Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 30 : percobaan pacaran


__ADS_3

Bab 30 : percobaan pacaran


Aku baru akan menelpon pak Raden untuk menjemputku saat suara klakson yang keras mengaggetkanku. Hampir saja hapeku terlempar. Jendela mobil terbuka dan tampaklah wajah Miral.


"Masuk!" datang-datang langsung merintah.


"Nggak, saya mau nungguin pak Raden" aku menolak.


"Pak Raden nggak bakal dateng. Dia lagi sakit"


"Eh, beneran?" pak Raden sakit? Tadi pagi dia masih sehat, bahkan dangdutan di dalam mobil saat mengantarku.


"Makanya masuk sekarang, gue anter pulang"


Aku menatap Miral ragu-ragu, tapi akhirnya menuruti perkataannya. Lagipula aku tidak mau menunggu lama di sini.


"Pasang sabuk pengamanya, atau gue pasangin"


"I..iya, saya pasang sendiri" baru duduk di dekatnya saja aku sudah kesulitan bicara.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan Miral tidak bicara apapun selama perjalanan. Entah mengapa aku merasakan aura mengerikan di sekitarnya. Apa dia sedang marah?


Lebih baik aku menjaga jarak.


Aku bersandar ke jendela, menatap ramainya lalu lintas jalanan.


Walaupun belum lama tinggal di kota ini tapi aku tahu beberapa tempat yang harus dilewati untuk pergi ke kampus dan pulang. Tapi jalan yang kami lewati sekarang kenapa berbeda? Apa Miral lewat jalan lain? Tapi ini sudah lebih dari setengah jam. Dia mau membawaku ke mana?


"Kita nggak pulang?" akhirnya kuberanikan diri bertanya.


"Mau gue turunin di jalan"?"


Aku langsung diam seribu bahasa. Sepertinya dia memang sedang marah.


Setelah hampir satu jam berada dalam mobil, melewati banyak pepohonan. Akhirnya mobil itu berhenti di sebuah tempat yang asing bagiku. Sebuah lapangan dengan rumput hijau yang sangat indah. Jauh dari perkotaan.


Miral menghentikan mobilnya. m


Menarik nafas sambil mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya.


"Loe..."


Dia menoleh padaku.


"Ayo keluar"


Kelihatannya dia tadi tidak ingin mengatakan itu.


Kami keluar dan hawa dingin yang segar langsung menerpa tubuhku. Bau rumput dan angin yang bersih. Mengingatkanku pada desaku.


"Segarnya" aku memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam-dalam. Jarang-jarang aku bisa menikmati udara sesegar ini di kota.


Aneh, kenapa baunya berubah...? Aku membuka mataku dan mendapati Miral yang berdiri di depanku. Karena tubuhnya yang tinggi aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Tapi hanya sesaat lalu aku menunduk lagi.

__ADS_1


"Nay?"


"Iya?"


"Loe... Mau jadi pacar gue nggak?"


*****


Aku mungkin terlalu buru-buru, terlalu berani, tidak tahu diri dan apa lagi?


Setelah bersikap buruk padanya, memperlakukannya dengan tidak benar dan selalu bersikap kasar tiba-tiba aku memintanya jadi pacarku. Sama sekali tidak masuk akal.


Jadi kalau Nayla menolak rasanya itu hal yang sangat wajar.


Aku melakukan itu karena merasa cemburu saat melihatnya berjalan berduaan dengan Adrian. Mereka tertawa bersama seperti remaja yang sedang pacaran. Entah mengapa aku sangat kesal, dan butuh kepastian secepatnya. Tapi setelah mengungkapkan hal itu aku merasa malu luar biasa. Apalagi Nayla hanya diam saja.


Hening...


Apa yang harus kulakukan selanjutnya?


Katakan sesuatu. Jangan diam saja.


"Kita coba satu bulan"


Gila...


Apa yang barusan kukatakan? Memangnya ini sebuah permainan? Sudah terlanjur. Aku harus siap ditampar.


Pliss... Tampar gue sekarang Nay.


Eh, dia terima?


"Loe terima?"


Nayla masih menunduk, tapi aku tahu dia mengangguk. Seriusan? Segampang ini?


Dia mundur. Lalu menatapku.


"Satu bulan, perlakukan saya dengan baik. Setelah itu kita putus"


Ternyata mendengarnya dari mulut Nayla terasa menyakitkan. Seperti kau diberi tahu kapan akan mati.


Nayla kemudian melangkah menjauh, berjalan menikmati suasana di padang rumput ini. Aku pernah kemari setahun lalu saat jurusan seni melakukan acara kemah bersama.


Mengikuti Nyala, aku berjalan menyamakan langkah kakinya dari belakang.


Walaupun sebulan, setidaknya aku harus membuat kenangan yang indah. Kalau semuanya berjalan lancar dan menyenangkan mungkin bisa lebih dari satu bulan. Aku berjalan lebih cepat, berjalan di sampingnya.


Kuulurkan tanganku ke depannya. Nayla hanya memandang tanganku dengan tampang bloon.


Kurasa dia belum paham kode semacam ini. Aku berdecak lalu meraih tangannya, menggenggamnya sambil tersenyum.


"Hari pertama, mau apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Hah?" dia malah semakin bingung.


"Oke, kita jalan-jalan aja di sini"


"Ah, iya"sepertinya Nayla gugup. Aku bisa merasakan tangannya yang gemetar dan berkeringat. Apa ini pertama kali buatnya? Kalau iya berarti gue beruntung banget dong....


Tapi sejak tadi Nayl tidak menatapku, padahal aku ingin melihat wajahnya. Dia bahkan tidak menanyakan kenapa tiba-tiba aku memintanya jadi pacarku.


"Nay?


"Iya"


"Lihat gue bentar"


Dua detik, sebelum dia menoleh dan menatapku. Benar kan dia gugup, dia terus mengalihkan pandangannya.


"Lihat gue, bukan lihat angin"


Nayla menatapku sekilas. Lama-lama aku jadi kesal juga


"Gue di sini"


"Iya saya tahu"


"Ya trus itu mata lihat apaan?"


"Lihat pemandangan"


"Kan gue suruh lihat gue"


"Ya kan udah lihat, ngapain dilihat lagi"


Wah, ni anak mau bikin gue darah tinggi. Baru juga pacaran beberapa menit yang lalu.


"Lihat gue!' kataku dengan penuh penekanan.


" udah lihat" Nayla masih ngeyel. Dia malah berjalan menjauh. Awas lu bikin gue kesel...


Aku menyusulnya, meraih tanganya. Nayla terkejut dan terlempar ke arahku. Tidak seperti adegan romantis yang sering kali dilihat Adrian aku justru kesakitan karena jatuh ke belakang dan Nayla jatuh di atas tubuhku.


"Loe sih, ngeyel"


"Kamu juga ngeyel"


Aku memeganggi punggungku yang terasa perih. Sepertinya punggungku terbentur sesuatu. Aku menoleh ke belakang dan benar saja ada batu sebesar kepalan tangan.


"Tanggung jawab loe" aku masih memeganggi punggungku yang nyeri.


"Eh, kenapa?"


Aku menunjuk batu di belakangku.


"Ya ampun, gimana? Ke rumah sakit aja?' dia jadi kebingungan. Menoleh ke sana-kemari. Memangnya dia mau minta tolong siapa?

__ADS_1


"Kita pulang aja" susah payah, aku berjalan ke mobil seperti kakek-kakek.


__ADS_2