
Bab. 55
"Kamu kenal di mana modelan badut kayak gitu?" tanya Naka sembari mengobati luka yang ada di tangan serta wajah Gina.
Melihat beberapa luka serta memar yang ada pada tubuh wanita di hadapannya saat ini, membuat hati Naka memanas. Rasa-rasanya ingin sekali merebus semua pria yang berani menyentuh wanitanya. Meski hanya seujung jarinya pun.
Namun, untuk sekarang bukan itu prioritas Naka. Dia harus fokus dengan wanita yang sedari sampai di hotel memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Tidak mengeluarkan suara sedikit saja, meski Naka berusaha memancing Gina agar mau berbicara dan mengobrol dengannya. Walau semua itu sia-sia saja. Karena Gina hanya menatap tanpa menanggapi pertanyaan dari Naka.
Helaan napaa panjang terdengar dari mulut Naka. Pria itu kemudian memilih untuk tidak bertanya dan mengobati luka yang ada di tubuh Gina hingga selesai. Setelah selesai, Naka berdiri lalu mengangkat tubuh Gina dan memindahkannya ke atas kasur berukuran besar. Mendudukkan wanita itu di tepi kasur, lalu Naka berjongkok tepat di depan Gina sembari tangannya memegang lembut tangan wanitanya tersebut.
"Gina ...."
Dengan suara lembut serta tatapannya yang begitu teduh, Naka berusaha terus untuk mengajak wanita yang pernah memberikan dirinya sebuah kebahagiaan yang belum pernah Naka rasakan sebelumnya. Hatinya terasa sedih fi saat melihat Gina yang biasanya ceria dan ceplas ceplos. Juga sangat cerewet sekali jika dengan dirinya, namun karena sebuah perlakuan yang tidak menyenangkan Gina terima, dia berubah menjadi wanita pendiam dan murung. Seolah ada sebuah rasa takut yang masih menyelimuti wanita itu.
"Jangan takut, ada aku di sini. Aku akan melindungimu, asal kamu berada di sisiku selalu," ucap Naka dengan suara lembutnya. Sangat berbeda dengan sikap pria itu sebelumnya. Meski sikapnya yang prmaksa itu masih saja melekat begitu jelas.
__ADS_1
Bukan karena takut, melainkan Gina merasa bersalah kepada adik tirinya. Karena sikapnya yang iri, dia sampai bergaul dengan orang-orang menjijikkan seperti itu. Jika bukan karena ambisi yang dimiliki oleh mama dirinya, Resa tidak akan melakukan hal sejauh itu.
Gina tampak melamun dan pandangannya tidak mengarah ke arah Naka. Membuat pria itu semakin khawatir dan takut kalau sampai Gina menderita trauma dengan apa yang telah terjadi kepadanya.
Tanpa berucap lagi, Naka berdiri lalu memberikan pelukan yang sangat erat. Sampai-sampai Gina jatuh ke balakang dan Naka menindih Gina tanpa sengaja.
"Mas! Minggir ... badan kamu berat banget loh!" protes Gina merasa dadanya sesak karena tubuh Naka yang lebih besar dari dirinya kini benar-benar menindih tubuhnya tanpa di tahan barang sedikit saja. Menimpakan semua beban kepada Gina.
Naka segera menopang tangannya ke kasur, guna menahan sebagian beban berat tubuhnya, lalu menatap lekat wajah wanita yang kini berada di bawahnya.
Cup!
Satu kecupan berhasil mendarat dengan begitu sempurna di bibir Gina. Membuat wanita itu melotot, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Naka barusan.
"Mas!" pekiknya seketika di saat baru tersadar dari keterkejutannya.
__ADS_1
Cup
Cup
Cup
Bukannya berhenti, Naka justru mengecup bibir Gina berkali-kali hingga gadis itu mendorongnya.
"Kamu apa-apaan sih, Mas! Minggir ....!" rengek Gina dengan wajah memohon. Karena tubuhnya sangat lemah dan dia ingin segera memejamkan mata. Bukan malah meladeni sikap mesum dari pria yang pernah membeli dirinya.
Tentu, usahanya sia-sia saja jikalau tidak ada niatan Naka untuk beranjak dari tubuh Gina saat ini.
"Nggak!" tolak Naka sembari menggelengkan kepala. "Sebelum aku kasih hukuman ke wanita nakal yang sudah berani kabur tanpa berpamitan dulu." tegasnya.
Gina memutar bola matanya jengah. "Mana ada orang kabur pamitan dulu," gumamnya seraya memalingkan wajah. Heran sekali dengan pemikiran pria yang sekarang ini ada di atas tubuhnya.
__ADS_1