Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 23 : lukisan waktu


__ADS_3

Pikiranku pasti sudah tidak waras, bisa-bisanya aku berpikir tentang pelet. Memangnya sejak kapan aku percaya hal-hal semacam itu. Ini pasti hanya karena aku sedang kesal. Sejak kapan juga aku gampang kesal begini?


Aku memutuskan untuk pulang ke rumah lagi. Kesal karena Nayla, maka aku akan menemuinya dan membuatnya kesal karenaku.


"Bik?" aku berteriak begitu masuk rumah. Bik Narmi datang sambil membawa sapu.


"Ada apa mas? Tumben pulang"


"Nayla mana?''


"Mmm, di kamar mungkin mas..."meninggalkakan bik Narmi yang masih mengoceh, aku langsung naik ke atas. Apa yang sebenarnya kulakukan, aku juga tidak tahu. Aku hanya mau melegakan perasaanku saja.


Sesampainya di depan kamar Nayla aku langsung mengetuk pintunya dengan kasar. Kalau pintunya rusak aku malah senang, walaupun jelas itu tidak mungkin.


Pintu langsung terbuka, diikuti wajah terkejut Nayla.


"Eh, ada apa?"


"Ikut gue"


"Ke mana?"


"Udah ikut aja"


"Ikut ke mana?" dia masih ngotot bertanya"


"Banyak nanya" aku meraih tangannya dan menariknya begitu saja.


"Tapi, itu, biar saya ganti baju dulu"


Mengabaikan protesnya aku terus menarik Nayla keluar dari rumah. Dia masih saja bertanya kemana..kemana...kemana...


Lama-lama kayak orang nyanyi.


"Ayo masuk" aku menyuruhnya masuk ke dalam mobil, Nayla masih berdiri di luar, celingukan. Padahal aku sudah masuk ke dalam.


"Sebenarnya kita mau ke mana?"


"Nggak usah banyak nanya, ikut aja" dari ekspresi wajahnya aku tahu Nayla tidak mau ikut tapi mungkin karena takut padaku, akhirnya ia masuk juga.


Ha... Ha... Awas loe nggak nurut!


"Pakai sabuk pengamannya!" kataku cukup keras.


"Sabuk pengamannya yang mana?"


"Ck..." aku mendekat dan memakaikan sabuk pengaman itu. Untuk sesaat aku bisa melihat wajahnya dari dekat. Nayla memalingkan mata bulatnya, tapi jelas pipinya bersemu merah. Aku tersenyum samar. Entak mengapa aku menikmati itu.


"Kamu nggak akan nyulik saya kan" tanyanya begitu aku kembali ke kursiku.


"Ya nggak lah, apa untungnya" kok bisa ya dia mikir gitu, emang tampang gue ada tampang penculiknya?


"Trus kita mau ke mana?"

__ADS_1


"Sst.. Diem aja di situ"


Aku sendiri tidak tahu mau pergi ke mana? Aku hanya terbawa emosi sampai membawanya mengemudi seperti ini. Aku menghembuskan nafas, sekarang aku heran pada diriku sendiri. Kemarin aku memukulnya karena dia masuk kamarku sembarangan, sekarang aku malah menariknya secara paksa ke dalam mobilku.


"Kamu temennnya mas Adrian kan"


Aku hampir saja menghentikan mobilku. Kenapa dia menanyakan soal Adrian ketika aku sedang kesal pada anak itu.


"Hem" tahan Miral. Aku tidak boleh menunjukan kekesalanku atau aku akan tampak seperti orang bodoh.


Nayla tidak bicara lagi, dia tampak memandang keluar jendela.


"Menurut loe, Adrian gimana?"


"Ha..?"


Padahal sudah susah payah aku menanyakannya. Dia malah belaga budek.


"Nggak jadi"


"Mas Adrian? Baik, dia tadi mau ngaterin saya pulang tapi saya tolak karena nggak enak"


"Kayaknya, dia suka sama loe"


"Ha.. , nggak mungkin. Lagian mana mungkin orang kayak mas Adrian suka sama saya"


Aku malah kesal mendengar jawaban Nayla. Apa maksudnya dia juga bisa suka sama Adrian kalau sudah jelas Adrian suka padanya.


"Ini di mana?"


"Apartemen gue"


Nayla hanya mengikut di belakangku. Aku baru sadar dia berpakaian sangat sederhana dan memakai sendal jepit. Kenapa dia malah terlihat lucu... apalagi tinggi badannya yang hanya sebatas bahuku, dia jadi tampak seperti anak kecil.


"Wah.. Ini yang namanya apartemen ya" Nayla tampak terkagum-kagum ketika memasuki apartemenku. Dia bahkan melepas sendalnya dan menaruhnya di dekat pintu sebelum masuk


"Eh, ngapain dilepas?"


"Biar nggak kotor" jawabnya dengan polos


"Di rumah mama loe nggak pernah lepas sendal"


"Karena nggak boleh sama bu Nia"


"Terserah loe" aku tertawa di belakangnya.


Nayla berjalan ke sofa dan duduk di sana. Dibukanya tirai sedikit, mungkin dia masih ingat aku tidak suka tirai terbuka. Aku pergi ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi.


"Ini semua kamu yang lukis?" tanya Nayla sambil menunjuk kumpulan lukisan yang tersebar di lantai dekat pintu kamarku.


"Iya" aku meletakan kopi itu di meja. Padahal niat awalku mau membuatnya kesal padaku, tapi sekarang aku malah membuatkannya kopi dan membiarkannya masuk ke apartemen pribadiku.


Nayla duduk di lantai, menelusuri lukisan itu dengan jemarinya. Seakan ia sedang membaca apa yang tersirat di dalam lukisan itu. Diam-diam aku terpaku menatapnya, kenapa dia terlihat begitu indah? Seperti lukisan. Gerakan tangannya, caranya duduk, senyum tipisnya, helai rambutnya yang jatuh dari ikatan...

__ADS_1


"Kamu suka ngelukis sejak kapan?"


Aku langsung tersadar, mendadak kikuk karena pertanyaanya yang tiba-tiba.


"Lupa" sambil memeggang tengkuk dan menghindari kontak mata.


"Kok lupa?"


"Ya emang lupa"


Percakapan terhenti sesaat, Nayla masih menelusuri lukisanku satu persatu. Kelihatannya dia tertarik sekali.


"Kamu suka melukis, tapi kenapa di kamar kamu kosong, nggak ada lukisan yang dipajang di dinding"


"Karena gue nggak suka"


Nayla melirikku sekilas, "nggak wajar" katanya kemudian.


"Maksudnya?"


"Sebuah seni harus dinikmati, bukan sekedar disimpan"


"Sok loe"


Nayla malah tersenyum, untuk kedua kalinya aku melihat gigi kelincinya dengan jelas.


"Eh, itu juga lukisan kamu?" dia menunjuk sebuah lukisan pemandangan yang kutaruh di dekat rak buku, lukisan yang tidak pernah selesai karena aku merasa ada yang kurang.


"Iya, gue semua yang bikin"


Nayla mengambil lukisan itu mengamatinya beberapa saat.


"Ini kayak desa saya, persis banget. Sungainya, rumah-rumahnya, bahkan jalan kecil ini. Dulu saya sering lewat jalan ini kalau ke sungai dan kalau lurus terus di sebelah sana harusnya ada ladang ilalang"


Ilalang?


"Di sebelah sawah ini ada bukit yang memiliki hutan bambu dan air terjun yang indah. Apa jangan-jangan kamu..."Nayla menatapku sesaat " ingat?"


Untuk sedetik aku merasa seperti berada di dalam lukisan itu dan kembali ke dunia nyata di apartmenku.


Kepalaku mulai terasa pening. Aku duduk di sofa sambil memegang kepalaku yang berdenyut.


"Kamu kenapa?"


Ilalang?


Air terjun?


Hutan bambu?


"Wingardium leviosa"


Aku menatap wajah Nayla, tiba-tiba aku merasa, ia seharusnya berada dalam lukisan itu.

__ADS_1


__ADS_2