
Bab. 29
Plak Bugh Plak!
"Dasar, anak bandel! Mami dateng malah di tutup lagi pintunya! Udah lama nggak pulang, malah kayak gini sikapnya!"
Teriak suara seorang wanita yang mampu membuat Naka melangkah mundur, dan berusaha untuk menghindari pukulan demi pukulan tanpa kasih sayang tersebut.
"Awwa ... Awww! Udah, Mi ... udah!" pinta Naka yang tidak digubris sama sekali oleh wanita paruh baya dengan tampilan yang begitu anggun.
"Biarin! Ini balasan anak lupa sama orang tuanya!" sahut wanita itu penuh amarah.
Sedangkan seorang pria paruh baya namun masih terlihat muda yang baru melangkah masuk ke apartemen Naka, tampak mengedarkan pandangannya di seluruh penjuru apartemen putra sulungnya itu.
__ADS_1
Menelisik semua tatanan ruangan serta pernak pernik yang ada di dalam apartemen putranya. Tidak ada yang janggal. Seperti apartemen pria muda pada umumnya.
Kemudian Naka membawa mereka masuk ke ruang tengah, di mana ruang tersebut juga merupakan tempat bersantainya.
"Ya kenapa Mami datang nggak bilang-bilang dulu? Kan bisa Naka sambut makai Barongsai, nanti," balas Naka yang masih mendapat pukulan dari maminya—Melani.
"Papiiii ... anak kamu minta dimasukin lagi memang! Kebiasaan bareng sama Gibran nih, jadinya kayak gini!" teriak mami Mrlani dengan suara khasnya. Merdu dan menggema. Seketika memenuhi apartemen Naka.
Sampai-sampai Gina yang berada di kamar Naka pun tersentak kaget mendengar suara teriakan barusan. Gadis itu beranikan diri bangkit dari tempatnya. Beruntung tadi Naka sempat menutup rapat pintu kamarnya. Sehingga keberadaan Gina tidak terdeteksi. Eh, masih belum terdeteksi.
"Ternyata dia punya rasa takut juga. Anak yang patuh," gumam Gina cekikan sendiri melihat adegan yang sedikit jauh dari radar pandangannya tersebut.
Sedangkan di luar kamar, tepatnya di ruang tengah, papinya Naka—Kabiru Kamajaya, tidak kunjung mendudukkan tubuhnya di sofa yang jelas sangat empuk sekali jika ditempati. Pria paruh baya dengan paras kurang lebih hampir sama seperti Naka, namun ini versi sedikit lebih matang, tetap mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
__ADS_1
Hingga tanpa di duga pria itu menemukan sebuah kejanggalan. Kini, terlihatlah sudut bibir papi Biru—panggilan akrabnya, tertarik ke atas. Seolah menemukan sesuatu yang mungkin dia harapkan. Baru kemudian pria itu duduk dengan tenang.
"Oh ... kamu mau Mami kalau kesini musti hubungin kamu dulu? Gitu! Terus jenguk orang tuanya kalau mereka sudah pada bungkuk pas jalan? Begitukah, Tuan Muda Naka Kamajaya!" pekik mami Melani di akhir kalimatnya dengan suara yang benar-benar tinggi.
Wanita itu melampiaskan rasa kesalnya pada Naka. Karena sudah hampir dua bulan ini putra sulungnya tidak kunjung pulang ke rumah. Juga tidak pernah menghubungi mereka, kecuali kepada papinya.
Tentu, hanya sebatas laporan mengenai perkembangan perusahaan saja. Selebihnya, tidak pernah membahas apapun. Bahkan menanyakan kabar dirinya saja tidak. Oleh sebab itu, inilah puncak kemarahan mami Melani.
"Mi ... jangan keras-keras. Nggak enak sama tetangga Naka," ujar Naka mengingatkan mami nya.
Meskipun ukuran apartemennya ini lumayan sangat luas, juga berada di lantai paling atas bangunan ini, namun tetap saja, dia harus memperhatikan tetangganya yang berada di lantai bawah.
"Tetangga apartemen apa tetangga kamar?" tanya papi Biru tiba-tiba menyuarakan suaranya. Di mana pria itu sedari awal memilih menutup mulut dan tidak ikut campur ke dalam perdebatan istri dan putra sulungnya itu.
__ADS_1
Sontak, pertanyaan yang papinya layangkan membuat Naka berhenti, terdiam tanpa menghindar di kala maminya masih memukuli dirinya.
...Hayooo ... Siapa yang masih ingat sama Melani dan Kabiru Kamajaya? Mereka ada di ceritanya siapa? Kalau ingat, Lopiyupul^•^...