Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 17 : Kalung dan Hujan


__ADS_3

Aku sedang mengemudi pulang, baru saja pulang dari cafe, bertemu dengan salah satu klienku. Begitu kuaktfikan hape, puluhan pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi layar hapeku. Memang sudah 2 hari ini aku mematikan hape. Aku mengecek satu persatu pesan dan membalas beberapa pesan penting dari klien. Karena kebiasaanku yang suka mengabaikan pesan ini, banyak dari mereka yang marah, tapi karena terbiasa dan puas dengan hasil kerjaku maka mereka memakluminya. Kalau mereka tidak memakluminya, aku tidak masalah mereka pergi.


Satu pesan baru muncul, dari adrian.


Udah siap buat ngerjain anak ospek, gue mau cari yang cantik he..he...


Adrian, nggak pernah berubah. Dari dulu pikirannya cuma cewek. Padahal usianya sudah 25 tahun tapi nggak pernah serius soal urusan pasangan. Lah, apa bedanya sama gue? Gue masih 23.


Ambil aja semua, gue nggak minta.


Nggak minta, tapi pada lari ke loe semua ***** emang.


Aku melempar hapeku ke kursi samping. Nggak ada habisnya meladeni Adrian.


Seperti biasa aku meraba leherku, memastikan bahwa kalungnya masih kupakai. Tapi kali ini aku tidak menemukan kalung tersebut. Aku sudah panik, mencoba mengingat di mana terakhir aku meletakaknya. Kalung itu penting buatku.

__ADS_1


Mungkin tertinggal di kamar mandi, iya, aku melepas kalung itu sebelum mandi, meletakannya di samping wastafel.


Dengan cepat aku memutar kemudi, kembali ke rumah mama.


Sudah jam 10 malam, jadi wajar kalau rumah sepi. Aku harus menekan klakson berkali-kali sampai pak Raden membukakan gerbang. Dasar, dia selalu tidur saat kerja. Pintu rumah juga sudah ditutup, tapi untungnya belum dikunci. Bik Narmi masih ada di ruang tamu, mengunci beberapa jendela.


"Lho, Mas Miral?"


Aku mengabaikan bik Narmi dan bergegas ke kamarku.


Aku membuka pintu dan berlari ke kamar mandi. Bernafas lega begitu melihat kalungku masih tergeletak di sana. Aku menyentuh kalung itu, sebuah kalung putih denagn gantungan bulat memanjang, di dalam gantungan tersebut ada kertas dengan tulisan "7 hari bersamamu" aku tidak tahu kapan aku menulisnya, dan apa artinya? Aku tidak tahu darimana kalung ini kudapatkan, yang pasti ini benda yang sangat penting untukku. Benda yang kupakai sejak lama. Pernah suatu kali Adrian bermain dengan kalungku, menyembunyikannya saat aku tidur. Aku marah dan memukulinya habis-habisan, setelah itu kami tidak bicara selama satu minggu sampai dia minta maaf padaku.


Aku mencuci tangan dan membasuh wajah. Memandangi bayanganku di dalam cermin.


"7 hari?" aku yakin punya 7 hari paling indah dalam hidupku, meski aku tidak ingat.

__ADS_1


Aku akan mematikan lampu saat menyadari bahwa saat pergi tadi aku tidak menyalakan lampu kamar. Aku selalu membiarkan kamar ini gelap. Siapa yang menyalakannya?


Pandanganku jatuh di ranjang pada seseorang yang terbaring di sana. Bukankah itu nayla... Kenapa dia bisa ada di sini lagi. Dasar... Tidak bisa diberitahu secara halus.


Aku menghembuskan nafas, anehnya aku tidak ingin marah. Aku tanpa sadar berjalan menghampirinya. Berdiri di samping ranjang sambil memandanginya tidur.


Nayla?


Aku menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Di luar gerimis mulai berjatuhan.


Aku punya satu kenangan yang tidak pernah bisa kulupakan. Waktu itu hari hujan dengan angin dan petir. Aku terbaring di suatu tempat dengan kondisi sekarat. Secuil ingatan yang membekas bersamaan dengan rasa sakitnya. Setiap kali hujan turun kepalaku selalu terasa pusing dan kenangan itu terbayang nyata di hadapanku. Aku tidak tahu persis yang terjadi saat itu, yang kutahu aku benci dengan kenangan itu.


Selama ini aku selalu menghindari hujan. ketika musim hujan tiba biasanya aku akan jarang masuk kuliah dengan alasan sakit.


Sekarang pun aku hanya ingin bersembunyi. Sial... Aku tidak membawa obatku. Aku terjatuh di samping ranjang, pandangannku mengabur, mataku menangkap wajah nayla sebelum kesadaranku hilang.

__ADS_1


__ADS_2