
Bab. 52
Brak!
Belum sempat wajah pria buncit itu mendarat di dada Gina yabg sudah terbuka, terdengar orang mendobrak pintu ruangan yang mereka tempati sekarang.
"Brengsek! Pria sialan! Berani kau sentuh wanitaku, kubakar kau hidup-hidup!" sergah seseorang yang berhasil menerobos masuk dengan suara yang begitu lantang.
Membuat pria buncit itu menoleh ke belakang dan sialnya dia mendapat tendangan yang begitu keras dari seseorang yang belum terlihat jelas wajahnya. Sementara anak buahnya yang sedari tadi berada di sisi ruangan, terkulai lemas di lantai dengan kondisi babak belur.
Pria buncit itu mencoba untuk berdiri, namun sayangnya dia mendapat beberapa tendnagan dari seorang pria muda yang terlihat begitu marah.
__ADS_1
"Kau sudah salah memilih lawan, Endra," ucap pria muda dengan seringai tipis sembari melepas bajunya, lalu dengan segera menutupi tubuh Gina.
Tidak rela tubuh wanitanya itu dinikmati oleh mata pria lain. Meski rekannya sendiri. Melepas tali yang mengikat tangan dan kaki wanita itu, lalu mengangkatnya ke dalam gendongan.
Sementara pria yang bernama Endra menatap terkejut di kala baru menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini. Sedang ia menoleh ke sekitar, dalam hitungan detik saja ruang rahasianya dipenuhi oleh pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam. Menatap tajam ke arahnya.
"Waaahh ... sayang sekali, ya. Gue belum lepas sarung tangan, tapi udah nggak kebagian mainan," ucap seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut dengan begitu santai nya.
Mendengar hal tersebut, Endra langsung ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena pelepasan yang biasa dia lakukan, namun karena rasa takut yang sangat luar biasa.
"Ka-kamu .... Nattala Cakradinata?" ucap Endra tergagap. Karena orang yang ada di depannya ini masih terbilang anak kecil. Usianya masih belasan tahun. Tetapi mengapa dia ada di sini dan bahkan dekat sama pria yang saat ini menggendong Gina. Batin Endra.
__ADS_1
Remaja yang bernama Nattala mengulas senyum. Bukan senyuman manis, walau menurut nya itu sudah paling manis. Tetapi malah terlihat mengerikan di mata lawan bicaranya.
"Nggak nyangka gue, ternyata ada yang kenal sama gue," ucap remaja itu seolah senang sekali. "Om! Sampein ke Mama Ester, nggak sia-sia selama ini Mama Ester kasih aku ijin buat kabur terus tiap malam!" remaja bernama Nattala terlihat begitu bangga dengan kenakalan yang dia buat.
Sedang om Dias hanya bisa menghela napas menanggapi anak bungsu Marhen dengan istri keduanya tersebut.
"Lo masih di bawah umur," ujar Naka mengingatkan. Kemudian dia menatap ke arah Irham. Belum sempat Naka memberi instruksi pada Irham, tetapi Tala lebih dulu mengeluarkan ultimatumnya.
"Kalau sampai lo larang gue, gue nggak akan kasih lo restu buat nikahin Mbak Gina. Bakalan gue hancurin acara lo!" Tala berdiri dan menatap Naka dengan tatapan sangat serius. Lalu remaja itu merubah ekspresinya begitu manis ketika tatapannya berpindah pada Gina. "Tenang aja, Mbak. Tala tumbuh sesuai yang Mbak Gina inginkan selama ini. Apa lagi Mama Ester suka ajakin aku kelayapan kalau malem," ucap Tala mendekatkan wajahnya ke arah Gina dengan suara lirih. Membuat Naka menjauhkan Gina darinya.
Gina hanya tersenyum melihat adik tirinya ini.
__ADS_1
"Dasar, bocil!" sindir Naka yang kemudian keluar dari ruangan penuh darah tersebut.