
Bab. 33
Suara musik yang begitu bising, tidak.serta merta mengalihkan pikiran seorang gadis yang begitu carut marut. Di satu sisi, dia merasa ada sesuatu kebiasaannya yang kembali, di sisi lain, ia juga merasa kehilangan sesuatu yang entah tidak dia mengerti. Di tambah lagi datang masalah baru yang membuatnya bertambah pusing saja.
"Dari mana aja, baru nongol sekarang? Udah nggak butuh duit?" tanya seseorang yang baru duduk di kursi dekatnya.
Gadis itu hanya menolehnya sekilas dengan tatapan jengah.
"Dari kayangan, ambil anak pangeran. Tapi nggak di bolehin sama bidadarinya," sahut gadis itu asal dan sangat tidak nyambung sama sekali dengan pertanyaan yang terlontar kepadanya.
"Makin parah anak ini ternyata, Mas," ujar seorang wanita yang baru saja duduk di samping seorang pria. Sedangkan pria itu hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah gadis yang bicaranya asal barusan.
"Kayaknya sih habis dibuang, Yaang," sahut pria itu namun tatapannya mengarah ke arah gadis yang tampak begitu kesal.
"Beneran gue bikin bangkrut ya lo, Bang!" sentaknya marah.
Bukannya takut, dua teman laknatnya itu justru semakin tertawa dan semakin kompak menggoda gadis yang tidak lain ialah Gina.
__ADS_1
"Enak aja! Kalau lo mau berurusan sama Papi gue, ya monggo monggo saja lah," balas Tania yang membela suaminya, Sandi.
Gina melirik sinis, lalu berniat meneguk minuman yang ada di depannya. Tania yang melihat itu pun, cepat-cepat mengambil alih minuman laknat tersebut. Meskipun usahanya memang di bidang perlaknatan ini.
Bagaimana tidak, Tania mewarisi usaha keluarganya yakni beberapa club malam yang ada di kota ini, namun dia lebih sering ke club Naimos. Karena selain suaminya yang menjadi manager di sini, tentu juga dia harus menjaga sahabatnya yang kadang kala mempunyai pikiran sangat pendek. Walaupun tidak bisa setiap hari. Karena kesibukannya sebagai dokter muda sekarang ini cukup menyita waktunya. Berbeda dengan sebelum dirinya wisuda beberapa bulan yang lalu.
"Jangan aneh-aneh deh lo, Gi!" sentak Tania.
Meskipun pekerjaan mereka di dunia malam, namun Tania serta Sandi tidak membiarkan Gina sedikit pun mencicipi minuman beralkohol tersebut. Mereka tidak mau sahabat sekaligus aset di club mereka itu kenapa napa. Lebih lagi mereka berdua juga tahu jika Gina tinggal sendiri. Takutnya kalau terjadi apa-apa, tidak ada yang merawat atau menjaganya.
"Apaan sih kalian. Orang nyoba dikit aja loh!" protes Gina tidak terima jika minumannya itu dijauhkan.
"Lo mau jadi zombie kayak mereka?" tanya Tania sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang sudah terkena pengaruh minuman tersebut.
Gina menatap orang yang dimaksud oleh Tania. Lalu tiba-tiba saja keinginan gadis itu muncul dan sangat mengejutkan Tania dan Sandi.
"Eh, baju dines gue ada di ruangan lo kan, Bang?" tanya Gina tiba-tiba.
__ADS_1
Sandi mengangguk. "Cuma bajunya aja. Nggak ada topengnya," balas Sandi.
Tania langsung menatap curiga ke arah sahabatnya tersebut.
"Lo jangan mulai gila deh, Gi. Jangan ambil resiko. Gue harus rumah sakit lagi jam dua belas ntar. Jangan nambahin kerjaan gue deh!" curiga Tania yang malah mendapat senyuman tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tenang aja. Gue udah putusin kok. Lagian gue juga bentar lagi pulang kampung. Nih, liat. Mereka udah nemuin gue di sini," ucap Gina sambil menunjukkan ponselnya yang terus berdering.
Tania dan Sandi melotot. "Lo ketahuan?"
Gina mengangkat bahunya. "Kalau nggak, ngapain ini nyala mulu? Lo tau, yang punya nomor gue cuma segelintir orang doang, kan?"
Gina tersenyum masam ketika mendapati kalau keberadaan dirinya di sini terendus. Seharusnya ia sudah mengubah kesemuanya. Akan tetapi namanya hidup ke depannya itu siapa yang tahu.
Wajah Tania langsung sendu. "Gue belum siap, Gi," rengeknya.
"Udahlah, yang penting sekarang geu mau nari tanpa topeng. Sekalian kasih servis buat para zombie gue yang selaku setia sama gue selama ini," ucap Gina yang sudah bertekad.
__ADS_1
Gadis yang tidak memiliki solusi dari masalahnya sekarang itu, kini mengambil keputusan tanpa di pikir lebih dalam lagi. Entah, apa yang akan terjadi pada Gina, jika sampai gadis itu menari tanpa topeng. Jelas, mereka akan tahu siapa sebenarnya dewi penari erotis yang selama ini mereka puja dan coba mereka dapatkan. Semoga saja Gina tidak dibungkus beneran.
...Jeng jeng jeng ... masalah apa lagi tuh? hmm? anu kah? atau masalah yang anu? ah ... anu ajalah ya! hehe^•^...