
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku masih duduk di depan cermin. Sekali lagi merapikan rambutku yang sebenarnya sudah rapi. Hari ini aku memakai celana jeans dan kaos.
Sebenarnya aku ingin memakai baju yang kupakai saat malam keakraban waktu itu, tapi mengingat Bu Nia ada di rumah, nanti dia pasti akan bertanya macam-macam. Walaupun dia sudah tahu hubungan kami, tetap saja aku masih malu untuk membahasnya.
Aku melihat jam tanganku, pukul setengah 7 pagi. Kemarin Miral bilang kami akan berangkat sebelum jam 7 karena tempat yang ingin dia tunjukan cukup jauh letaknya. Apa ada di luar kota, entahlah, Miral tidak menjelaskan lebih jauh.
Semalam, aku sempat menelpon Riana untuk meminta pendapatnya. Aku masih sangat buta tentang hubungan pacaran. Maklum saja, selama 20 tahun lebih aku tinggal di desa dan hanya mengurus dapur dan kebun. Tidak ada waktu untuk pacaran.
Riana tertawa meledekku, saat kubilang aku sangat gugup. Dia bahkan mengataiku seperti bocah SD. Padahal aku tahu, Riana juga tidak punya pacar.
"Udah, percaya aja sama gue. Gini-gini, gue ahli dalam hal percintaan" katanya di seberang telepon.
"Jadi yang penting saya harus tenang, nggak boleh gugup, dan tatap matanya waktu lagi ngobrol?" aku mengulang semua tips dari Riana dengan suara pelan. Karena takut ada yang mendengar aku bertelepon di dalam kamar mandi.
"Ho,oh. Pokoknya tatap matanya, senyum yang manis tapi jangan sok cantik"
"Gimana sih, saya nggak paham"
"Masak kudu diulang. Ingat ya Nay, cowok suka cewek yang imut. Jadi senyum yang manis aja. Trus jangan jaga jarak, duduknya dempetan"
"Ngapain, jakarta kan panas, yang ada malah gerah"
"Haduh... Udah deh nurut aja. Ingat tatap matanya. Gue tutup sekarang ya. Ada urusan"
__ADS_1
"Eh, tapi belom selesai"
"Nurut aja apa kata gue, bye" telepon ditutup.
Aku menarik nafas beberapa kali sebelum mengambil tas kecilku dan keluar dari kamar. Tepat saat pintu kubuka, Miral Sudah berdiri di depan kamarku. Satu tangannya terangkat, mungkin dia tadi mau mengetuk pintu.
"Udah siap?"
Aku mengangguk.
Kami turun ke bawah bersamaan. Di meja makan Bu nia dan pak Rangga sudah duduk. Semalam pak Rangga baru tiba di rumah.
"Ma, Pa. Kami nggak ikut sarapan, keburu telat"
"Kalian mau kencan" kata bu Nia tanpa tedeng aling-aling.
"Miral. Kamu beneran nggak papa kan" Bu Nia bertanya.
Miral mengangguk.
Aku sempat menanyakan kondisinya semalam. Apa dia tidak apa-apa kalau pergi ketika cuaca tidak cerah? Dan Miral bilang dia baik-baik aja.
Setelah pamit sambil cipika-cipiki kami benar-benar keluar rumah. Langit hari minggu ini sedikit lebih cerah dari kemarin. Aku berharap langitnya akan tetap seperti ini sampai kami pulang.
__ADS_1
Kami mampir sebentar di minimarket dan membeli roti untuk sarapan, juga beberapa cemilan.
"Kita mau ke mana?"
"Rahasia"
"Ke luar kota?"
"Rahasia Nay"
"Tapi saya penasaran"
"Bukan kejutan namanya kalau gue kasih tahu sekarang"
Ah, benar juga. Tapi aku begitu penasaran karena jalan yang kami lalui semakin lama semakin sepi. Memasuki area tanpa bangunan, pohon-pohon mulai terlihat di tepian jalan.
"Oh... Kita mau ke pegunungan" aku menebak dengan yakin.
"Liat aja nanti"
Aku membuka jendela. Udara dingin langsung masuk ke dalam mobil, namun terasa nyaman dan segar menerpa wajahku. Sudah lama aku tidak menghirup udara sesegar ini. Jakarta terlalu ramai dan penuh polusi. Aku memejamkan mata, jadi teringat masa-masa saat masih tinggal di desa. Setiap pagi aku akan pergi ke sungai dan mencuci baju, setelah itu aku memasak dan pergi ke kebun. Jika tidak ada pekerjaan lagi aku akan datang ke tempat bu Nia dan pak Rangga untuk membantu.
"Jaga diri baik-baik ya Nay. Jangan ngerepotin Bu Nia sama pak Rangga. Kamu harus tahu diri. Yang rajin di sana" pesan ibu malam sebelum aku berangkat ke kota. Aku yang biasanya tidur sendiri, malam itu tidur bersama ibu sambil memeluknya. Terasa berat meninggalkan ibu di desa, tapi aku meyakinkan diri bahwa aku ingin membahagiakan ibu dengan menjadi orang yang sukses.
__ADS_1
Sejak kematian Bapak, ibu bersumpah tidak akan menikah lagi dan mengurusku sendiri. Dia bekerja keras untuk menyekolahkanku sampai SMK. Jadi ketika aku mendapat tawaran untuk sekolah gratis dari Bu Nia, aku tidak bisa melewatkan kesempatan itu.
"Jangan lupa makan yang teratur, kalau kamu sakit ibuk pasti kepikiran terus" tangan hangat ibu membelai rambutku. Mengantarkanku dalam tidur nyenyak dan panjang. Aku bermimpi indah malam itu.