Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 60


__ADS_3

Bab. 60


"Jelaskan! Siapa pria tadi?"


Jika biasanya mama Ester berbicara dengan nada yang begitu lembut pada Gina, namun tidak untuk sekarang ini. Wanita itu memasang wajah yang sangat serius dengan tatapan begitu tajam.


Bohong jika tidak ada rasa takut yang Gina rasakan di kala melihat ekspresi mami nya seperti ini.


"Temen, Mi," jawab Gina pada akhirnya. Namun tanpa menatap ke arah maminya. Karena ia tidak bisa berbohong jika menatap langsung wajah maminya.


Mami Ester tidak serta merta percaya begitu saja. Wanita paruh baya itu melipat tangan di depan dada. Tidak puas dengan jawaban yang Gina beri.


"Apa perlu Mami tanyakan langsung ke dia?" ini bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah ancaman yang bisa membuat situasi Gina nanti benar-benar berubah kalau sampai laki-laki itu mengatakan sesuatu yang tidak Gina inginkan.


"Nggak perlu, Mi!" tanpa sadar Gina meninggikan suaranya. Semakin membuat maminya memicingkan mata. Menelisik sesuatu yang mungkin coba Gina sembunyikan darinya.


"Dengan alasan?" cecar mami Ester.


Gina tampak menatap ke sembarang arah. Alasan apa yang tepat untuk membohongi maminya. Karena setahu Gina, wanita yang telah melahirkan dirinya ini sangat sulit untuk di bohongi.

__ADS_1


"Em ... a-anu, Mi ...."


"Cepat, Gina! Mami nggak ada waktu buat denger kebohongan yang kamu buat!" tegas mami Ester.


Wanita itu melangkah mendekat ke arah Gina yang tengah duduk di kursi single yang ada di kamar mami Ester. Sementara pria yang sekarang ini sedang mereka bahas masih berada di bawah. Mungkin sedang di sidang oleh Marhen.


"Satu," mami Ester pun mulai menghitung guna putrinya mengatakan dengan jujur. "Dua," lanjut mami Ester yang ternyata tidak main-main dengan perkataannya.


"Dia Presdir dari Kamajaya Company, Mi," jujur Gina pada akhirnya. Tetap, wanita itu tidak berani menatap langsung ke arah mami nya.


"Mami sudah tahu latar belakangnya. Yang Mami tanyakan, kamu punya hubungan apa sama dia?" ucapan mami Ester cukup mengejutkan Gina.


Gina tidak langsung menjawab bukan karena dia takut lagi. Namun, ia bingung harus memulai dari mana menceritakan tentang Naka kepada maminya.


Dengan satu tarikan napas, akhirnya Gina bercerita mengenai awal mula dirinya bertemu dengan Naka di sebuah club dan pada saat dirinya ditawar dengan harga bercanda.


"Gina ....!" geram mami Ester pada putri semata wayangnya tersebut. "Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu hanya demi uang! Uang yang kamu miliki di beberapa kartu kamu itu banyak, Gi! Kenapa malah ...." saking geramnya, mami Ester sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Kelakuan putrinya sudah di luar batas logika.


"Ya Mami pikir aja. Kalau Gina makai uang Gina sendiri, ambil dari kartu, yang ada keberadaan Gina terlacak sama tua perot itu, Mi. Bunvh diri ini namanya. Malas banget Gina, Mi," balas Gina membuat mami Ester menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Terus kamu hamil beneran?"


Deg!


'Kenapa malah nanya itu sih, Mi! Gue mana bisa ngelak.' batin Gina.


"Gina ...." desak mami Ester dengan nada penuh penekanan.


"Iya, Mi," jawab Gina dengan nada lirih serta anggukan kecil sebagai pelengkapnya.


Mata mami Ester melotot, seolah ingin keluar dari tempatnya. Putri yang selama ini ia jaga, malah ... entahlah, mami Ester sampai tidak bisa berkata-kata lagi mengenai putri satu-satunya ini.


"Besok nikah!" putus mami Ester kemudian. Di mana kali ini Gina yabg dibuat terkejut tak terkira dengan reaksi maminya.


"Mi—"


"Nggak ada penolakan!" tegas mami Ester dengan tatapan begitu tajam.


Jika sudah seperti ini, Gina bisa apa? Wanita itu tertunduk lesu. Bagaimana dengan rencananya?

__ADS_1


__ADS_2