
Bab. 27
"Dia ikut kesini juga?" tanya Gina yang langsung beranjak dari tempat duduknya seketika.
Irham mengangguk. "Bos ada di dalam mobil. Kalau mau kesana, kesana saja. Kami tunggu di sini. Siapa tau dapat daun muda juga," balas Irham yang mendapat anggukan dari Gibran.
Gina tidak menghiraukan candaan dari Irham barusan. Gadis itu segera menuju ke mobil yang sudah diberitahukan posisinya ada di mana.
Sementara itu di dalam mobil, tampak seorang pria yang tengah sibuk mengotak atik ponselnya. Dua kancing kemeja sudah terbuka, bahkan jas yang sebelumnya terpakai rapi pun kini tersampir di sandaran kursi yang ada di sebelah kemudi. Meski berada di dalam mobil dan kacanya tidak tembus pandang jika dari arah luar, namun pria itu seolah enggan melepas kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya yang sangat mancung. Semakin menambah daya pikat pria tersebut.
"Kenapa mereka lama banget jemputnya," keluh pria itu sesekali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kanan.
Semenjak hubungan mereka semakin dekat, ralat, maksudnya interaksi di antara dirinya dan Gina bertambah dekat, waktu berlalu begitu lambat menurut Naka jika berada jauh dari gadis itu.
Entah ada apa dengan dirinya. Rasanya itu ingin sekali melihat Gina tetap dalam radar jangkauan matanya. Bahkan kalau bisa, Naka ikat dan dia tempatkan untuk tetap berada di sisinya.
Sebuah notif pesan pun masuk di ponselnya dan terlihat di jendela layar. Tiba-tiba saja bibir Naka tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang mengembang disana.
"Kamu di mana?" tanya Naka langsung menghubungi orang yang mengiriminya pesan. "Aku makai mobil putih. Yabg biasa kamu pakai pas di antar Pak Edi. Ya. Aku tunggu," ujar Naka.
Belum sempat menaruh ponselnya di dalam saku, ia melihat seorang gadis berjalan ke arahnya. Langkah kaki yang meliuk, seirama dengan pinggulnya yang terlihat menggoda, sungguh, ini pemandangan yang sangat indah bagi Naka sekarang. Tatapan matanya tidak bisa lepas begitu saja dari sosok gadis tersebut.
Dan jangan lupakan strap di dada gadis itu yang sempat Naka bantu mengencangkan tadi pagi. Ah ... membuat Naka ******* ***** tangannya sendiri. Membayangkan jika benda itu berada penuh di dalam genggamannya saat ini.
Tok tok tok!
__ADS_1
"Buka!" pinta gadis itu dengan raut sedikit kesal. Entah apa yang terjadi, namun Naka tetap membukakan pintu di sebelahnya.
"Ada yang bisa dibantu, Nona?" tanya Naka bercanda.
"Kenapa datang?" tanya Gina mengabaikan pertanyaan Naka. "Katanya tadi sibuk, nggak bisa datang. Mau kerja. Kok, di sini?" cecarnya berdiri di samping Naka yang duduk di dalam mobil.
Naka juga melakukan hal yang sama. Pria itu malah menarik tangan Gina dan menaruh tangannya di atas kepala Gina agar tidak terbentur dengan pinggiran pintu. Tidak lupa Naka langsung menutupnya rapat.
"Apa yang anda lakukan, Pak Presdir!" jerit Gina yang jatuh di pangkuan Naka.
Dengan seenaknya pria itu menekuk kakinya lalu sedikit mengangkat tubuh Gina dan memutar nya. Mencari posisi yang nyaman untuk mereka berdua. Tidak lupa juga Naka sedikit menurunkan jok mobil yang dia duduki sekarang. Sehingga kaki Gina terbuka dengan sempurna di atas tubuh Naka sekarang.
"Duduk," jawab Naka begitu santai.
"Ya tapi nggak perlu sampai segini nya juga. Kan bisa duduk di samping. Tuh, kosong," protes Gina.
'Ck! Udah bangun lagi anunya. Bahaya banget ini. Gue harus cepat turun sebelum dia kesurupan lagi.' batin Gina menyadari pergerakan di bawah area pribadinya.
"Mau hadiah wisuda, nggak?" tanya Naka menekan pinggul Gina, seolah tahu niatan gadis yang ada di atas tubuhnya sekarang ini mau kabur lagi.
Lelah sudah Naka selalu gagal melancarkan aksinya demi memperjelas barangnya bisa dipakai atau hanya sekedar bisa merasa ngilu saja. Kali ini tidak boleh sampai gagal. Tekad Naka.
"Hah? Hadiah? Bu-buat apa?"
Gina mulai merasakan benda itu semakin keras, dan sepertinya Naka dengan sengaja menekan pinggulnya dan menggoyangkan tubuh pria itu sendiri agar terada gesekan di antara dua obyek yang berbeda tersebut.
__ADS_1
"Aku pindah aja duduknya. Nggak enak dili ....!"
Sreeekkk!
Resleting yang terletak di belakang punggung Gina pun terbuka dengan sangat sempurna. Gina bisa merasakan dinginnya ac mobil yang menerpa permukaan kulitnya.
Seperti yang sudah pernah terjadi, dengan cepat Gina mengalungkan tangannya di leher Naka. Lalu gadis itu memeluk Naka dengan begitu erat. Bahkan tanpa memberi spasi.
Naka terkekeh melihat reaksi Gina.
"Sepertinya kamu udah nggak sabar. Hmm?" ucap Naka menanggapi sikap Gina yang menurutnya tidak sabaran.
Gina menggelengkan kepala. "Bukan gitu maksudnya, Mas Naka Kamajaya!" pekik Gina tertahan. "Kalau aku tetap duduk kayak tadi, kamu pasti akan nurunin bajuku lagi, kan? Aku nggak mau. Kamu tau sendiri, aku nggak makai itu."
"Bagus dong! Aku nggak perlu susah-susah ngelepasnya." balas Naka yang masih tertawa kecil.
"Mas!"
"Oke, Marvin. Walk now!" perintah Naka membuat Gina mengedarkan pandangan ke seluruh ruang mobil.
Tidak ada siapa-siapa di dalam sana kecuali mereka berdua.
"Ready to go, Mr Kama!" sahut suara robot yang merespon ucapan Naka barusan.
Belum sempat Gina bertanya, mobil otomatis yang ditumpangi oleh mereka bergerak sendiri dan mulai melaju ke arah jalan. Di tambah lagi Gina merasakan usapan lembut namun penuh penekanan di kaki bagian dalam. Seketika membuat bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
"Jangan teriak, kalau nggak pingin kepergok," bisik Naka yang semakin menelusupkan tangannya lebih dalam lagi di bawah sana. "Nikmati hadiah wisudamu."