
Bab. 22
Gina lebih suka memilih baju sendiri, dari pada diikuti oleh orang seperti ini. Rasa-rasanya kurang nyaman dan tidak bisa leluasa. Sebab baru menyentuh barang yang ada di hadapannya, sudah dijelaskan detailnya.
Seharusnya itu membantunya untuk mempermudah dirinya mengetahui kualitas bahan yang sedang ada di depannya. Namun, mungkin karena Gina tidak terbiasa dan lebih seringnya belanja di toko baju tanpa diikuti oleh beberapa orang seperti ini. Sehingga Gina hanya kurang terbiasa saja. Juga dirinya kurang mengerti nama bahan yang di jelaskan. Sebab selama ini ia membeli baju maupun gaun, yang terpenting nyaman di tubuhnya. Dan yang lebih penting lagi ialah harga harus ramah dikantong. Tidak seperti barang yang ada di tangannya saat ini.
'Gila! Begini doang dua puluh lima juta!' batin Gina menjerit.
Uang segitu, bagi Gina sudah bisa mengganti motor maticnya yang sudah usang itu dengan yang baru. Tidak hanya mendapat baju saja, melainkan motor baru. Argh ... rasanya ingin sekali Gina meminta uangnya saja dari Naka dan dirinya akan membeli kebaya di tanah abang. Lumayan kan masih mendapat kembalian buanyak. Pikir Gina.
"Ambil saja kalau cocok," ujar Naka di tempatnya.
Gina menoleh ke belakang lalu melempar senyuman terpaksa. Tidak rela jika uang segitu banyaknya hanya mendapat sepotong kebaya yang ada di tangannya sekarang.
Memang, rasanya tuh berbeda. Lebih lembut dan warnanya juga soft. Gina suka. Tetapi harganya yang membuat Gina tidak menyukai barang tersebut. Bikin ngeri.
"Mas," panggil Gina lirih lalu mendudukkan pantatnya di sofa dan di sebelah Naka persis.
Tentu saja tindakan Gina yang berubah sedikit manis ini, membuat Naka melayangkan tatapan penuh curiga. Pasti ada sesuatu yang dia inginkan darinya.
"Kenapa?"
Gina tidak serta merta langsung mengungkapkan apa yang ingin fia katakan kepada Naka. Gadis itu hanya tersenyum canggung, di tambah lagi pergerakannya selalu tidak lepas dari tatapan pegawai butik yang mengikuti dirinya sedari tadi. Ya meskipun mereka menjaga jarak. Hanya saja Gina tidak enak hati ingin menyampaikan pendapatnya pada Naka.
Gina menggeser tempat duduknya hingga menempel pada Naka. Membuat Naka mengerutkan keningnya. Apa lagi yang akan dilakukan gadis ini. Batin Naka. Sebab tidak sampai berhenti di situ saja, Gina bahkan mendekatkan wajahnya ke arah Naka.
Naka menoleh ke arah Gina. "Kalau mau menciumku, jangan di sini. Banyak orang," ucap Naka memperingati seraya berbisik. Menggoda Gina yang tiba-tiba saja beringkah aneh.
Plak!
Gina memukul lengan Naka serta melirik sinis ke arah Naka.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, jangan berpikiran anu dulu, Mas!" kesalnya dengan bibir manyun. Di saat dirinya ingin berbicara serius, tetapi Naka justru bercanda dengan dirinya.
Naka terkekeh dengan kekesalan Gina kepada dirinya.
"Ya lagian kamunya yang mencurigai," balas Naka.
"Mencurigakan, Mas!" ralat Gina dengan nada geram.
Kalau boleh, ingin juga memukul kepalanya. Tetapi takut jika uang lima miliyarnya itu melayang sia-sia san malah dirinya dituntut. Ah, tentu Gina tidak akan bertindak gegabah seperti itu. Ia harus bertahan sebelum uangnya benar-benar bertambah ke rekeningnya.
Gina menjauhkan diri, namun Naka segera merangkul bahu Gina sehingga posisi mereka sama seperti sebelumnya.
"Ada apa? Hmm?" Naka tidak lagi menggoda gadis yang sekarang inj ada di rengkuhannya. Bisa-bisa dia akan terlambat datang ke pertemuan di kantor.
Gina langsung menunjukkan kebaya yang dia pegang. Lebih tepatnya menunjukkan harga yang dibandrol pada kebaya tersebut.
"Nih," tunjuk Gina seraya berusaha untuk keluar dari rengkuhan Naka. Sedikit kurang nyaman dilihat oleh orang banyak seperti sekarang.
"Suka sih. Tapi ini nya loh, Mas. Kemahalan buanget." bisik Gina begitu dekat dengan wajah Naka.
"Pas nggak ukurannya? Atau mau dicoba?" tanya Naka, yang lagi lagi mengalihkan perhatian Gina. Berpura-pura seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Gina.
"Kemahalen, Mas. Kita beli di tempat lain aja, ya?" tawar Gina yang mencoba memperjelas maksudnya. Tentu dengan nada lirih agar tidak terdengar oleh penjaga butik yang masih setia menunggu dirinya.
Naka beranjak dari tempatnya. Kemudian pria itu menarik tangan Gina hingga membuat Gina berdiri sejajar dengannya. Naka pun mendorong Gina menuju tempat ganti bagi pelanggan butik ini. Sontak, beberapa pegawai butik pun langsung dengan sigap membukakan tirai ruang ganti untuk Gina. Seolah tahu apa yang dimaksud oleh pria yang berpenampilan sangat tampan tersebut.
Sementara Gina terlihat seolah sangat berat sekali untuk melangkah masuk ke ruang ganti. Meskipun hanya mencobanya saja. Namun Gina merasa seolah sangat sayang sekali jika uang segitu hanya dapat sepotong kebaya di tangannya sekarang ini.
"Mas," rengek Gina memberi isyarat kepada Naka. Akan tetapi Naka justru menyuruh dirinya untuk segera masuk dengan dagunya.
Gina mendengkus kesal pada pria yang tidak pro dengan dirinya. Akhirnya gadis itu pun masuk ke ruang ganti tersebut. Sedangkan Naka kembali duduk di kursi yang ada di dekat ruang ganti.
__ADS_1
Di dalam ruang ganti, Gina mulai melepas bajunya satu per satu dan menggantinya dengan kebaya yang ternyata sangat pas sekali di tubuhnya. Namun sayang, zipernya terletak di bagian belakang dan hak iur membuat Gina sedikit kesulitan untuk menariknya.
"Mbak ... bisa minta tolong sebentar!" panggil Gina dari dalam ruang ganti.
Sedangkan beberapa pegawai butik yang berdiri di luar ruang, pun dengan sigap ingin membantu. Akan tetapi segera dicegah oleh Naka. Pria itu mengangkat tangannya, memberi isyarat pada mereka dan menyuruhnya pergi dari sana. Meskipun mendapat tatapan segan dan tidak enak dari mereka, tetapi pada akhirnya mereka pergi juga.
"Mbak!" panggil Gina lagi. Karena tidak ada yang masuk dan membantu dirinya.
Setelah tidak ada orang yang ada di sana, Naka beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya menuju ruang yang di dalamnya Gina sedang membutuhkan pertolongan untuk menarik ziper pada kebaya yang dia coba sekarang ini.
"Haish! Kemana sih mereka!" lama-lama Gina kesal juga karena tidak ada yang datang menemui dirinya.
Srek!
Tidak lama kemudian Gina mendengar sebuah gorden yang di buka hingga menimbulkan suara.
"Kenapa lama banget sih, Mbak? Udah pegal ini bahu aku gini terus." protes Gina tidak melihat siapa yang masuk ke dalam ruang ganti tersebut.
Tidak ada sahutan dan iru membuat Gina semakin gemas saja dengan sikap pegawai butik yang ternyata pelayanannya tidak memuaskan sama sekali.
"Kok lelet banget sih, Mbak! Aku kasih bintang satu nih ntar!" ancam Gina tanpa menoleh ke belakang ketika merasakan sebuah sentuhan di permukaan kulit punggungnya.
Sedangkan orang yang berdiri di belakang Gina, menarik sudut bibirnya ke atas di kala melihat betapa mulusnya permukaan kulit punggung gadis di hadapannya sekarang ini.
Bukannya segera membantu menarikkan ziper ke atas, orang yang berada di belakang Gina yang tak lain ialah Naka, justru malah menikmati pemandangan di depannya. Menyentuh dan meraba serta menikmati sambil memejamkan mata. Tentu pikiran yang sudah berkeliling jauh dari tempatnya berada saat ini, tidak lupa Naka kembangkan.
"Aaarghhh!" lenguh Naka tanpa sengaja lolos dari mulutnya. Membuat Gina langsung menoleh kaget ke arah belakang.
Pantas saja dirinya merasa aneh dengan sikap orang yang membatu dirinya.
"Mas Naka!" pekik Gina dengan mata melotot dan langsung menyilangkan tangan di depan dada. Memegang erat kebaya yang terbuka di bagian belakang tersebut agar tidak melorot dan malah memperlihatkan dua buah kebanggaannya. "Ngapain malah Mas Naka ya—emmhh!"
__ADS_1