Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 27 : Ciuman?


__ADS_3

Aku mencium gelas bekas Nayla minum. Alkohol?


"Nay loe... Mabuk?"


Nayla memegang kepalanya, "kok saya pusing ya? Mabuk? Ya ampun saya belum nyunyi baju tadi..." dia masih saja bicara tidak jelas.


"Gue anterin pulang" aku berniat menariknya. Tapi Nayla malah ambruk di bahuku.


"Kayaknya saya salah minum, itu apa sih? "


"Siapa yang kasih loe minuman itu?'


"Nggak ada, kalau dilihat-lihat kalian berdua memang cocok" dia menyatukan kedua telunjuknya di depan wajah. Siapa yang dia bicarakan? Tasya?


"Aduh, saya ngomong apaan ya?"


Setelah itu Nyala tidak sadar, aku berdecak kesal. Darimana Nayla dapat alkohol, bukannya itu dilarang di acara ini. Nggak mungkin Adrian, trus siapa?


"Nay?" Nayla bergumam pelan. Sepertinya dia tidak akan sadar sampai besok pagi.


Aku tidak bisa juga membiarkannya di sini. Susah payah aku memapahnya keluar dari ruangan itu. Nayla terus mengoceh tidak jelas. Mulai dari cuciannya yang belum kering, kumis pak Raden yang makin tebal, sampai lagu yang dinyayikan bik Narmi tiap pagi.


Sejujurnya aku ingin tertawa mendengar semua itu. Aku membawanya ke mobil. Lalu selanjutnya apa? Kalau aku mengantarnya pulang dalam keadaan seperti ini...


"Miral, anak gadis orang kamu apaain.. Bla..bla..bla..bla..bla..bla..bla"


Aku tidak mau mendengar ocehan mama, lagipula Nayla juga pasti akan malu. Aku menoleh ke samping. Memperhatikan Nayla yang masih tidak sadar. Hari ini aku terkejut melihatnya berdandan.


Apa aku bawa ke apartmen saja?


Aku mengambil tasnya, mencari hp miliknya dan menulis pesan untuk mama


Terkirim


Aku menghela nafas, memasangkan sabuk pengaman Nayla. Kalau dilihat dari dekat begini...


Tiba-tiba dia membuka mata.


Aku masih dalam posisiku, kira-kira apa dia akan teriak. Nayla hanya berkedip, apa yang dia pikirkan?


Cup


"Kenang-kenangan"


Puk-puk, ditepuknya pipiku.


****


Aaaa....


"Mimpi...mimpi... Pasti mimpi" aku menutup wajahku yang memerah karena malu. Mimpi macam apa itu? Kenapa aku mencium Miral dalam mimpiku? Aku pasti sudah gila.


Aku jadi malu.


Tunggu dulu... Ini... Di mana?


Aku mengintip dari balik jemariku. Ruangan ini bukan kamarku? Hal terakhir yang kuingat adalah aku sedang berada di kampus menghadiri malam keakraban. Lalu Miral Datang, lalu, kepalaku jadi terasa pusing, lalu...lalu.. Aku tidak ingat.

__ADS_1


Aku menutup wajahku lagi.


Mungkin aku masih bermimpi.


Buka mata dalam hitungan ke tiga


Satu, dua, tiga,


Ini masih bukan kamarku. Aku di mana? Aku menoleh ke kanan dan ke kiri dan betapa terkejutnya aku saat menemukan seseorang tidur di sampingku. Satu kasur denganku?


Aaa..


Bruak.. Pantatku rasanya sakit sekali. Itu siapa?


Apa yang sudah terjadi padaku. Aku mengamati pakaianku. Masih lengkap, tidak ada yang terjadi kan...


"Berisik"


Eh, aku melirik ke atas ranjang. Miral?


"Bisa diem nggak sih, gue masih ngantuk" ucapnya dengan mata masih terpejam.


Ini kamar miral?


Ada perasaan sedikit lega, tapi tetap saja aku terkejut dengan kejadian ini. Semalam kami tidur seranjang? Itukah yang menyebabkan mimpi tadi? Aku mau menghilang sekarang juga, kalau dia tahu mimpiku bagaimana? Ah, tidak mungkin....


Perutku terasa mual. Aku mencari pintu kamar mandi dan muntah-muntah. Semalam aku minum minumannya Riana. Minuman apa itu? Aku jadi lemas begini. Aku bersender di pintu kamar mandi sambil memeggangi kepalaku yang masih agak pusing. Setelah merasa lebih baik aku mencuci muka dan pergi mencari hapeku.


35 panggilan tak terjawab dari Bu nia dan ada pesan juga dari Mas Adrian.


Aku segera menelfon bu Nia.


"Halo Nayla" telfon diangkat begitu cepat.


"Halo bu Nia"


"Kamu di mana sayang, ibu khawatir banget. Kamu nggak bisa dihubungi trus kemarin kamu kirim pesan yang malah bikin saya cemas. Kamu nggak apa-apa kan"


Pesan?


"Nayla nggak papa kok bu" aku mengecek pesan di hapeku.


Tante, Nayla malam ini tidur di rumah temen


Hah... Aku tidak mengirim pesan ini.


"Nayla, halo, kamu di mana?"


"Iya, Nayla di rumah temen bu. Nanti Nayla bakalan pulang. Maaf udah bikin ibu Nia khawatir. Kemarin Nayla ketiduran"


"Ya udah, cepetan pulang ya"


Aku menatap Miral yang masih tidur tengkurap di atas ranjang.


Apa dia yang mengirim pedan itu?


Bodoh sekali...

__ADS_1


Sejak kapan aku memanggil bu Nia tante?


Dia harus menjelaskannya padaku nanti.


Aku membuka pesan dari mas Adrian


Nay, loe udah pulang? Sorry saking sibuknya gue nggak bisa nemenin


Ternyata dia masih memikirkanku.


Aku pergi ke dapur dan membuka kulkas. merasa miris melihat kulkas mahal itu hanya berisi beberapa botol air dan makanan instan. Si Miral itu pasti hidup tidak sehat.


Baru saja aku mau meneguk air, tiba-tiba botol itu direbut dari tanganku.


Aku ingin protes tapi tidak jadi karena bagaimanapun juga ini bukan rumahku. Jadi aku hanya berdiri memandanginya dengan tampang orang kehausan.


Setelah puas dia melemparkan botol itu padaku. Lalu berjalan ke kamar mandi.


Aku mengepalkan tangan karena kesal. Sungguh, aku ingin menarik rambutnya karena sampai ia menjerit minta ampun.


Huft... Tarik nafas, aku tidak boleh emosi di pagi hari.


"Dasar" meneguk air sambil membuat gerakan meninju. Setidaknya aku bisa membayangkannya.


"Kamu harus kasih penjelasan" kataku begitu ia keluar dari kamar mandi.


"Penjelasan apa?"


"Itu, kenapa saya bisa ada di sini?" ternyata bersikap kasar pada miral itu membuatku takut sendiri.


Dia melangkah ke arahku.


"Pikir aja sendiri, siapa yang mabuk semalam" lalu dia menghilang ke kamar.


Mabuk? Aku? Rasanya tidak mungkin. Aku berdiri di depan kamarnya.


"Saya nggak mungkin mabuk, kamu pasti bohong. Semalam saya cuma pus...." aku menutup mulutku karena pintu yang terbuka tiba-tiba dan Miral berdiri menjulang di depanku. Lagi-lagi dia menatapku dengan tatapan tajamnya ya g seperti pisau itu.


"Loe..."


Dia maju, aku mundur.


"Semalem minum alkohol"


Maju lagi, mundur lagi.


"Muntah di baju gue"


Maju terus, mundur terus.


"Ngoceh nggak jelas dan yang paling parah..."


Aku sudah terpojok di tembok. Menyesal sudah minta penjelasan padanya. Harusnya aku tadi diam saja dan minta diantar pulang. Melihat Miral yang marah dari jarak sedekat ini, rasanya lututnya sudah mau patah.


"Jangan minum alkohol lagi"


Aku menghemskan nafas begitu dia pergi. Lega, tanpa sadar aku menahan nafas sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2