Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 2


__ADS_3

Admiral (16 tahun)


Dia lari dengan sangat cepat setelah menjelaskan panjang lebar  kemana aku harus pulang.


Aku menunggunya menghilang sambil tertawa. Gadis itu lucu sekali, kenapa juga dia tidak melepas pakaian konyol itu? Bukankah itu berat.


Kurasa tempat ini tidak terlalu buruk, aku bisa menikmati tempat sehijau itu setiap hari sampai aku lulus nanti.


Aku berjalan mengikuti petunjuk gadis tadi.


  "Admiral, kamu dari mana aja?" pertanyaan mama menyambutku sebelum aku benar-benar masuk ke dalam rumah baru kami. Rumah yang sangat sederhana. Dindingnya saja masih terbuat dari bambu.


  "Jalan-jalan ma" aku duduk di kursi, menyandarkan punggungku ke belakang dengan tenang.


  "Bagaimana kalau kamu tersesat, kamu kan nggak tahu tempat ini."


  "Aku ini anakmu ma, aku ini pintar"


  "Kamu ini, cepat mandi sana"


Mama mengusap lembut kepalaku dan masuk ke dalam ruangan yang mungkin kamarnya dan papa.


  "Di mana kamar mandinya, juga pakaianku?"


  "Pakaianmu di kamarmu dan kamar mandi ada di belakang. Dan.. Biasakan dirimu dengan tempat ini"


Aku berjalan ke kamarku yang tak kalah sederhananya. Masih beruntung ada kasurnya, karena aku akan sakit punggung kalau sampai tidak ada. Aku mengambil pakaianku dan juga handuk dari dalam koper lalu keluar, berjalan ke belakang rumah mencari kamar mandi.


Sepertinya aku tidak berani mandi, apa itu yang disebut kamar mandi? Tidak ada pintunya dan dindingnya kenapa rendah sekali. Jika ada orang lewat pasti mereka bisa melihatku.


  "Ma, aku nggak jadi mandi, aku mau cuci muka aja" teriakku kencang.


  "Papa akan memperbaikinya besok, mama juga nggak berani mandi di sana..." kata mama setelah aku selesai cuci muka.


  "Mams harus hati-hati" kataku mengingatkan. Ya maklum, mama kan cantik.


  "Papa kemana?" aku baru sadar tak melihat papa dari tadi.


  "Papa pergi sama pemimpin desa, mungkin sebentar lagi pulang."


  "Ma, ternyata desa ini nggak begitu buruk"


  "Serius?, kemarin kamu bilang kamu mau langsung pulang setelah sampai sini"

__ADS_1


Kemarin aku memang bilang itu pada mama karena awalnya aku memang tidak setuju tinggal di desa terpencil ini.


  "Aku bertemu wanita cantik" kataku sambil tertawa lalu melenggang ke kamarku, terbayang lagi nayla dengan baju jerami kebesarannya yang berlari sangat cepat.


***


Masih pagi sekali, mama sudah membangunkanku katanya aku harus keluar rumah.


  "Mama mengusir aku?" kataku dengan mata masih setengah terpejam.


  "Bangun miral, keluarlah, lari pagi supaya kamu kenal orang-orang di sini" mama menarik tanganku dengan pakda.


  "Aku masih capek ma" jawabku berusaha ambruk lagi ke kasur tapi mama malah menjitak kepalaku sehingga kesadaranku kembali sepenuhnya.


  "Mama, kenapa memukul kepalaku? Ini namanya penganiayaan" kataku protes.


  " keluar sekarang atau mama marah sekarang"


Akhirnya aku keluar rumah setelah mencuci muka. Berjalan mengelilingi desa jerami ini. Orang-orang begitu ramah, menyapaku lebih dulu seperti aku orang yang sangat terhormat.


Aku berlari kecil lalu meregangkan tubuh.


Para ibu-ibu di desa ini sedang pergi ke sungai untuk mencuci, aku memperhatikan mereka sampai kutemukan sosok yang tidak asing.


Aku berlari turun ke sungai. Berjalan pelan mendekati nayla. Dia tampaknya tidak sadar akan kehadiranku karena sibuk mencuci pakaian. Dia rajin sekali.


  "Wingardium leviosa" bisikku lalu meniup kencang telinganya.


Di luar dugaanku, nayla terkejut luar biasa dan bergerak menjauh. Aku meraih tangannya tapi tak cukup kuat. Jadilah kami tercebur bersama ke sungai yang teryata luar biasa dingin di pagi hari. Beruntung sungainya tak begitu dalam, tapi tetap saja kami basah kuyup.


Dan beruntungnya nayla mencuci di tempat yang agak sepi jadi tak ada yang melihat kami, kalau sampai ada, mau ditaruh mana mukaku.


  "Admiral...?" nayla mengusap air di wajahnya. Tampak terkejut melihatku, dan tampak marah juga.


  "Gue nggak niat mau dorong loe, loe kaget dan karena licin gue yang mau nolong malah ikutan jatoh" kujelaskan sebelum ia bertanya.


Tiba-tiba dia terduduk menenggelamkan badannya di air. Sebenarnya aku tahu...


  "Pergi, kalau tidak aku teriak"


  "Okay, maaf ya... Gue bakal nunggu loe di atas, dan gue nggak bakal ngintip"


Aku segera keluar dari sungai. Memukul kepalaku sendiri.

__ADS_1


Ya ampun aku ini bodoh sekali, dia kan hanya memakai sehelai kain di tubuhnya, dia pasti mau mandi sekalian, lalu aku malah menghampirinya dan mengangetkannya, dia pasti berpikir aku mesum.


Aku menghancurkan penilaianya terhadapku.


Dan, kenapa juga dadaku berdebar begini?


Pipiku panas, nafasku jadi tidak beraturan juga.


Aku menggeleng kuat.


Akan lebih baik membayangkan nayla dalam baju jerami kebesarannya.


Setengah jam kemudian, sosok nayla muncul. Dia sudah berpakain lengkap sambil membawa keranjang berisi pakaian yang masih basah, rambutnya pun masih basah.


Kelihatannya dia menghindari tatapanku.


  "Sedang apa kamu pagi-pagi ke sungai?" tanyanya.


  "Emm gue lagi lari pagi, lalu nggak sengaja liat loe, jangan salah paham dulu, gue nggak bermaksud buruk, sumpah" aku menjelaskan lagi detailnya.


  "Untung tidak ada orang lain, kalau sampai ada" dia menatapku dengan tatapan mengerikan, tapi masih terlihat lucu bagiku.


  "Mau gue bantu bawa?" aku menawarkan bantuan.


Nayla menggeleng.


  "Loe nggak sekolah?"


  "Sekolah sedang libur karena baru selesai ujian" jawabnya.


  "Oh ya, katanya loe mau bantuin gue menyukai tempat ini dalam 7 hari" aku mengingatkan ucapannya di ladang ilalang waktu itu.


Nayla menoleh, "tapi aku tidak punya banyak waktu"


  "Dasar penipu" aku mengejeknya.


  "Bagaimana kalau sore hari, jam 3 aku selesai membantu ibu. Kita bisa bertemu di sini" dia kelihatan tak terima aku menyebutnya penipu.


  "Okay, jam 3 ya. Deal" kuulurkan tanganku.


Nayla hanya diam, menatap tanganku seakan tidak paham apa maksudku, atau dia memang tidak paham.


Aku menarik tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


  "Deal"


__ADS_2