Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 62


__ADS_3

Bab. 62


Setelah bertukar pendapat dengan Irham—sahabat sekaligus asistennya, Naka pun akhirnya menghubungi kedua orang tuanya yang berada di Jakarta. Naka mau mereka terbang ke Surabaya malam ini juga.


Selain untuk membicarakan keseriusannya mengenai dirinya yang akan menikahi Gina, Naka juga ingin kedua orang tuanya melamar secara resmi gadis yang sudah menyembuhkan penyakit anehnya tersebut.


Jangan kalian kira Naka mendapatkan respon yang baik dari mereka. Tentu saja penolakan adalah hal pertama yang Naka dapatkan. Hingga pria itu pun menceritakan siapa Gina sebenarnya.


Papanya seorang pengusaha. Tentu tidak asing dengan nama calon mertuanya tersebut. Walau ada sedikit hambatan, beruntungnya kali ini mamanya—Melani, berada di pihak Naka. Sehingga urusan papanya akan ditangani oleh sang mama. Wanita yang memiliki wewenang tertinggi di keluarga mereka.


"Gimana? Sekarang saja kita ke rumahnya camer?" tanya Naka tak sabaran sama sekali.


Plak!


Sebuah geplakan pun mendarat di bahunya dan Naka sangat pantas mendapatkan hal tersebut.


"Kamu tuh kalau emang kebelet kawin, ya kebelet aja! Nggak usah menurun kayak gini IQ-mu!" semprot mama Melani geram pada putranya.

__ADS_1


Naka meringis. "Bukannya kata orang dulu itu harus menjemput rejeki pagi-pagi banget, Ma?" kata Naka membahas peribahasa orang jama dulu. "Ntar kalau nggak keburu ke sana, rejekinya dipatok jago loh!" lanjutnya lagi.


Terlihat begitu kentara jika pria itu memang tidak sabar ingin cepat mengikat wanitanya dengan hubungan yang lebih resmi lagi. Tentu, kali ini dengan membawa serta merta kedua orang tuanya dan juga ada beberapa saudara dari papanya. Kalau mama, dia merupakan anak tunggal. Jadi Naka tidak takut kalau jatuh miskin nantinya. Sebab itu hal yang sangat mustahil terjadi.


"Ini beda pembahasannya, Naka!" sentak mama Melani.


Belum ada jam tujuh pagi, tetapi kepalanya terasa sangat pusing akibat tingkah putranya sendiri. Beberapa kali mama Melani memijat pelipisnya.


Pasti kalian tanya dimana papa Kabiru? Ada. Dengan paras datar, pria paruh baya yang sangat mirip dengan Naka dan juga masih terlihat begitu bugar, tampak fokus dengan tablet yang ada di tangannya. Sedikit pun tidak ikut ke dalam obrolan istri dan putranya.


Sementara para om dan tantenya juga opa omanya Naka, terlihat tertawa melihat tingkah Naka yang seperti anak kecil.


Usianya tidak jauh dari Naka. Mereka hanya selisih tiga tahun. Sedikit informasi, dia juga belum menikah. Bisa dikatakan bujang lapuk di usianya yang sudah lewat kepala tiga. Yakni tiga puluh dua tahun.


"Sudah pasti! Karena dia satu-satunya wanita yang mengandung benihku."


Dengan percaya diri yang begitu tinggi, Naka mengungkapkan sebuah fakta yang mampu membuat keluarganya bungkam seketika.

__ADS_1


Bahkan papa Kabiru yang sebelumnya abai mengenai pembahasan ini, karena ia kurang setuju jika putranya itu menikah dengan wanita mantan penari club. Pria itu berdiri dan menatap tajam ke arah Naka.


"Apa kau bilang barusan?" raut wajahnya tampak siap menelan Naka. Lebih mengerikan dari ekspresi Naka ketika marah.


Namun, bukan Naka namanya jika diam begitu saja. Malah pria itu terkesan begitu membanggakan diri karena berhasil membuat Gina hamil.


"Papa bakalan segera punya cucu. Makanya, restuin pernikahanku sama Gina. Papa nggak mau kan kalau sampai cucunya nanti benci opanya gara-gara papi dan maminya nggak dibolehin nikah?"


Biasanya, kalau orang pada umumnya ketika membujuk itu akan menggunakan bahasa yang lebih manis dan lembut, namun hal itu tidak berlaku pada Naka. Setelah berhadapan langsung dengan papanya, dia malah menantang papanya dengan cara yang agak lain.


Sontak saja emosi papa Kabiru meningkat pesat.


"Sudah bikin Papa malu menikahi gadis penari! Ini malah dihamilin juga! Nggak bisa main aman emangnya kamu, Naka!" sentak papa Kabiru. Melayangkan pukulan pada Naka, namun dengan segera dihalangi mama Melani.


Naka tidak kabur dari amukan papanya. Pria itu tampak mengerutkan kening.


"Main aman?" ulang Naka tengah memikirkan ucapan papanya. Lalu dia memicingkan mata. "Jangan bilang kalau Papa selama ini main aman sama wanita lain di luaran sana?" tuduhnya tanpa bukti. "Denger sendiri kan, Ma. Berarti Papa main aman, Ma!"

__ADS_1


"NAKA KAMAJAYAAAAAA ....!" teriak papa Kabiru.


Bisa-bisanya seorang Presdir berpikiran pendek seperti itu. Pikirnya.


__ADS_2