Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 34


__ADS_3

Bab. 34


"Lo yakin mau nari beginian?" tanya Tania memastikan ulang lagi mengenai keinginan Gina di luar nalarnya.


Sementara Gina dengan sangat yakin, gadis itu menganggukkan kepalanya mengenai keputusan yang sudah ia buat.


"Nggak apa. Sesekali nyenengin mereka, Tan. Lagi pula juga gue setelah ini mau pulang ke Surabaya dan nggak tau ke sini lagi atau enggak," ungkap Gina.


Tania menatapnya penuh khawatir. Di tambah lagi ketika mengetahui kalau Gina tidak bisa kabur lagi sekarang.


Awalnya Tania bingung mengenai latar belakang Gina. Hingga pada akhirnya gadis itu sendiri uang menceritakan siapa dia sebenarnya dan Tania diminta untuk menutup mulut dan tidak menyinggung permasalahan pribadi Gina, kalau memang Tania tulus padanya.


"Gue bantu kabur lagi, ya?" tawar Tania sedikit ragu. Karena ia tidak terlalu yakin dengan kuasa orangtuanya sendiri.

__ADS_1


Gina yang tengah melepas ikat rambutnya lalu mulai membuat riasan di wajahnya sedikit lebih menor dari biasanya, lantas gadis itu tersenyum sembari menggelengkan kepala samar. Ia tahu niat Tania tulus. Namun, Gina tidak mau membawa Tania masuk ke dalam permasalam internalnya.


"Nggak perlu, Tan. Lagian gue juga udah lima tahun berada di sini. Udah puas lah main-mainnya," ucap Gina menolek tawaran sari Tania. "Lagi pila lo selama ini juga sudah bantu gue. Menutupi keberadaan gue. Jadi emang udah waktunya balik aja. Tapi makasih ya, udah jadi temen paling terlope sekebon rawit!" ucap Gina dengan nada begitu antusias.


"Ck! Nggak usah melow gini napa!" protes Tania sambil mengusap air matanya yang berhasil jatuh.


Gina terkekeh melihat Tania yang seperti itu. Lantas gadis itu berdiri setelah menyelesaikan riasan di wajahnya, lalu memeluk Tania begitu erat.


"Nanti gue bakalan temuin lo, kalau main ke sini lagi. Dari pada lo cengeng kayak gini, mending sekarang lo umumin tuh ke para zombie yang ada di sana. Bilang kalau Dewi mereka balik lagi malam ini. Sekalian gue siap-siap bentar. Udah lama nggak gerak, agak kaku dikit," ucap Gina sambil mendorong tubuh Tania agar keluar dari ruang ganti.


Sepeninggal Tania, Gina langsung terduduk kembali di tempatnya. Tangan gadis itu menegang kepala yang terasa sangat pusing.


"Udah, Gi ... masa lo dah habis di sini kalau dia udah hubungin lo terus. Sampai tau email lo juga. Nurut aja, biar lebih damai," gumam Gina pada dirinya sendiri. "Mau bagaimana lagi, hubungan kalian lebih erat dan tidak bisa di hapus." keluhnya lagi ketika merasakan sesak di dada secara tiba-tiba.

__ADS_1


Menghapus keraguan di dalam diri, Gina terdiam dengan mata terpejam. Menghirup udara di sekitarnya yang sudah tercemar dengan bau alkohol yang sangat menyengat di indera penciumannya. Beberapa momen pun tiba-tiba saja terlintas di dalam benak Gina. Membuat bibir gadis itu menyunggingkan sebuah senyuman tipis di sana. Seolah menikmati momen yang saat ini terlintas.


Hingga rautnya berubah sendu di kala ada sebuah momen dengan seseorang. Bukan dengan orang yang spesial baginya. Akan tetapi orang itu secara tidak sadar juga mengajari dirinya banyak hal. Walau lebih banyak perdebatan di antara mereka. Tetapi Gina sempat merasakan kehangatan di dalam sebuah rumah. Merasa dirinya di lindungi dan diharapkan.


Perlahan Gina membuka mata. Gadis itu kemudian beranjak dari tepatnya. Menatap pantulan diri pada cermin yang ada di hadapannya sekarang. Membenarkan penampilannya terlebih dulu, serta menarik napas guna meyakinkan diri. Meski kini datang sebuah rasa ragu.


"Oke, Regina. Ini kali terakhirnya lo beginian. Setelah pulang, lo musti jaga nama baik-baik. Nggak boleh sembarangan lagi. Lo pasti bosen. Yakin deh."


Entah itu sebuah kalimat penyemangat diri atau mengatai diri. Yang jelas, gadis itu tidak punya pilihan lagi.


Suara Tania sudah terdengar, Guna bersiap keluar dari ruang gantinya. Melangkahkan kaki jenjangnya yang terekspose, sera mengibaskan rambutnya beberapa kaki demi mengusir rasa tidak percaya dalam diri yang muncul secara mendadak. Nervous. Ya. Gadis yang mempunyai tingkat kepercayaan diri begitu tinggi, sekarang bisa merasakan hal itu juga.


Dan ketika Gina berada di lorong yang menghubungkan ke ruang utama, di mana banyak zombie di dalamnya, tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang menariknya di saat kaki sudah berada di ambang pintu. Sedang wajahnya ditutup sebuah kain. Membuatnya tidak bisa melihat keadaan sekitar. Hingga sebelum Gina tak sadarkan diri, samar-samar Gina melihat seorang pria yang dengan mudahnya mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


...Kaaaannnn ... dibungkus beneran. Rakira siapa yang bungkus Gina?...


__ADS_2