Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 24 : mengulang kenangan


__ADS_3

Brak...


Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang wanita dengan penampilan kacau masuk ke dalam apartemen Miral sambil mengoceh tidak jelas. Aku terkejut sampai tanpa sadar merapat pada Miral.


Wanita itu tampak seperti orang bingung, lalu setelah menunjuk aku dan Miral dengan telunjuknya ia ambruk begitu saja ke lantai.


Miral terdengar menghela nafas berat.


"Loe pulang sendiri ya" Dia mengambil dompet dari saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang disodorkannya padaku.


"Eh, tapi saya..."


"Gue lagi ada urusan penting"


"Sama dia?"


Miral mengangguk pelan. Entah mengapa aku merasa sedih tiba-tiba. Siapa wanita itu?


"Bisa pergi sekarang?"


Aku tentu saja tidak bisa menjawab.


Miral menarikku ke pintu dan membukanya.


"Tapi, itu..." aku tidak bisa menjelaskan karena Miral terus menyelaku.


"Loe takut uangnya kurang, nih gue tambahin lagi" dia menyerahkan uang lagi padaku.


"Naik taksi biar cepet" Kemudian pintu tertutup dan aku berdiri di luar seperti orang bodoh. Aku memperhatikan uang di tanganku, menghela nafas berat. Sendalku juga masih di dalam, aku kan menyimpannya di dekat pintu masuk tadi.


Dan lagi aku juga tidak tahu alamat rumah Bu Nia.


Aku meraba saku rok'ku. Hapeku juga ketinggalan di rumah.


Begini ya rasanya ditinggalkan? Lebih tepatnya diusir. Lebih menyakitkannya, karena ada wanita lain. Meskipun aku bukan siapa-siapa tapi tetap saja ada rasa tidak terima.


Aku sampai di lantai bawah setelah menuruni tangga yang sangat banyak. Seandainya aku tahu caranya naik lift, kakiku tidak akan sakit begini.


Beberapa orang memperhatikanku saat aku melewati mereka. Aku tahu penampilanku pasti aneh. Apalagi aku tidaK pakai sendal. Tapi aku tidak terlalu memusingkan itu, aku hanya berpikir bagaimana caranya aku sampai rumah.


Kenapa Miral tega menyuruhku pulang sendirian? apa itu pacarnya?


Apa yang mereka lakukan sekarang. Entah mengapa aku jadi tidak tenang, apalagi saat ingat wanita itu memakai rok yang sangat pendek.


Kudengar orang kota memiliki pergaulan yang cukup bebas.


Aku menggelengkan kepalaku, mengusir jauh-jauh pikiran kotor itu.


"Apa aku menunggunya saja?" gumamku sendirian. Aku menoleh ke sana-kemari dan memutuskan untuk masuk ke sebuah cafe terdekat. Kebetulan kafe itu lumayan sepi. Aku memilih duduk di pojokan dan berencana memesan makanan dengan uang yang diberikan Miral. Dia memberiku banyak uang, aku akan mengembalikannya lagi nanti.


"Mau pesan apa kak?"


Aku masih memperhatikan daftar menu itu. Harganya luar biasa mahal untukku. Mana bisa aku menghamburkan uang hanya untuk makanan yang bisa kubuat sendiri di rumah.


"Jus jeruk aja mbak" kataku kemudian.


Sambil menikmati jus jerukku, aku mengamati jalanan Yang ramai. Suasana kota memang berbeda jauh dengan desa. Kalau sore begini biasanya yang kulihat adalah matahari terbenam dan burung-burung yang kembali ke sangkarnya, tapi di sini aku melihat manusia dan kendaraan yang luar biasa ramai. Tempat ini terasa sesak.


Kapan Miral akan keluar ya...? Kalau dia keluar aku bisa mengenalinya dengan cepat.


Satu jam berlalu...


Dua jam berlalu


Tiga jam berlalu


Jam di dinding cafe sudah menunjukan pukul 6 sore. Aku mulai gelisah sendiri. Bagaimana kalau dia tidak keluar juga? Aku tidak berani mendatanginya, lagi pula aku lupa apartmennya tadi ada di lantai berapa, dan nomer berapa.


Mulai gelisah lagi. Akhirnya aku memutuskan keluar dari cafe itu dan berjalan di trotoar sambil mempehatikan jalanan. siapa tahu ada yang kuingat.

__ADS_1


Tanpa sadar aku sudah berjalan terlalu jauh, aku tersesat. Aku bahkan lupa cafe tadi ada di mana. Bagaimana ini? Aku menatap berkeliling.


Hanya ada kendaraan dimana-mana.


Hari semakin gelap dan aku semakin kebingungan. Di tengah kegelisahannku tiba-tiba sebuah motor melaju kencang di sampingku. Aku terkejut dan terjatuh ke samping. Siku ku sakit sekali. Tidak tahan lagi, aku akhirnya menagis. Marah pada Miral yang menyuruhku pulang sendiri padahal dia yang mengajakku kemari.


Dia malah berduaan dengan wanita lain.


Awas kalau dia datang, aku akan memukulnya.


*****


Tasya masih tidur di sofa dengan nyenyak. Tadi sore, tiba-tiba dia datang ke apartemenku dalam keadaan mabuk berat. Padahal saat itu Nayla sedang ada di sini. Aku tidak mungkin membiarkan Nayla melihat Tasya. Aku tidak ingin dia tahu siapa Tasya.


"Winggardium leviosa" gumamku.


Aku tahu kalimat itu karena aku suka harry potter. Dan aku baru saja ingat satu kenangan yang berkaitan dengan itu.


Nayla. Aku bertemu dengannya 7 tahun yang lalu.


Tiba-tiba hapeku berdering. Nama mama tertera di layar.


"Halo" aku mengangkat telepon


"Nayla mana?"


"Nayla?"


"Kata bik Narmi dia tadi pergi sama kamu, tapi sampai sekarang dia belum pulang, dia masih sama kamu kan"


Bukannya Nayla sudah pulang sejak tadi sore? Apa jangan-jangan...


"Miral?"


"Iya ma, Miral bakal anterin Nayla pulang nanti"


"Jangan malem-malem ya"


Aku menutup telepon dan bergegas


Keluar apartmen. Sekilas aku melihat sendal Nayla yang tertinggal di samping pintu. Aku mengacak rambut, marah pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku menyuruhnya pulang sendiri. Bagaimana kalau dia tersesat.


Aku turun ke bawah dan bertanya pada satpam.


"Pak lihat cewek yang jalan nggak pake sendal nggak?"


Pak satpam diam sejenak, "orang gila kali mas, nggak pakai sendal"


"Seriusan pak, kira-kira tadi sore dia keluar dari gedung apartemen ini. Pakai rok coklat selutut.


Pak satpam diam sejenak lagi.


"yang rambutnya lurus, dikucir di belakang, trus bajunya merah ya?"


"Iya pak. Lihat?"


"Tadi sih kayaknya mampir kafe sana mas"


Aku langsung lari ke cafe, tidak peduli pandangan orang-orang saat aku masuk sambil berlari. Tapi tidak ada Nayla juga di sana. Aku bertanya pada pelayan, tapi ia bilang tidak tahu juga karena baru pergantian shift.


Kira-kira ke mana Nayla pergi?


Ini sudah hampir jam 8 malam.


Aku harus menemukannya sebelum terjadi hal buruk.


Aku berjalan menyusuri trotoar, bertanya pada orang-orang yang lewat. Tak satupun yang tahu, atau mereka memang tidak peduli. Banyak kejadian orang hilang di kota dan itu bukan hal yang menarik bagi sebagian besar orang.


Mataku menyipit, memperhatikan sosok yang duduk di kursi tepi jalan sambil memeluk lututnya. Apa iya itu Nayla.

__ADS_1


Ragu-ragu aku menghampirinya, semakin dekat aku yakin kalau itu memang Nayla.


Syukur tu bocah nggak ilang.


"Nay"


Nayla langsung menoleh, matanya sembab sekali. Tapi dia tidak bicara apapun padaku, banya saja bibirnya cemberut dan matanya menatapku sinis.


Dia marah? Tentu saja.


Tapi aku jadi ingin tertawa melihat wajah marahnya.


"Loe nggak pulang?" ikut duduk di sampingnya.


"Nggak baik anak gadis malem-malem di pinggir jalan, kalau dibawa wewe gombel gimana?"


Buk.


Sebuh pukulan mendarat di lenganku. Lumayan terasa walaupun tidak sakit.


"Sorry ya"


Nayla masih diam saja. Aku tahu dia tidak akan menjawab satupun pertanyaanku. Dia pasti sangat marah padaku. Mungkin kalau cewek lain gue udah habis di tamparin.


Aku duduk berlutut dan menarik kakinya.


"Eh, mau apa?" akhirnya dibuka juga itu mulut.


"Udah diem aja" kubersihkan telapak kakinya dengan tanganku. Dia pasti lelah berjalan ke sana kemari tanpa alas kaki. Aku jadi merasa seperti orang jahat.


"Argh.."


"Kenapa?"


Nayla diam saja. Aku memperhatikan kakinya dan menemukan luka lebam di pergelangan kakinya.


"Loe habis jatuh?"


Nayla diam saja, menghindari tatapanku. Ya ampun, gara-gara aku dia celaka.


"Ayo pulang, gue gendong"


Aku duduk, mempersilahkan punggungku untuk dinaiki.


"Saya bisa jalan sendiri"


"Ayo, keburu malem, gue ngantuk, kalau loe jalan, kelamaan"


Akhirnya nayla naik juga ke punggungku.


"Kamu nggak malu?"


"Loe nggak marah?" aku balik bertanya.


"Ya marah lah, kamu kan tahu saya..." Nayla tidak melanjutkan kalimatnya, menghela nafas berat.


"Gue minta maaf. Gue nggak tahu bakal gini jadinya"


Hening.


"Deja vu" kataku, tersenyum tanpa sepengetahuannya.


"Apa?


"De javu, kayaknya kita lagi De javu"


"De javu itu apa?"


"Cari tahu aja sendiri, gue ogak jelasin"

__ADS_1


Nayla berdecak.


Aku tersenyum sepanjang perjalanan.


__ADS_2