Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 30


__ADS_3

Bab. 30


Naka salah tingkah di saat mendapat picingan mata dari dua orang paruh baya di hadapannya sekarang. Mami Melani yang dari tadi memukuli dirinya pun, kini terduduk tenang di samping suaminya—papi Biru.


"Nggak mau jelasin tentang ini?" mami Melani mengangkat sebuah barang yang jelas bukan milik Naka.


Dua orang yang lebih berpengalaman dari Naka, jelas tahu itu milik seorang wanita. Oleh karenanya mereka menunggu penjelasan dari pria muda yang sekarang ini terlihat salah tingkah di hadapan mereka.


Naka merutuki dirinya kenapa tadi melempar segitiga milik Gina di sembarang tempat, dan tidak ia sangka kalau kedua orang tuanya datang berkunjung. Padahal selama ini mereka tidak pernah menginjakkan kaki mereka di apartemennya.


"Oh, ya. Mami sama Papi ada perlu apa sampai datang ke sini?" tanya Naka mengalihkan pembicaraan mereka. Lalu pria itu menatap ke arah papinya. "Bukanya baru seminggu yang lalu Naka laporan sama Papi?" ingat Naka lagi.


Papi Biru mengangguk. "Masih mau berputar apa langsung?"


Papinya ini memang jarang bicara mengenai hal yang sangat pribadi di antara mereka berdua. Akan tetapi, jika sudah membuka suara, rasa penasaran papi Biru harus di tuntaskan.


Hembusan napas kasar Naka lakukan. Percuma saja jika dirinya mengelak. Belum lagi kalau maminya melakukan sidak dadakan dan malah menemukan Gina di kamarnya. Akan makin runyam urusannya nanti.


"Sesuai dugaan kalian," ucap Naka dengan suara lirih. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan.


Seperti itukah sosok Naka jika berada di hadapan kedua orang tuanya. Bahkan tidak terlihat seperti seorang Presdir di Kamajaya Company. Sangat jauh perbedaannya.

__ADS_1


Mami Melani memicingkan matanya, sementara papi Biru mengangkat alis. Mereka butuh lebih dari ini.


Sedangkan di dalam kamar, Gina tampak kebingungan mencari baju yang pas di tubuhnya. Karena dirinya juga tinggi, sehingga baju-baju Naka tidak terlalu panjang untuk ia pakai sebagai long dress. Palingan hanya sebatas setengah pahanya saja. Itu pun masih terlihat tidak sopan kalau memang ia diharuskan keluar dari persembunyiannya.


"Masa nggak ada yang ukuran yang lebih besar dari badan dia sih," dumel Gina yang terus mencari.


Gina bergeser ke lemari samping. Ternyata di sana tempat beberapa kemeja Naka yang tergantung rapi dsn berbaris sesuai warna. Beruntung, ada ukuran yang besar dan panjang di tubuh Gina. Sebisa mungkin gadis itu mempermark kemeja Naka menjadi baju yang indah di tubuhnya. Meskipun ia juga harus meminjam dasi Naka untuk Gina buat ikat pinggang agar tidak terkesan kebesaran.


"Nah, selesai," ucap Gina seraya memutar tubuhnya di depan cermin panjang yang ada di depannya. "Ini yang bagus badan gue apa emang kemejanya yang berkelas, ya?" gumam gadis itu lagi ketika menelisik penampilamnya.


Seolah ada yang kurang, Gina pun membiarkan rambutnya terurai, dan menjuntai ke bawah. Itu juga demi menutupi tanda yang sempat Naka buat tadi di leher.


Setelah memastikan semua, Gina mulai melangkah keluar meskipun ada rasa takut. Tetapi dirinya tidak bisa membuat Naka terpojok karenanya. Sebab hubungan di antara ia dan Naka merupakan sebuah hubungan timbal balik. Dia sudah baik dan memberi dirinya uang banyak, maka Gina juga harus melakukan sesuatu untuk pria itu. Pikir Gina.


Naka tidak punya jalan lain. Mau tak mau memang dirinya harus memperlihatkan Gina.


Namun, belum sempat Naka membuka suara, terdengar suara lembut yang menyapa mereka.


"Selamat sore, Om, Tante," sapa Gina berjalan mendekat ke arah mereka.


Dua orang paruh baya itu langsung mengalihkan tatapannya menuju sosok gadis cantik nan seksi yang berjalan ke arah mereka. Dengan sopan gadis itu menyalami mereka serta mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Mami Melani tidak mengedipkan matanya melihat gadis yang baru saja mencium tangannya. Di mana wanita seperti itu sudah sangat langka di jaman sekarang.


"Salam kenal, Om, Tante, saya Gina. Temannya Mas Naka," ucap Gina memperkenalkan diri setelah duduk di sofa yang sama dengan Naka. Tentu, Gina memberi jarak di antara keduanya.


Sementara papi Biru sibuk menelisik gadis yang duduk di dekat putranya, mami Melani justru menampilkan sikap yang membuat Gina sedikit lega.


"Teman biasa apa teman yang ...." dengan sengaja wanita paruh baya itu menggantung kalimatnya. Serta tatapan matanya begitu jahil mrngaeah ke arah Gina.


Gina tersenyum malu mendapati sikap wanita cantik nan anggun yang ada di depannya.


"Lebih tepatnya partner buat kesembuhan Mas Naka, Tante," jawab Gina jujur.


Memang jujur itu sebuah perbuatan yang sangat baik. Akan tetapi tidak semua kejujuran selalu menempatkan seseorang dalam keadaan aman. Contohnya saja Naka sekarang. Pria itu tidak menyangka jika Gina akan berkata seperti itu.


"Partner? Kesembuhan Naka?" ulang mami Melani tidak mengerti yang dimaksud oleh gadis bernama Gina.


Gina mengangguk, tanpa melihat tatapan horor dari Naka.


"Iya, Tante. Saya di sini di bayar sama Mas Naka, buat sembuhin penyakit itunya yang nggak bisa bang—mmhh!"


Tidak mau rahasianya terbongkar di depan orang tuanya, Naka bergerak cepat membungkam mulut Gina agar tidak berbicara lebih detail lagi.

__ADS_1


'Kenapa di saat seperti ini dia jujur banget sih!' rutuk Naka di dalam hati.


__ADS_2