Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 32 : Tasya


__ADS_3

Aku baru saja selesai kelas terakhir dan memasukan semua buku ke dalam tas. Tiba-tiba Riana bersuit padaku. Aku menoleh padanya yang masih tampak mengantuk, padahal selama jam pelajaran tadi dia diam-diam tidur.


"Ada apa?"


"Noh, ada yang nungguin di luar"


Di luar tampak mas Adrian sedang berdiri dan melambai singkat padaku. Benar juga, hari ini kami ada janji makan siang bersama sekalian mau membahas soal pendaftaranku ke komunitas seninya.


"Saya duluan ya, ada urusan penting" kataku pada Riana yang masih meletakan kepala di meja. Dia hanya menganggukan kepala singkat dengan mata masih terpejam.


"Kamu nggak pulang?" tanyaku khawatir.


"5 menit lagi"


"Jangan kelamaan, nanti kamu dikunci di sini"


Ragu, aku meninggalkan Riana.


"Maaf mas, lama ya"


"Nggak kok, itu temen loe ngapain?" mas Adrian melongok ke dalam.


"Tidur mas"


"Serius?"


"Iya, udah kebiasaannya tidur di kelas"


"Ha...ha... Temen loe gokil banget"


Kami berjalan ke parkiran bersama. Aku sudah mengabari pak Raden kalau aku akan pulang sendiri bersama teman.


"Nih, loe tinggal isi formulirnya. Kalau udah selesai kasih ke gue" mas Adrian menyerahkan sebuah kertas pendaftaran padaku.


"Makasih mas" aku memperhatikan sekilas kertas itu dan menyimpannya ke dalam tas.


"Ma-sama. Hari ini makan di tempat faforit gue yuk"


"Boleh"


"Dijamin, loe bakal ketagihan sama makanannya, murah, enak, beh lengkap pokoknya."


Aku tertawa melihat mas Adrian dengan eksperinya yang sangat bersemangat.


"Ada yang lucu?"


"Mas Adrian yang lucu"


"Gue? Emang sih gue itu lucu dan kyut banget"


Kami tertawa sepanjang jalan menuju parkiran. Tanpa sadar sepasang mata sedang mengikutiku dengan tatapan kesal.


Aku belum tahu seperti apa kehidupan mas Adrian. Dari yang kudengar dia lahir di keluarga yang sederhana, tapi dia cukup terkenal di kampus karena kepintarannya dan juga wajahnya yang tampan kayak opa-opa korea, begitu kata anak-anak gadis di kelas. Meski begitu, bagiku mas Adrian orang yang sangat lucu dan apa adanya. Saat dia bilang tempat makan faforitnya, kupikir tadi adalah kafe atau semacamnya. Ternyata kami sekarang berada di warung pinggir jalan raya. Tentu saja bukan masalah bagiku, aku hanya tidak menyangka dia sesederhana ini untuk ukuran cowok keren di kampus.


"Enak kan" katanya sambil menyuap nasi ke mulutnya.


Aku mengangguk, rasa makanan di sini memang enak. Sesuai dengan lidah kampungku.


"Gue sering ke sini sendirian"


"Kenapa?"


"Lebih asyik aja, nggak ada yang gangguin"


"Berarti saya ganggu?"


"Enggak, loe beda. Kan gue yang ngajak. Kalau ada loe, rasa makananya jadi lebih enak, kayak ada manis-manisnya gitu"


Aku tertawa pelan mendengar lawakannya.

__ADS_1


"Mas miral nggak pernah ke sini?" tiba-tiba aku jadi penasaran.


"Eh pernah, waktu itu gue paksa dia traktir gue di sini pas hari ulang tahun gue. Awalnya dia diem aja, nggak mau makan. Eh sekalinya gue paksa makan, malah abis semua" cerita mas Adrian sambil tertawa.


"Beneran?"


"Iya. Si Miral itu, walaupun kelihatnnya jutek banget, dingin kayak kulkas, aslinya dia melow parah"


Kata-kata mas Adrian terngiang sampai aku pulang ke rumah, bahkan membuatku melamun tanpa sadar.


"Jutek banget, dingin kayak kulkas, tapi melow parah" ucapku mengulangi penjelasan mas Adrian tadi.


Rasanya masih nggak percaya, miral yang dulu dan sekarang terlalu beda. Mana yang kusuka?


Brak....


Lamunanku bubar seketika. Pintu kamar terbuka dam manusia jutek seperti kulkas itu sedang berdiri di sana dengan wajah tanpa ekspresinya, sebelum berubah menjadi wajah marah dalam satu detik.


"Ada apa mas?" aku berusaha terlihat tenang walaupun aslinya gemetaran.


Dia diam saja, menatapku tajam seperti biasa.


"Mas Miral?"


"Loe abis dari mana?" tanyanya sambil berjalan ke arahku, lalu tanpa kuduga dia berbaring di atas ranjangku, di sampingku, menggunakan kedua tanganya sebagi bantal.


"Habis makan sama mas Adrian"


"Kenapa nggak ngabarin?"


"Kenapa harus ngabarin?"


Sepertinya jawabanku 100% salah. Miral langsung menoleh padaku dengan tatapan lebih tajam.


"Saya kam belum punya nomernya mas Miral" tambahku kemudian.


"Siniin hape loe" aku mengambil ponsel dan memberikanya.


"Gue udah kasih nomer gue, lain kali kalau mau pergi kabarin gue dulu."


suasana kembali hening, tapi sejujurnya aku malah gelisah karena dia ada di dekatku.


"Mas, punggungnya gimana?"


"Udah mendingan"


"Syukur deh" aku senang mendengarnya.


"Mau lihat?"


"Nggak, nggak usah" jawabku gugup, cepat. Apa coba maksudnya.


"Entar makan malam sama gue yuk"


"Di mana?"


"Ya di tempat makan, pokoknya loe siap-siap aja. Nanti berangakt jam 5."


"Jam 5... Eh, ini kan jam setengah 5" kataku panik sambil menatap jam di dinding


"Ya emang, makanya buruan mandi, atau mau gue mandiin"


Aku berdecak kesal dan berlari cepat menuju almari, mengambil pakaian dan lari ke kamar mandi. Mengutuk Miral diam-diam.


10 menit kemudian aku selesai.


Dan keberadan Miral yang masih berada di kamar benar-benar mengejutkanku.


"Kok masih di sini?"

__ADS_1


"Enggak boleh?" katanya sambil memainkan ponsel.


"Ya nggak gitu, saya kan jadi nggak nyaman"


Tatapan tajamnya langsung membuatku diam tanpa protes. Aku duduk di depan cermin menyisir rambutku yang ternyata basah karena terkena air.


10 menit kemudian kami keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil Miral setelah pamit pada bik Narmi bahwa kami akan makan malam di luar.


Kami berhenti di sebuah kafe yang cukup ramai. Miral turun duluan meninggalkanku begitu saja. Sambil berdecak kesal aku membuka pintu mobil dan keluar. Mengikutinya dari belakang.


Suasana di dalam kafe ternyata lebih tenang, cahayanya sedikit remang-remang. Seorang gadis cantik bernyanyi dengan suara yang indah di atas panggung. Bukankah dia terlihat tidak asing. Apa mirip artis di TV itu? Ah, entahlah.


Kami duduk tak jauh dari panggung. Seorang pelayan datang dan memberikan menu makannan pada kami. Aku tak ingin bingung memilih menu jadi aku pesan makanan yang sama dengan Miral.


Sambil menunggu makannan aku memperhatikan lagi penyanyi di atas panggung itu. Wajahnya terus membuatku penasaran.


"Loe gabung komunitas seni?"


"Eh, iya"


"Kok nggak bilang gue dulu?"


"Saya udah bilang sama mas Adrian"


"Kalau mau tanya sesuatu bilang aja ke gue"


Aku mengangguk. Suasana selalu hening dan aku bingung harus bicara apa kalau bersama Miral.


Di tengah keheningan itulah tiba-tiba seorang wanita cantik datang memeluk Miral dari belakang.


"Al... Loe kok di sini"


Dia wanita yang waktu itu.


"Loe ngapain?" Miral balik bertanya.


"Kayak nggak tahu aja, gue kan biasanya emang nongkrong di sini"


Dia duduk di sebelah kami dan memanggil pelayan, "gabung ya, gue juga belum makan nih. Eh ini siapa?"


Ya ampun dari tadi aku duduk di depannya dia tidak menyadarinya.


"Kenalin ini Nayla, Nay ini Tasya" aku mengulurkan tanganku sambil tersenyum. Wanita bernama Tasya itu menyambut tanganku dengan senyuman hangat. "Temennya Miral ya, tumben Miral ngajak cewek makan, bisanya dia paling anti sama cewek, kecuali gue"


Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dan ingin pulang saja. Apalagi Miral tidak menjelaskan kalau aku ini pacarnya.


"Loe kenapa pakai baju kayak gini sih, kan udah gue bilangin untuk pakai baju yang lebih sopan" Miral mengomel pada Tasya yang memang menggunakan rok pendek. Sementara Tasya malah tertawa.


"Aelah, ini fashion Al. Udah deh nggak usah cerewet. Kayak bapak-bapak aja"


"Terserah"


"Ngambek nih, makin ganteng deh kalau ngambek" Tasya tertawa. Menjawil wajah Miral yang tidak mau menatapnya.


Aku menarik nafas pelan. Tak mau memperhatikan mereka dan memilih untuk menyantap makananku. Rasanya hambar.


"Makan yang banyak" aku menoleh, kupikir Miral bicara padaku tapi ternyata dia masih sibuk dengan Tasya. Mereka tampak serasi sekali. Kenapa tidak pacaran saja. Aku jadi kesal.


"Anterin gue pulang ya nanti"


"Loe kan bisa naik taksi atau suruh pacar loe jemput"


"Nggak mau, gue lagi berantem"


Miral menggela nafas berat.


Akhirnya aku duduk di kursi belakang. Sementara Miral dan Tasya duduk berdampingan di depan. Tasya begitu cerewet, mereka kelihatan sangat akrab walaupun Miral terkesan lebih banyak diam. Aku pasti akan merasa malu dan tidak pantas kalau Tasya tahu aku adalah pacarnya Miral.


Argh... Bodo amat. Aku tidak mau mendengar mereka.

__ADS_1


__ADS_2