
Bab. 21
"Stop ....! Jangan mulai lagi!" pekik Gina menahan bahu Naka agar tidak mendekat lagi ke arahnya. "Cukup main-mainnya. Iya iya, aku turun sekarang." imbuh Gina dengan nada menyerah. Tidak lagi memancing pria yang cukup berbahaya ini.
Secepat kilat, Gina langsung membuka pintu di sampingnya saat mendapat kesempatan. Keluar dari sana, meninggalkan pria mesum yang saat ini justru tersenyum ke arahnya.
"Ck! Nyeremin banget lama-lama ini orang. Bahaya bahaya bahaya." dumel Gina menggelengkan kepala samar. Bisa-bisanya dirinya terperangkap oleh pria yang memiliki dua kepribadian.
Naka sendiri tersenyum tipis melihat Gina yang seperti itu. Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya ketagihan menjahili Gina. Lebih lagi ekspresi gadis itu yang membuat Naka selalu betah menatapnya.
"Ternyata seperti ini memiliki rasa itu," gumam Naka seraya melihat ke bawah. "Sudah lama sekali kamu nggak sadar. Aku pikir kamu memang sudah tidak berguna lagi. Seperti apa yang dia katakan dulu," ucap Naka kemudian dengan pandangan matanya yang mengarah ke miliknya sendiri. Tatapan mata itu terlihat sendu. Seperti menyiratkan sebuah rasa sakit yang lama tertahan. Mengingatnya saja membuat dada Naka sesak seketika.
Semua itu berawal dari dua pulub tahun yang lalu. Di mana Naka masih berusia delapan tahun dan pada saat itu dia dititipkan di rumah neneknya oleh orang tuanya. Sebab kedua orang tuanya bekerja di luar negeri, demi merintis perusahaan mereka di sana. Keadaan mereka juga tidak memungkinkan untuk membawa Naka kecil pada saat itu. Sehingga dengan terpaksa Naka hidup terpisah dengan kedua orang tuanya.
Naka pikir dirinya akan aman tinggal bersama kakek dan neneknya. Akan tetapi itu salah. Sebab ada bibi, kakak dari ayahnya yang juga tinggal bersama kakek dan neneknya. Bibi Kasih—kakak dari ayah Naka, memiliki sebuah gangguan mental yang menyebabkan hidup Naka tidak aman di sana.
Beberapa kali Naka mendapat pelecehan seksual dari bibinya yang menderita gangguan mental, karena batal menikah dengan kekasihnya yang memilih kabur. Bibi Kasih yabg sangat mencintai kekasihnya itu pun melampiaskan amarah serta ketidak percayaan nya terhadap seorang laki-laki, kepada Naka.
Berulang kali Naka mendapat pukulan, cubitan, dan bahkan peleceh4n yang dilakukan oleh bibinya. Sempat juga Naka selalu diminta untuk memuaskan wanita itu, dan barang milik Naka kecil pun habis dimainkan oleh nya.
Tidak ada yang tahu mengenai kejadian tersebut. Karena bibi Kasih selalu mengancam Naka, kalau sampai dia membuka suara, maka bibi Kasih akan membunuh mami nya. Tentu, Naka kecil yang masih belum mempunyai kuasa dan kekuatan, hanya bisa menurut.
Oleh sebab itu Naka tumbuh besar dengan rasa penuh benci kepada perempuan, kecuali kepada mami, nenek, dan adiknya. Dia juga tidak memiliki rasa ketertarikan kepada makhluk indah tersebut.
Hingga Naka mulai dewasa dan mengenal Gibran serta Irham yang sangat melenceng sekali dari segi wajah mereka. Kelihatannya saja baik dan polos. Tetapi di balik itu semua mereka sangatlah ahli dalam bidang anu. Terlebih lagi Gibran yang memang pekerjaannya di dunia pertelevisian. Sehingga banyak artis yang mendekati pria itu.
Naka juga berhasil memasukkan bibinya ke rumah sakit jiwa, agar bibinya tidak menyakiti orang di sekitar dan menjadikan seperti dirinya.
__ADS_1
Perlahan Naka mulai tidak membenci seorang wanita, karena dua sahabatnya itu menunjukkan bahwa tidak semua wanita seperti itu. Bahkan mereka kaum yang membutuhkan perlindungan.
Meskipun sudah tidak membenci wanita, bukan berarti sangat mudah bagi Naka untuk membuka pertemanan atau hubungan dengan lawan jenis. Ternyata masih ada satu hal yang membutuhkan perhatian ekstra. Sampai-sampai Naka pernah pergi ke dokter tanpa sepengetahuan keluarga dan sahabatnya. Benar saja, miliknya tetap tidak merespon pada keindahan wanita, jika saja Naka tidak berniat membuka hatinya pada sosok wanita itu.
Dan belakangan ini dirinya menemukan sosok wanita unik dan menantang menurutnya. Setelah diberitahu oleh Gibran mengenai wanita itu, Naka semakin mencaritahunya sendiri. Semakin penasaran dan pada akhirnya ia berhasil menjerat wanita itu dalam sebuah kontrak. Meskipun tetap realistis, jika ada sebuah timbal balik dari apa yang diinginkan oleh Naka dan tentu saja uang sebesar itu bukanlah masalah bagi Naka.
***
"Jangan yang itu! Terlalu mencolok warnya." tolak Gina ketika Naka menyuruh gadis itu mencoba kebaya berwarna merah.
Naka mengerutkan kening. "Bukanya semua baju dinasmu berwarna merah? Lalu apa salahnya memakai kebaya dengan warna ini?"
Pertanyaan Naka barusan mendapat lirikan sinis serta omelan tanpa suara dari Gina.
"Mana ada wisuda makai kebaya warna merah. Emangnya mau nikahan apa." Gina tidak berhenti menggerutui sikap Naka yang sedari tadi selalu ikut campur, namun tidak pernah benar sedikit pun.
"Kalau ini?" tanya pria itu sambil menunjukkan kebaya berwarna biru tua yang ada di tangannya saat ini.
Kalau untuk warnanya mungkin tidak masalah bagi Gina. Hanya saja modelan kebaya tahun delapan puluhan itu sangatlah tidak cocok untuk dirinya yang merupakan kau milenial. Belum lagi ada pernik bunga berwarna merah di dada sebelah kiri.
Rasa-rasanya ingin sekali Gina meng-hap pria menyebalkan itu.
Tidak mau emosinya semakin meningkat, Gina menghampiri Naka yang terlihat melihat model kebaya yang lain. Sedangkan pegawai butik yang mengikuti mereka berdua sedari tadi, mencoba untuk menahan tawa mereka. Mungkin takut dibilang tidak sopan jika mereka sampai menertawakan sikap Naka dan Gina yang tidak akur dari awal masuk ke sini.
"Udah deh. Mas Naka itu diam saja. Mending Mas duduk di sini, oke!" perintah Gina sambil menarik lengan Naka dan menekannya agar duduk di sofa panjang yang terletak di sisi ruangan.
Naka tersenyum tipis melihat Gina yang uring-uringan dengan sikapnya. Ia memang sengaja. Agar gadis itu lebih menatap ke arahnya. Bisa dikatakan Naka haus akan perhatian atau apalah. Terserah. Yang jelas, Naka senang ditatap dan di perhatikan seperti ini oleh Gina. Meskipun tatapan gadis itu agak lain, karena bercampur kesal serta dongkol.
__ADS_1
"Jangan ikuti aku lagi." ingat Gina yang kemudian berbalik badan dan akan memilih gaun yang pas untuknya.
Sebenarnya Gina sangat terpaksa masuk ke butik yang berada di lantai sepuluh di gedung mall ini. Tetapi Gina sedikit ngeri kalau kalau pria itu benar-benar akan membuktikan mengenai ancamannya terhadap dirinya.
Naka menarik tangan Gina sehingga gadis itu mengurungkan niat untuk melangkah.
"Apa?" sewot Gina yang sudah terkikis begitu tipis kesabaran yang dia miliki untuk Naka. Lama-lama pria ini tidak hanya mengerikan, tetapi juga sangat sangat sangat menjengkelkan.
Naka memajukan bibirnya samar, namun masih terlihat jelas di mata Gina. Gadis itu langsung paham dengan maksud Naka.
Bukan Gina namanya jika dia menurut tanpa melakukan perlawanan pada lawannya.
Gina tersenyum, membuat Naka juga tersenyum. Karena pria itu pikir jika Gina akan merespon candaannya. Untung kalau memang dikasih. Tidak masalah jika gadis itu menolak. Dia hanya senang menggoda Gina. Aneh jika gadis itu terlihat diam dan tidak mencak-mencak seperti biasa.
"Mau cium?" tanya Gina. Senyuman manis masih mengembang di bibir gadis itu.
Lebih lagi posisi Gina yang berdiri di depan Naka, terlihat sangat seksi. Meskipun pada faktanya gadis itu memakai baju tertutup. Hanya saja memang lekuk tubuhnya terlihat begitu jelas. Celana jeans panjang ketat berwana biru, dipadukan dengan baju rajut yang ukurannya sangat pas dan menempel di badan Gina. Sehingga membuat dua benda yang semalam Naka mainkan tanpa sepengetahuan si pemilik itu sungguh menggodanya sekarang. Kalau saja dia tidak memperhatikan nama besarnya, mungkin Naka sudah meremas dua bulatan itu yang terpampang nyata di hadapannya.
Naka berniat berdiri dan ingin mengajak Gina ke ruang ganti. Lumayan lah bisa mencicipinya sebentar sebelum dirinya berangkat ke kantor. Pikir Naka.
Sekali lagi. Realita tidak selalu indah dan sempurna seperti ekspetasi yang ada di otak mesumnya sekarang.
Betapa tidak. Gina dengan senyuman manisnya, gadis itu menempelkan ujung telapak tangannya di bibirnya, lalu menempelkan ke bibir Naka.
"Udah, kan?" ujar Gina penuh senyum kemenangan di saat melihat Naka yang tidak jadi beranjak. Bahkan wajah pria itu menampilkan seolah ketidakpercayaan. "Sekarang diem. Jangan nakal lagi."
Tanpa rasa bersalah, Gina kemudian meninggalkan Naka yang masih terkejut dengan tindakannya barusan. Sedangkan gadis itu kembali memilih kebaya untuk acara besok.
__ADS_1
Naka mengusap bibirnya dengan senyuman tipis di sana. Tatapan matanya penuh arti mengarah ke arah Gina.