Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 44


__ADS_3

Bab. 44


Rasa pusing yang Gina rasakan ternyata masih berlanjut. Wanita itu sampai ijin tidak mengikuti rapat yang di adakan setiap bulannya demi meninjau perkembangan perusahaan atas pimpinannya.


Contohnya sekarang. Gina yang tengah berkonsultasi dengan beberapa dewan direksi yang mendukung peraturan baru yang Gina buat, wanita itu mengeluhkan rasa pusingnya. Bahkan wajahnya tampak begitu pucat.


"Nona nggak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalau memang masih sakit, mending nggak usah berangkat dulu, Nona Gina. Kesehatan anda lebih penting. Biar ini kami yang menangani," ujar yang lain.


Mereka tidak tega melihat Gina yang tampak pucat, tetapi masih memaksakan diri untuk bekerja.


Sedangkan Gina merasa dirinya masih sanggup untuk beberapa jam ke depan. Karena jni penyusunan yang sangat penting baginya, sehinga ia memilih untuk tetap bertahan.


"Kalau nggak kuat, jangan dipaksakan, Nona," ujar om Dias mendekati Gina yang tengah memijat pelipisnya.


Gina menggelengkan kepala. Lalu mengapkan duduknya. Rasa pusing di kepalanya datang dan pergi begitu saja. Tidak terus menetap. Hanya sesekali terasa, tetapi jika sudah datang, perutnya pun juga ikut memberontak.


"Aku masih kuat, Om," sahut Gina.

__ADS_1


Karena melihat Gina yang tetap gigih bertahan, akhirnya mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka hingga jam makan siang tiba.


Setelah dua orang itu pergi, Gina langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Om Dias segera menutupi kaki Gina dengan selimut yang memang tersedia di lemari kecil yang ada di sebelah meja kerja wanita itu.


"Kenapa muter-muter ya rasanya, Om? Perasaan tensiku juga normal loh," tanya Gina ketika om Dias merapikan meja kerja Gina.


"Apa mau ke dokter? Biar tahu kenapa Nona Gina sering pusing dan kakinya kadang bengkak," tawar om Dias.


Gina menoleh lalu memikirkan ucapan om Dias barusan.


"Lama nggak, biasanya kalau periksa gitu?" Gina teringat kalau masih ada pertemuan sore nanti. Dan waktunya ke depan nanti sangat padat. Kalau tubuhnya seperti ini, mana bisa ia buat kerja lebih sibuk lagi.


Gina menurut saja. Wanita itu memilih untuk memejamkan mata sebentar. Akan tetapi tiba-tiba saja terlintas sebuah makanan di kepalanya.


"Om," panggil Gina. Membuat om Dias menoleh. "Di sekitar sini ada yang jual rujak sayur, nggak? Aku pingin makan siang sama itu," ucap Gina menyampaikan keinginannya.


Om Dias mengernyit heran. Namun pria itu segera mengangguk dan pamit keluar untuk mencarikan makanan yang Gina mau.


"Saya carikan," balas om Dias lalu keluar dari ruangan Gina.

__ADS_1


Sepeninggal om Dias, Gina rebahan tanpa memakai bantal, berharap kalau sakit kepalanya segera menghilang. Lalu wanita itu juga membuka sosial media nya. Di mana selama dua bulan ini Gina tidak sempat membuka sosial media miliknya. Karena terlalu sibuk dengan urusan perusahaan.


Kening wanita itu mengernyit ketika membaca sebuah caption pada postingan seseorang.


"Sepuluh miliyar? Enak banget," gumamnya.


Kemudian Gina mengklik lebih banyak lagi caption yang ternyata lumayan panjang tersebut. Matanya melebar ketika mendapat kesimpulan dari yang dia baca saat ini. Sampai-sampai Gina terduduk.


"Gila apa ya dia! Buang-buang duit banget. Mana banyak lagi!" seru Gina ketika tahu Naka seolah membuka sayembara bagi yang menemukan dirinya akan dikasih imbalan. Atau kalau dirinya yang datang sendiri ke sana. "Nggak mikir kali ya, kalau nanti banyak yang nipu. Ck! Segitunya banget kamu, Mas."


Gina menggelengkan kepala, menyayangkan sikap Naka yang membuang uang seperti itu.


"Kalau aku di Jakarta, udah pasti aku ambil itu uang. Sayang banget, nggak jadi dapat sepuluh miliyar." Gina memasang muka kecewa karena tidak bisa mengklaim uang itu. "Kenapa nggak pas nawar aku waktu itu sepuluh miliyarnya. Bukan malah dua puluh ribu." Gina menggerutui sikap Naka yang sangat curang.


Meski sudah pulang dan mendapatkan posisinya yang sebenarnya, bahkan uangnya saja lebih dari itu, tetapi Gina masih menyayangkan kalau dia tidak bisa mengklaim uang itu.


Di satu sisi karena jaraknya yang lumayan jauh, di sisi lain juga kegiatannya seolah tidak ada senggangnya sedikit saja. Bahkan untuk ia membuka room chat dengan Tania saja sedikit susah. Akibat kesibukan mereka yang sering berbenturan.


Tanpa sadar, Gina mengelike postingan tersebut. Di mana akun yang memposting pencarian itu milik Gibran.

__ADS_1


__ADS_2