Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 25 : wingardium leviosa


__ADS_3

Mama dan papa terkejut saat aku datang bersama Nayla yang kakinya pincang. Tidak ketinggalan bik Narmi dan Pak Raden yang mengoceh dengan bahasa daerah mereka yang tidak kupahami.


Setelah itu bisa ditebak, Nayla tidak bisa ikut ospek di hari berikutnya. Satu hal yang kusyukuri, aku senang Adrian tidak punya kesempatan untuk mendekati Nayla.


"Huft..." Adrian menghela nafas. Kami sedang makan siang di kantin setelah acara ospek hari ini.


"Nayla nggak masuk, gue jadi galau"


Galau? Mana ada orang galau habis makan bakso 2 mangkok. Cuma Adrian kayaknya.


"Apa gue jenguk dia aja ya, ntar gue telepon tanya alamat rumahnya.


Gawat... Apa gue harus jujur sekarang.


" Rian?"


Adrian menoleh. Menaikkan sebelah alisnya


"Tumben manggil gue Rian, biasanya ****"


Julukan yang timbul karena cara makannya.


"Gue mau ngomong serius"


Adrian mengubah posisi duduknya yang santai jadi tegak menghapku.


"Serius? Mau ngomong apa semir?"


Kayaknya dia belum serius.


"Kita saingan yuk"


Hening.


"Saingan apaan?"


"Saingan buat ngrebut hatinya Nayla"


****


"Bik, Nayla udah makan?"


Bik Narmi yang sedang menyapu halaman, menoleh begitu mendengar suaraku.


"Eh, mas Miral. Tumben pulang"


Kadang aku heran pada bik Narmi, setiap kali aku pulang ke rumah, dia selalu mengatakan kalimat itu. Padahal ini rumahku juga.


"Nayla udah makan?" aku mengulang pertanyaanku.


"Tadi pagi mas, kata neng Nayla. Nanti kalau laper bakal turun sendiri"


" biar saya anterin makan siangnya. Besok-besok kalau waktunya makan langsung anter ke kamarnya aja.


"Eh, iya mas"


Aku tidak mengetuk pintu kamarnya karena takut dia akan memaksa untuk berjalan dan membuka pintu. Jadi ketika melihatku tiba-tiba masuk ke kamarnya Nayla memasang wajah bodoh, terdiam dengan mulut setengah menganga . ia sedang duduk di atas ranjang sambil memeggang buku.


"Kamu kok di sini?"


"Dilarang?"

__ADS_1


Aku menggeser kursi dan duduk di samping ranjangnya.


"Cuma mau nganterin ini" lalu menaruh nampan dengan semangkuk sup dan nasi di meja sebelahnya.


"Mmm, makasih, tapi saya belum lapar"


"Gue nggak peduli, yang penting sebelum gue keluar makanannnya harus udah habis"


Nayla terdiam sesaat. Tapi aku yakin dia pasti tidak berniat menolaknya. Dia meletakan bukunya dan mengambil nampan itu. Menyuapkan nasi ke mulutnya dalam gerakan cepat.


"Pelan-pelan, gue kan nggak bilang harus cepetan habis.


"Secara nggak langsung, kamu udah maksa saya"


"Terserah, pokoknya lo harus makan siang.


Nayla memperlihatkan wajah cemberutnya, tapi dia menurut dan menghabiskan makanan yang kuantar.


"Ospeknya gimana?" tanyanya setelah minum.


"Lancar"


"Padahal harusnya saya bisa ikut"


"Ngapain, ospek kan bikin capek"


"Kamu emang nggak paham"


"Maksudnya"


Nayla mengabaikanku dan kembali mengambil bukunya. Selama beberapa saat kamar jadi sepi. Aku bersender di kursi sambil sesekali meliriknya. Sebenarnya aku tahu dia pasti menantikan masa ospek ini sejak lama. Dan semua gagal gara-gara aku.


"Loe tahu harry potter nggak?"


Nayla mengankat kepalanya, berhenti membaca.


"Tahu"


"Apaan?"


"Anak yang sekolah di sekolah sihir kan"


"Loe tahu dari mana?"


"Ada yang pernah kasih tahu saya"


"Oh..." aku meggangguk-angguk.


"Siapa?"


Nayla terdiam lagi.


"Orangnya nyebelin banget, jadi saya nggak mau nyebut namanya"


Aku tidak dapat menahan tawa dan tanpa sadar tawaku lepas begitu saja.


"Senyebelin apa emang?"


Nayla tidak menjawab, wajahnya makin cemberut. Dia kembali menekuni bukunya meski aku yakin dia tidak membacanya.


Ternyata dia masih sama....

__ADS_1


"Gue mau balik ke kampus"


"Terserah"


"Loe mau denger sesuatu nggak?"


"Nggak"


Aku berdiri, tapi tidak beranjak dari tempatku. Sebelah tanganku memegang


Sisi ranjang. Sudah pasti Nyala langsung menatapku penuh tanya, kepalanya mundur menjauhiku.


Aku hanya tersenyum tipis, membungkuk perlahan dan...


"Wingardium leviosa, gadis jerami, loe nggak berubah ya...." bisikku di telinganya.


****


"Kenang-kenangan"


Aku ingat, setelah ciuman itu tubuhku terasa membeku dan lemas secara bersamaan. Perasaan asing yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, bahkan jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Aku menatap Miral yang tersenyum dari jarak dekat di hadapanku.


"Itu--maksudnya apa?" tanya ku terbata. Ciuman bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. Lalu kenapa Miral melakukannya padaku?


"Menurut loe?"


Aku tidak bisa menjawab.


"Kalau gue bilang karena suka... Gimana?"


Suka? Suka yang seperti apa?


"Mungkin loe nggak bakalan percaya, tapi tiap kali deket loe, di sini" dia memegang dadanya, "rasanya deg-deg'an terus. Loe bikin gue senyum tanpa alasan"


Aku tetap tidak bisa berkata-kata. Mendadak Senyum Miral hilang.


"Sorry" tiba-tiba dia menjauh, "mungkin gue lancang dan terlalu egois. Loe pasti marah"


Tapi aku tidak marah, aku merasa jantungku juga berdetak tidak karuan dan ingin tersenyum tanpa alasan.


Kembali ke waktu sekarang...


"Wingardium leviosa, gadis jerami loe nggak berubah ya"


Miral meniup telingaku. Seperti waktu itu aku tidak bisa berkata-kata. Ketika dia berdiri tegak, aku hanya menatapnya yang sedang tersenyum tipis.


"Gue pergi dulu"


Sampai pintu tertutup aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Apa itu mimpi?


Kenapa tiba-tiba dia malakukan hal itu.


Bukankah selama ini dia lupa padaku?


Apa aku sedang dipermainkan?


Apa yang sebenarnya terjadi?


Argh... Aku kesal sendiri jadinya.


Aku melempar buku yang kubaca dan merebahkan diri di ranjang. Memandang langit-langit kamar sambil mengingat perkataannya tadi. Kenapa aku jadi malu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2