Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 41


__ADS_3

Bab. 41


"Apa lo menemukan dia?" tanya seorang pria dengan rahang begitu tegas serta tatapan yang sangat tajam mengarah pada sosok pria yang kini berdiri di depan meja kerjanya.


"Belum. Dia tidak meninggalkan jejak sama sekali. Bahkan sudah kucari di kota Surabaya, juga tidak ada nama Regina Shivania Aresti," jawab pria yang berdiri di depan meja kerjanya tersebut.


BRAK!


Dengan penuh amarah pria yang tak lain ialah Naka pun menggebrak mejanya dengan sangat kuat. Sampai-sampai membuat Irham terjingkat kaget. Sedang empat orang yang berada di belakang Irham pun menunduk takut.


"Apa yang dilakukan sama anak buah, lo, bego!" sentak Naka menatap nyalang Irham, lalu berganti pada empat pria bertubuh kekar di belakang Irham yang tengah menunduk. "Tugas katak gini aja kalian nggak bisa. Nggak usah kerja kalau gitu!" imbuhnya lagi dengan suara yang menggema di ruang kerjanya. Semakin membuat mereka mengurungkan niatnya untuk membela diri.


Sementara itu Irham menghela napas. Ia sedikit kesulitan menghadapi amarah Naka dua bulan ini yang naik turun. Sudah kayak ayunan saja.


"Keluar!"


Tanpa mendapat perintah kali keduanya, mereka berempat pun keluar setelah berpamitan. Sedangkan Irham menatap ke arah Gubran yang duduk di sofa. Pria itu juga tidak luput dari perintah Naka. Hanya saja Naka dengan penuh kebagian menyuruh Gibran. Sebab, kalau sampai orang tuanya tahu ia mencari seorang gadis, lebih lagi kesan pertama di saat mereka bertemu sedikit buruk, jelas Naka tidak akan membahayakan posisi Gina. Gadis yang berhasil mmbuat dirinya semakin hancur. Dalam artian gadis itu menghancurkan hasratnya.


Ya. Setelah merasai apa itu surga dunia dari Gina, semenjak itu juga Naka terus ingin merasakan lagi. Hanya saja, ia tidak mau melakukannya dengan sembarang gadis dan gadis yang disewakan oleh Gibran pun berakhir Naka abaikan. Sebab tidak ada hasrat yang muncul walau mereka polos di hadapannya. Justru rasa kesal yang menghinggapi. Ingin bersarang, akan tetapi sarang miliknya tidak ada di sini. Sehingga tidak jarang membuat Naka bersolo karir. Eh, melakukannya sendiri di kamar mandi.

__ADS_1


"Tenangin diri lo dulu, Ka," ujar Gibran sambil berdiri lalu menghampiri Naka. Menepuk pundak pria yang dikuasai amarah setelah mendapat laporan jika pencariannya terhadap Gina tetap tidak membuahkan hasil barang sedikit saja.


Naka melirik sinis ke arah Gibran, lalu memutar tubuhnya dan melangkah menuju jendela yang ada di ruang kerjanya. Ia lihat langit di luar sangat cerah. Namun entah sejak kapan tepatnya perasaannya bertahan dalam suasana gelap.


"Enteng banget lo bilang tenang tenang. Kalian nggak pernah rasain betapa ngilu nya kepala kalian kalau nggak bisa keluar," ujar Naka tanpa menatap ke arah dua sahabatnya itu.


Irham mengernyit. "Jadi lo cari Gina selama ini cuma buat lahan benih lo?" sahut Irham sedikit gemas dengan sikap sahabat nya itu.


"Yakin, hasrat doang, nih?" timpal Gibran yang menggoda Naka.


Mereka berdua memang tidak memberinya solusi. Justru keberadaan mereka malah membuat Naka semakin pusing.


Sedang Naka sendiri memilih diam. Mengabaikan dua orang yang kini mengoloknya. Naka lebih sibuk dengan pertanyaan dari keduanya tadi. Kalau memang cuma hasrat, seharusnya bisa ia lampiaskan pada wanita lain.


Namun, di kala ada wanita yang mendekati dirinya, entah dengan berpakaian sopan atau laknat, wajah gadis yang berhasil membuat dirinya merasakan surga dunia itu selalu muncul. Senyumannya, kedipan nakal gadis itu, sikapnya yang selalu menggoda dirinya, juga kecerobohannya dalam berpakaian jika di rumah, serta wajahnya yang menahan sakit saat berada di bawahnya, sungguh, membuat Naka sangat merindukan gadis itu. Gadis mata duitan yang berhasil membuat Naka terobsesi padanya.


"Gue minta bantuan lo, Gib," ujar Naka tiba-tiba. Pria itu memutar tubuhnya dan menatap serius ke arah Gibran.


Sedang Gibran menatapnya datar. Menunggu kalimat Naka selanjutnya.

__ADS_1


"Bikin berita mengenai pencarian seseorang yang berhasil menolong Presdir Kamajaya Company. Dia pasti paham dan akan muncul jika imbalan nya tertera sangat tinggi," ucap Naka yang mendapat tatapan menyelidik dari Gibran.


"Bos, ini agaknya sangat beresiko," ingat Irham yang tidak setuju. Lagi pula cara seperti itu bakalan banyak yang mengaku sudah menolong Presdir nya ini.


Naka menggeleng. "Gue mau dia yang mendatangi gue. Hentikan anak buah lo sekarang. Kita lihat, dengan imbalan sepuluh miliyar, dia keluar dari persembunyiannya atau tidak. Enak saja bawa kabur benihku tanpa seijinku terlebih dulu," balas Naka yang sudah bulat mengenai perintahnya ini.


Irham hanya bisa menghela napas. Masalah lama belum kelar, ia harus ikhlas menerima masalah baru yang akan datang. Jelas, akan membuat dirinya repot.


"Yakin lo, sepuluh miliyar?" kali ini Gibran yang juga sedikit keberatan.


"Demi memancing dia keluar, itu masih nggak sebanding," sahut Naka.


"Udah bucin sih lo kayaknya," cibir Gibran menggelengkan kepala. "Dulu aja nawarnya dua pulub ribu. Sekarang? Di luar nayla emang kalau orang sedang bucin."


"Nalar, Gib ... nalar!" ralat Irham yang semakin gemas dengan sikap kedua temannya itu.


Gibran menyengir. "Kek yang lagi spiral, Ham. Biar kekinian." kekehnya.


"Viraaaaallll!" teriak Irham. "Gila semua emang lo pada ya!" rasa-rasanya kepala Irham mau pecah menghadapi mereka yang semakin gila.

__ADS_1


Satunya kalau bucin kagak bisa di selamatkan. Satunya lagi semakin geser otaknya.


__ADS_2