral cuma agak pusing tapi nggak separah dulu"


"Mama percaya kamu pasti bisa melalui hal buruk ini" mama mengusap wajahku. Rasanya aku menyesal sudah membuatnya cemas seperti ini.


"Ya udah kamu istirahat. Kalau udah mendingan kamu bisa turun"


Kematian kak Marcel merupakan pukulan paling telak dalam keluarga ini. Mama dan papa selalu terlihat tegar untukku. Tapi aku yang saat itu berusia 14 tahun, tidak bisa menerima semua dengan mudah. Aku menyalahkan diriku dan berharap aku yang mati saat kejadian itu. Rasa bersalahku semakin besar saat aku sadar, aku tidak ingin mati. Betapa aku merasa egois saat itu.


Setiap pulang ke rumah, kondisiku pasti mabuk parah. Mama hanya bisa menangis sambil mencegah kemarahan papa.


Keputusan untuk bekerja di pelosok merupakan salah satu terapi bagiku.


Dan ajaibnya, hatiku membaik saat bertemu Nayla di padang ilalang hari itu. Aku sudah jatuh hati padanya sejak kali pertama.


Dan semua berakhir karena masa lalu yang seharusnya kulupakan terus menarikku ke belakang.


"Miral?"


Tahu-tahu Nayla sudah berjalan ke arahku. Berarti ini sudah sore, dan aku belum mandi sejak tadi pagi. Aku tidak bisa tampil seperti ini di depan Nayla.


"Stop!"


Nayla berhenti beberapa meter dariku.


"Loe nggak usah kemari"


"Kenapa?"


Aku pasti bau keringat.

__ADS_1


"Loe balik aja ke kamar"


Nayla malah maju satu langkah.


"Stop Nay!"


"Kenapa sih?"


Alasan apa yang akan kubuat, kalau aku langsung masuk dan menutup pintu tanpa bilang apapun, Nayla bisa marah.


"Saya cuma mau kasih ini" dia menyerahkan botol kecil padaku"


"Apaan nih?"


"Ini jamu"


"Enggak ah, pasti pahit"


"Enggak kok, ini enak" Nayla terus menyodorkan jamu itu padaku. Dia maju satu langkah lagi.


"Oke, gue ambil. Sekarang loe balik aja ke kamar loe"


"Diminum ya" Nayla lalu masuk ke kamarnya. Aku bernafas lega. Menimang-nimang botol dengan air berwarna kuning itu. Jamu? Ada-ada aja Nayla.


Setelah selesai mandi aku mengetuk pintu kamar Nayla sambil membawa jamu itu. Tak berselang lama Nayla membuka pintu, ditangannya terdapat kuas kecil dan yang membuatku ingin tertawa, ada noda cat di pipinya.


"Loe ngapain?"


"Gue kirain lagi dandan"


"Hah...?"


Aku mengusap-usap noda cat di pipinya.


"Ada cat di pipi loe"


"Serius? Tunggu, jangan masuk dulu sebelum saya bolehin" dia berlari ke dalam, entah melakukan apa. Lalu keluar lagi dengan nafas ngos-ngosan.


"Cuma beresin peralatan melukis" jelasnya sebelum aku bertanya.


"Gue nggak suka jamu"


"Hah..."


"Tapi mungkin gue bisa minum jamu ini kalau sama loe"


"Tapi jamunya manis kok"


"Lebih manis sambil liat loe"


Rasanya aku tidak percaya, mulutku mengatakan perkataan itu. Kalau sampai Adrian dengar dia akan mengejekku selama berbulan-bulan. Tapi reaksi Nayla membuatku gemas padanya. Wah.. Pipinya merah.

__ADS_1


"Ya udah, sa..saya ambil gelas dulu. Saya temenin minum jamunya"


Aku masuk ke dalam kamarnya. Berbeda dengan kamarku yang selalu gelap. Kamar Nayla terlihat cerah dan berwarna. Beberapa lukisan yang kuduga hasil karyanya sendiri terpanjang rapi di dinding bagian barat, dekat jendela. Aku mengamati cuaca di luar yang masih mendung. Gerimis kecil berjatuhan membasahi jendela kamarnya. Anehnya, aku tak merasa cemas.


"Miral?"


"Loe tadi ngelukis apa?"


"Bukan apa-apa, cuma latihan buat ikut pameran seni" dia menyerahkan gelas padaku.


"Loe mau ikut pameran?


Nayla mengangguk.


"Kamu nggak ikut?"


"Ck... Gue udah bosen ikut, nggak ada lukisan yang lebih bagus dari punya gue"


"Sombong banget" Nayla berkomentar, tapi bibirnya tersenyum.


Aku menuang jamu itu ke gelas kami.


"Baunya kayak..."


"Kunyit, enak kan"


Aku mengangguk, menurutku aromanya aneh. Tapi anggap saja aku sedang menyenangkan hatinya.


"Udah lama banget saya nggak minum jamu" gelas Nayla kosong dengan sekali teguk. "Saya tadi nggak sengaja ketemu ibuk-ibuk penjual jamu waktu pergi jalan sama Riana. Kayaknya besok saya bakal beli jamu lagi. Saya bakal beli juga buat kamu"


Sontak, aku langsung menggeleng.


"Nggak usah"


"Eh, kenapa?"


"Gue nggak bisa minum jamu tiap hari. Lain kali aja loe beliin lagi"


Nayla mengangguk, sedikit kecewa.


Aku menaruh gelas dan botol di meja. Kembali mengamati lukisan-lukisan Nayla. Kebanyakan dari lukisan itu adalah pemandangan yang tak asing bagiku.


"Loe kangen kampung halaman?"


"Iya, pasti. Udah hampir setahun saya di sini. Cuma bisa ngobrol sama ibuk beberapa hari sekali"


"Kenapa nggak telpon tiap hari?" aku menelusi sebuah lukisan pohon dengan jariku.


"Sinyal di sana masih susah"


Lukisan 2 pohon besar dengan latar belakang langit di sore hari. Seingatku, saat itu Nayla menceritakan sebuah mitos tentang pohon ini. kisah cinta yang unik tapi juga sedih. Entah mengapa melihat lukisan-lukisan ini juga membuatku ingin mengulang masa lalu. 7 hari paling indah.

__ADS_1


"Besok kita jalan kan. Jangan lupa" mungkin aku bisa membuat sesuatu yang mirip dengan masa lalu itu.


__ADS_2