
Bab. 37
"Apa semua aman?" tanya seorang gadis yang hanya mengenakan kemeja yang kebesaran sebagai bajunya.
"Sudah di amankan oleh Nyonya, Nona," sahut pria yang menemani gadis itu pulang ke kota kelahirannya.
Gadis itu tampak melepas kacamata hitam yang dia kenakan sedari tadi.
"Pastikan tidak ada jejak aku pulang ke sini," ucap gadis yang tak lain Gina, memberi perintah pada sopir pribadinya.
"Sudah dibereskan sama Sandi, Nona. Nona Gina tenang saja. Bahkan Nyonya juga tidak memberi tahu Tuan Besar kalau Nona Gina pulang," balas pria yang duduk di kursi kemudinya.
Mendengar laporan dari pria yang ada di depannya itu membuat Gina merasa lega. Karena ia sangat malas sekali kalau sampai harus berdebat dengan orang itu. Apa lagi sama istri barunya yang sangat ingin sekali Gina cincang dan ia buat campuran bakso urat. Kalau bisa.
"Mami selalu saja seperti itu," gumam Gina.
Setelahnya tidak ada percakapan di antara mereka. Hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah rumah besar bak istana.
Bukannya senang melihat rumah yang sudah lama Gina tinggal, gadis—ralat, wanita itu menatap jengah ke arah bangunan yang dulunya terasa sangat hangat dan penuh momen bahagia bersama kedua orang tuanya.
Tentu, semua berubah ketika ia berusia sepuluh tahun, di mana orang yang seharusnya ia panggil dengan sebutan daddy itu membawa wanita lain dan juga seorang anak yang usianya tidak jauh dari Gina.
"Sudah sampai, Nona," ucap sopir pribadi Gina yang selama ini membantu dirinya hidup di luar kota.
__ADS_1
"Ck!" decak Gina menatap kesal. "Bisa nggak, kalau aku nggak usah pulang kesini, Om?" tanya Gina dengan nada malas.
"Tidak bisa begitu, Nona. Ini sudah ketentuan dari Tuan Besar. Saya hanya menerima perintah dari Nyonya, kalau keadaan genting dan Nona wajib pulang secepatnya," balas sopir pribadi Gina.
Membuat wajah Gina semakin malas saja. Ia masih sangat ingat betul kejadian lima tahun yang lalu. Namun, kini Gina harus dituntut untuk menghadapi hal serupa.
"Om adopsi aku aja, gimana? Biar pria tua itu nggak bisa seenaknya mainin aku kayak gini," pinta Gina yang langsung mendapat gelengan dari pria itu.
Terdengar helaan napas kasar dari pria yang kini menoleh ke arah belakang. Menatap Gina dengan tatapan sendu.
"Aresti, kamu masih punya orang tua. Kasihan Mami kamu kalau kamu lemah kayak gini. Perjuangkan apa yang sudah kamu pinjamkan ke mereka. Oke?" ujar pria itu menatap penuh arti ke arah Gina.
Gina tidak menjawab, namun wanita itu mengangguk.
"Oke, demi Mami. Saatnya lo tampil sebagai Regina yang dipuja semua orang, Gi," gumam Gina yang kemudian keluar dari mobil, setelah om Dias membukakan pintu untuknya.
Wanita itu melangkah begitu anggun dengan kaki jenjangnya yang terekspos.
Tanpa mengetuk pintu terlebih duku, Gina membuka dan melangkah masuk begitu saja. Membuat beberapa pekerja rumah yang tengah membersihkan ruang depan, tampak terkejut melihat kedatangan Nona pertama rumah ini.
Cepat-cepat mereka membungkukkan tubuhnya, menyambut kedatangan Gina dengan sangat sopan dan penuh hormat.
"Selamat datang kembali, Nona Regina," ucap beberapa orang yang kini membungkuk pada Gina.
__ADS_1
Gina mengangguk, tanpa mengucap sepatah kata wanita itu menggerakkan tangannya dan menyuruh mereka melanjutkan pekerjaan mereka.
"Di mana Mami?" tanya Gina ketika salah satu dari mereka mendekat ke arahnya.
Tatapannya penuh rindu, Gina tahu itu dari balik kacamata hitam yang ia pakai. Ingin rasanya Gina berhamburan ke dalam pelukan wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini. Namun, Gina menahan inginnya. Dia harus menjaga wibawa dirinya. Oleh sebab itu Gina meluruskan pandangan ke arah lain.
"Nyonya ada di ruang tengah, Nona. Bersama dengan Tuan Besar dan—"
"Cukup!" potong Gina cepat. "Tidak usah sebut dia. Bersihkan kamar lamaku." perintah Gina dengan nada begitu tegas. Bahkan wanita itu tidak sedikit pun menurunkan pandangannya.
Sementara wanita paruh baya yang berdiri di dekat Gina tampak bingung dan seolah takut, bagaimana cara menyampaikan sesuatu pada Gina.
"Kenapa?" Gina meliriknya tegas. Tanpa mengubah posisi berdirinya saat ini.
"Maaf, Nona. Setelah Nona Gina pergi dari rumah ini, kamar Nona di—"
"Ck!" Gina langsung berdecak karena tahu apa yang akan dikatakan oleh orang yang mengasuh dirinya ketika kecil. Di kala kedua orang tuanya sibuk bekerja, merintis usaha hingga menjadi sebuah perusahaan yang cukup berpengaruh juga di dalam negeri. "Bersihkan semua barang-barang nya. Aku nggak mau ada barang dia sedikit pun di kamarku." tegas Gina.
Setelah mengatakan itu, Gina melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah. Di mana ruangan itu memang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul, dan dulunya merupakan tempat bermain Gina dengan kedua orang tuanya.
Terdengar suara tawa dan senda gurau ketika Gina mendekati ruangan itu. Bibirnya tersenyum masam ketika mendapati hal tersebut. Terlebih lagi ketika melihat wanita yang sudah tidak pernah ia lihat selama lima tahun terakhir ini. Dia duduk sendiri, menyaksikan orang-orang di sekitarnya dengan tatapan penuh luka.
"Waaaahhh ... ada yang sedang bahagia nih, tampaknya!" seru Gina memasang wajah senangnya dan berjalan begitu pongah ke arah mereka.
__ADS_1
Membuat lima orang yang berada di ruang tengah tersebut pun menoleh ke arah Gina. Mereka terkejut melihat keberadaan seorang nona besar yang sudah lama kabur dari rumah, kini kembali.
"Nggak di ajak gabung nih, akunya?" tanya Gina lagi sambil melepas kacamata hitamnya. Menatap mereka satu per satu tanpa memudarkan senyuman di bibirnya.