Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 29 : Mas Adrian


__ADS_3

Walaupun sudah beberapa kali pergi ke mari, aku masih saja kagum saat berdiri di depan gerbang kampus ini. Rasanya masih tidak percaya bisa kuliah di sini. Padahal 2 bulan yang lalu aku masih membantu ibu di desa, mencuci pakaian di sungai dan pergi ke sawah.


Ini seperti mimpi.


"Hoey..." sebuah lengan besar tiba-tiba melingkar di bahuku.


Terkejut, aku melompat ke belakang dengan mulut terbuka.


"He..he.. Gue bikin kaget ya, maaf" ternyata mas Adrian.


Aku menghembuskan nafas lega.


"Pagi banget berangkatnya, loe dianter siapa?"


"Oh, dianter supir. karena ini hari pertama saya semangat banget. Saya tidur jam 12 malem dan bangun jam 4 pagi saking nggak sabarnya mau kuliah" bahkan bik Narmi tekejut melihat aku sudah di dapur pagi-pagi buta.


"Ha...ha.. Good" mas adrian mengacungkan dua jempolnya padaku "gue dulu pas hari pertama malah bangun kesiangan, udah gitu nggak mandi karena takut telat"


"Ha..ha... Kayaknya mas Adrian emang gitu"


"Tenang aja, hari ini gue mandi kok"


Dia wangi begini, mana mungkin nggak mandi.


"Mas Adrian sendiri kenapa berangkat pagi?"


"Gue harus berangkat pagi tiap hari senin sampai rabu buat ngurusin pameran yang diadakan tiap 3 bulan sekali"


"Serius, ada pameran rutin di sini?"


Mas Adrian mengangguk mantap.


"Loe harus ikut, bisa daftar langsung ke gue. Miral juga ikut, malahan dia selalu dapat job dari pameran itu"


Lukisan-lukisan yang tersebar di lantai apartmen waktu itu memang luar biasa indah.


Kami berbincang dan bercanda selama perjalanan ke kelas. Mas Adrian ini tipe orang yang asyik. Dia suka bercanda dan punya banyak kenalan. Selama perjalanan ke kelas saja entah sudah berapa banyak orang yang menyapanya, terlebih para gadis. Kurasa dia juga populer, apa tidak terlihat aneh jika aku berjalan bersamanya.


"Nay, katanya semangat malah ngelamun" sambil melambaikan tangan di depanku.


"Eh, saya ngelamun?"


"Santai aja, kelas seni itu super nyaman. Nggak usah gugup"


"He..he.. Iya mas"


"Kita pisah di sini ya, sampai ketemu nanti" mas Adrian melambaikan tangannya, dan memberikan jempol plus kedipan mata sebelum pergi.


Bukankah dia mirip Miral dulu.


Miral sekarang galaknya sudah seperti ibu tiri di tv.


"Hoe, Nayla"


Aku berbalik, Riana sedang berlari ke arahku. Hari ini dia memakai jeans dan kaos dengan rambut dicepol seadanya. Dan... sebuah permen di mulut. Meski begitu dia cantik.


"Mau permen" dia menyodorkan permen padaku. Aku menerimanya dengan rasa penasaran.


"Makasih, kamu suka permen?"


"Hari pertama harus diawali denagn yang manis-manis, gitu kata nyokap gue. udah kayak buka puasa aja"


"Ha...ha... Lucu banget ibu kamu" aku ikut menikmati permen rasa coklat itu. Enak...


"Ya gitu deh, Loe tadi sama siapa?"

__ADS_1


"Oh, mas Adrian"


"Ow... Dia terkenal banget lho"


"Beneran?" ternyata dugaanku benar, aku jadi berpikir dua kali untuk dekat dengannya. Tunggu... Aku tidak boleh begitu kan. Aku harus mengubah pola pikirku ini dan berteman dengan siapa saja.


"Kayaknya tu orang suka sama loe, loe mau jadi pacarnya?'


"Hah..." sontak aku terkejut dengan perkataan Riana yang tak berdasar itu.


"Nggak lah, saya mau hidup tenang selama masa kuliah. Cukup belajar dan lulus dengan nilai bagus" aku berkata dengan penuh semangat.


"Ya.. Siapa yang tahu takdir" Riana mengendikan bahunya.


****


"Kantin yuk" begitu bel berbunyi Riana langsung berdiri dari kursinya. Sepanjang pelajaran tadi dia terus mengeluh kelaparan dan hampir mati karena belum sarapan. Dia juga menyalahkan ibunya yang memberinya permen manis, karena hari pertamanya malah lemas begini.


"Saya lagi nggak laper, mau ke perpustakaan aja"


"Yaelah.. Yaudah deh, mau titip, loe bakal kelaperan kalau nggak makan"


"Boleh?"


"mau titip apa?"


"Roti aja"


"Oke..."


Karena terbiasa sendirian, mungkin aku jadi tidak menyukai keramaian. Jadi pilihan yang pas untukku adalah perpustakaan. Lagi pula aku bisa belajar di sana.


Perpustakaan di kampus ini terletak di ujung, berdekatan dengan sebuah taman indah yang kumasukan ke dalam daftar "akan kukunjungi".


Tapi... Itu..


Bukannya itu Miral?


Dia sedang duduk di pojokan, bukan belajar. Sebuah earphone terpasang di telinganya dan dia... sedang tidur.


Dia ke perpustakaan untuk tidur?


Ha..ha.. Lucu.


Aku menaruh tasku di meja dan membuka buku, mempelajari kembali mata kuliah yang disampaikan dosen tadi.


Setengah jam berlalu dalam suasana damai. Kurasa aku bisa ke sini setiap hari untuk belajar. Meraih nilai sempurna dalam semua mata pelajaran.


Tiba-tiba sebuah tiupan menggelitik telingaku. Aku terkejut sampai hampir menjerit dan jatuh ke belakang. Untung aku masih ingat ini perpustakaan.


Sementara Miral hanya tersenyum lalu melirik buku di hadapanku


"Belajar?"


"Hem"


"Mau gue ajarin?"


Aku menatapnya ragu, "nggak makasih"


Miral meletakan kepalanya di meja. Kupikir dia akan tidur lagi, tapi ketika kulirik ternyata dia tidak tidur. Dia sedang menatapku. Aku begerak menjauh sambil berdehem, merasa tidak nyaman sekaligus salah tingkah hanya karena tatapannya. Karena tatapannya kali ini terlihat... Memujiku?


Semakin lama aku makin tidak fokus belajar karena ia terus memperhatikanku. Sebenarnya dia sedang apa? Apa dia sengaja, supaya aku tidak bisa belajar. Aku berdiri dan berpura-pura mencari buku di rak. Kenapa jantungku...?


Bukankah aku sering seperti ini saat bersama Miral?

__ADS_1


Aku melihat jam di hape dan memutuskan akan kembali ke kelas saja. Miral masih berada di tempatnya, namun dengan mata sudah terpejam. Aku mengambil bukuku dengan hati-hati, menatapnya sekilas dan tersenyum.


Apa aku menyukainya sampai tidak bisa berhenti tersenyum meski sudah tak melihatnya?


Sebuah roti dan minuman sudah ada di mejaku saat aku kembali.


"Selamat makan" kata Riana dari sampingku.


"Makasih" kurasa dia akan jadi teman pertamaku.


"Tadi loe dicariin kak Adrian"


"Ada apa?"


"Nggak tahu, dia nggak bilang." Riana mengendikkan bahunya.


Kira-kira ada urusan apa mas Adrian mencariku?


"Kalau dia ngajak loe jalan, terima aja. Rejeki jangan ditolak"


Ternyata mas Adrian memang mencariku. Karena ketika aku baru keluar dari kelas dia sudah menungguku di luar. Beberapa anak memandang kami dengan pandangan penasaran.


"Ada apa mas?"


"Gue mau kasih sesuatu" kami berbincang sambil berjalan.


"Apa?"


Mas Adrian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku.


"Gue baca buku ini pas pertama masuk kuliah. Lumayan buat nambah referensi melukis"


Aku menerima buku itu, membukanya sedikit. Wow...


"Makasih mas, saya bakal pakai buku ini untuk bikin lukisan yang keren banget"


"Ha..ha.. Tunjukim ke gue kalau udah jadi"


"Oh ya mas, saya mau daftar buat ikut pameran rutin"


"Akhirnya, kalau gitu nanti gue urusin. Loe mau pulang?"


Aku mengangguk sambil membuka buku tersebut.


"Mau gue anter?"


"Eh, nggak usah mas. Saya dijemput kok"


"Seriusan? Loe nggak nunggu kayak waktu itu kan?"


Aku mengangguk lagi.


"Oke.. Mmm.. Loe ada waktu nggak besok sepulang kuliah?"


"Hah?"


"Mau makan bareng nggak? Tapi kalau loe sibuk kapan-kapan aja nggak papa"


Makan siang bareng? Kenapa mas Adrian mengajakku? Apa harus kuterima? Tidak ada ruginya juga kan. Riana bilang, rejeki jangan ditolak.


Aku mengangguk sebagai jawabannya.


Mas Adrian terlihat senang dengan jawabanku. Dia bahkan hampir melompat walaupun tidak jadi.


"Besok gue tunggu loe di depan kelas"

__ADS_1


__ADS_2