
Bab. 48
"Di mana Gina, Bangs4t!" teriak Naka dengan suara keras tanpa memperdulikan keadaan di sekitar.
Pria itu mencengkeram kuat kerah leher pria matang yang ada di depannya. Menghimpit tubuh pria itu ke mobil. Sedangkan pria yang dihimpit pun tidak memberikan perlawanan yang berarti. Meski tubuh mereka sama-sama tegap.
"Kenapa lo biarkan dia turun sendiri di sini? Lo udah gila, Dias!" pekik Naka lagi lalu menghempaskan om Dias ke samping.
Beruntung respon om Dias bagus. Sehingga pria itu tidak sampai terjatuh dan langsung berdiri tegap.
"Kalau saya tau kejadiannya bakalan seperti ini, saya tidak akan membiarkan Nona Gina turun di sini, Tuan Muda!" balas om Dias yang memang tidak menyangka jika nona mudanya diculik di depan mata kepalanya sendiri.
Naka meremas rambutnya frustasi. Baru saja mendapat titik lokasi Gina, tetapi dirinya harus kehilangan wanita itu sebelum mereka bertemu.
"Ham! Kerahin anak buah lo dan cari Gina sampai ketemu!" perintah Naka tanpa peduli jika saat ini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat di jalan sana.
__ADS_1
Irham langsung melaksanakan tugas dari atasannya itu tanpa perlu di ulang. Karena dia juga sangat geram ketika mengetahui kalau Gina baru saja diculik.
Naka mengambil ponselnya yang dia simpan di saku celana, lalu menghubungi Gibran yang memang tidak bisa ikut ke Surabaya. Sebab pria itu ada pekerjaan yang tidak bisa tunda.
"Gib!" panggil Naka ketika Gibran mengangkat panggilannya.
'Ya, Bos? Kenapa? Butuh obat kuat lagi?' tanya Gibran dengan suara tawa yang terdengar dari pria itu.
Naka mendengkus kesal mendapat tawaran seperti itu dari Gibran.
'Wait wait wait! Lo bilang apa? Calon pacar gue diculik!' teriak Gibran dari seberang sana. Membuat Naka menjauhkan ponselnya dari telinga. Demi menjaga kesehatan indera pendengerannya tersebut.
"Nggak usah banyak bacot! Buruan kerjakan sebelum calon keponakan lo kenapa-napa!" sentak Naka dengan begitu percaya dirinya mengatakan hal tersebut.
Tentu tanpa alasan Naka mengatakan hal itu. Karena ia sudah mengikuti mobil yang Gina tumpangi sedari mobil itu keluar dari rumah sakit. Dan pria itu beranggapan kalau Gina habis periksa kandungan. Mengingat dirinya tidak menggunakan pengaman saat melakukan penyatuan jiwa dan raga dengan Gina beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Setelahnya Naka mematikan sambungan teleponnya dengan Gibran sebelum pria itu menjawab.
Gegas Naka langsung masuk ke dalam mobil dan mengambil alih kemudi.
"Lo, diam aja. Jangan sampai keluarganya tahu kalau Gina diculik. Redam emosi pria tua sialan itu!" perintah Naka pada Dias.
Dias tersentak kaget ketika pria muda di depannya ini ternyata mengetahui latar belakang Gina yabg sesungguhnya.
"Bagaimana anda ta—"
"Lo lupa siapa gue, Dias Kusumajaya?" Naka tersenyum miring seraya menaikkan alisnya ketika menatap Dias saat ini. Bahkan pria itu juga tahu identitas Dias yang sengaja disembunyikan oleh kakaknya sendiri.
Semakin terkejutlah pria berusia tiga puluh sembilan tersebut.
Tidak mau membuang waktunya di sini. Naka segera melajukan mobilnya dan menuju ke sebuah tempat, di mana ia akan mendapatkan semua informasi yang dia mau. Bahkan pria itu tidak mengajak Irham yang dia tinggal di pinggir jalan bersama Dias.
__ADS_1
"Sialan! Gue gimana, woy!" teriak Irham sangat kesal. Hampir saja membanting ponselnya sendiri. Tetapi Irham ingat, jika ponsel dengan gambar apel digigit itu baru saja dia beli. Masih baru, sayang kalau dibanting.