Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 38


__ADS_3

Nayla pov


Apa aku salah lihat? Miral sedang duduk di meja makan sambil mendengarkan bu Nia bicara entah apa. Kupikir dia masih berada di apartmen bersama Tasya. Apa yang dia lakukan di sini.


"Nayla, ayo buruan makan malam"


Aku mengangguk dan berjalan kea rah mereka, menggeser kursi di sebelah Miral.


"Kenapa nggak angkat telepon?" tanya Miral. Aku melirik bu Nia, merasa tidak enak bicara dengan Miral di depan ibunya.


"Maaf, saya nggak lihat mas"


"Kenapa pakai mas sih, gue bukan tukang ojek atau tukang cilok yang bisa loe panggil mas"


Bu Nia tertawa mendengar anaknya bicara seperti itu. Sejujurnya itu juga lucu bagiku. Sementara yang ditertawakan hanya diam menahan kesal.


"Udah, ayo makan. Kalau mau ngobrol berduan nanti aja"


Pipiku mendadak panas mendengar perkataan bu Nia. Apa dia tahu soal aku dan Miral ya. Ya ampun.. Aku malu sekali.


Selesai makan aku membantu bik Narmi membereskan meja makan. Sementara Miral hanya duduk di sofa depan tv sambil memainkan ponsel.


"Udah neng, nggak usah ikut cuci piring. Non Nayla belajar aja"


"Nggak apa-apa kok bik"


"Udah neng, pergi aja"


Akhirnya aku keluar dari dapur dan naik ke kamar. Miral sudah tidak ada di sofa, mungkim dia pulang ke apartmennya.


Aku membuka pintu kamar dan langsung menjerit, munutup mulutku. Miral sedang berbaring di ranjangku sambil bermain ponsel.


"Kok kamu di sini?"


"Kenapa emangnya?"


"Ini kan kamar saya"


"Ini rumah orangtua gue, terserah dong gue mau ada di mana. Loe kan cuma numpang"


Aku terdiam, kesal. Untuk ukuran seorang pacar dia sangat kejam. Daripada berdebat aku lebih memilih duduk di sofa mengerjakan tugas kuliahku. Selama mandi tadi, aku sudah memutuskan bahwa aku akan bersikap bodo amat padanya. Tidak peduli dia mau pergi dengan siapa, dekat dengan siapa, aku tidak peduli. Aku akan mengurus hidupku sendiri.


"Loe lagi apa?" selagi aku berpikir untuk menjaga jarak darinya, dia sudah berada tepat di sampingku. Ikut-ikutan membuka bukuku. Aku menggeser badanku dan berpaling darinya. Tapi dasar tidak tahu diri, Miral terus menggangguku. Diputar-putarnya rambutku membuatku tidak bisa konsentrasi. Kesal, aku berbalik untuk marah padanya. Tapi dia tepat berada di depanku dan aku jadi gugup untuk marah.


"Maaf soal yang tadi" katanya lebih dulu.


"Gue cuma sebatas temen sama Tasya"


Aku masih diam. Tidak bilang iya atau tidak.

__ADS_1


"Gue minta maaf, Nay?"


"Gimana kalau kita jalan berdua hari minggu nanti?"


"Terserah" aku akhirnya membuka mulut. Tidak menyangka dia akan mengajakku jalan-jalan. Miral tersenyum, tampak sangat senang. Apa aku membuatnya senang?


"Thanks..."


Keesokan paginya Miral tidak pergi ke kampus. Aku mengetuk pintunya sebelum berangkat. Dia membuka pintu dengan penampilan berantakan.


"Mau berangkat sekarang?"


"Iya, kamu nggak masuk"


Miral menggeleng. Dia memegang ke dua bahuku lalu mencium pipiku. Membuatku kaku seketika


"Semoga hari loe menyenangkan"


"Eh, iya" aku berpaling dan turun ke bawah dengan perasaan tidak karuan.


Aku ingin melompat seperti anak kecil.


Tanpa kusadari aku terus tersenyum dan menutup wajah karena malu.


"Nayla" kuturankan tanganku, gugup dengan panggilan tiba-tiba dari bu Nia.


"Iya buk?"


"Nggak kok buk...."


Bu Nia tersenyum curiga padaku.


"Ayo sini sarapan"


"Pak Rangga nggak sarapan?"


"Suami saya nggak pulang sampai hari kamis nanti, ada kerjaan penting di luar kota"


Aku mengangguk-angguk paham.


"Miral udah bangun?"


"Udah buk" aku tersadar dan menutup mulut. Bodohnya aku.


"Kamu sama Miral ada hubungan spesial ya?"


"Emm, itu..." mana mungkin aku berani mengatakan yang sebenarnya.


"Dulu waktu di kampung, dia juga perhatian banget sama kamu. Kalian pacaran kan"

__ADS_1


Aku menatap bu Nia takut, tapi dia tersenyum lucu sambil menyantap sarapannya. Apa itu artinya dia tidak marah?


"Bu Nia nggak mau marah?"


"Marah kenapa?"


"Karena saya pacaran sama Miral, saya tahu diri untuk sadar kalau saya nggak pantas buat..."


"Sstt.. Saya nggak menilai orang dari status sosial mereka. Saya tahu kamu anak baik" Bu Nia tersenyum hangat, membuatku merasa lebih tenang. Apa semudah ini? Kulihat di tv, orang kaya pasti akan memilih menantu yang kaya juga.


"Saya malah berharap kamu bisa selalu ada buat Miral. Sejak kematian kakaknya dia mengalami tekanan batin yang sangat hebat. Dulunya Miral anak yang penurut, sampai setelah kejadian itu dia jadi anak yang nakal. Saya hampir putus asa karena takut dia salah jalan. Keadaanya mulai membaik setelah ikut ke desa jerami dan ketemu sama kamu. Jadi saya sangat berterima kasih sama kamu"


Aku hanya tersenyum menanggapi cerita Bu Nia.


"Emm.. Bu Nia kenal Tasya?"


"Tasya.. Iya, dia dulu pacarnya marcel"


*****


Tasya pacarnya Marcel? Kakaknya Miral?


Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka bertiga?


"Hay Nay" mendadak mas Adrian muncul di depanku.


"Bikin kaget aja mas" aku mengelus dada, sedikit kesal dengan kebiasaanya mas Adrian.


"Sorry, abisnya loe bikin gemes" dia tertawa, "Miral pasti nggak masuk lagi"


Hari ini cuacanya memang lebih mendung dari kemarin.mungkin nanti siang akan turun hujan. Kalau Miral ada di rumah berarti kemungkinan Tasya tidak akan datang kan. Kuharap begitu.


"Emmm...Nay, gue mau nanya" kata mas Adrian sambil berjalan menjajariku. Kalau dipikir-pikir mas Adrian ini tinggi banget, sedikit lebih tinggi dari Miral.


"Nanya apa mas?"


Dia terdiam, menggaruk belakang lehernya.


"Nggak jadi, kapan-kapan aja. Oh..ya temen loe udah berangkat belom ya?"


"Riana?"


"Iya"


Tumben mas Adrian nanya soal Riana"mungkin bentar lagi mas, dia kalau berangkat selalu mepet"


Mas Adrian malah tertawa mendengar jawabanku.


"Kenapa mas?"

__ADS_1


"Nggak papa, nanti bilangin dia kalau gue cariin. Gue mau cabut dulu karena jam pertama pak Bob"


Apa mas Adrian ada hubungan sama Riana ya? Tapi Riana nggak cerita apapun.


__ADS_2