Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 51


__ADS_3

Bab. 51


Srek!


Suara lakban yang dibuka dengan begitu keras pun terdengar menyakitkan. Namun, wanita yang duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki diikat, tampak begitu kuat. Tidak sedikit pun berteriak kesakitan meskipun nyatanya seperti itu.


Tatapan wanita itu begitu tajam pada seorang pria yang kini berdiri di hadapannya dengan senyuman menjijikkan. Rasa-rasanya ingin sekali ia tendang jauh-jauh dari sana. Namun apa daya, keadaan kaki dan tangannya diikat menyatu dengan kursi kayu yang dia duduki sekarang ini.


Wanita itu melengos di kala pria dengan perut buncit tersebut mencoba menyentuh dagunya.


"Nggak usah jual mahal kayak gini. Aku tau kamu sebenarnya menjual tubuhmu di Jakarta, kan?" ujar pria itu penuh sindiran. Tatapannya begitu lapar ketika memindai penampilan wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Sudah dimasuki berapa orang?" tanya pria itu dengan tatapan penuh hasr4t. Seolah tidak sabar untuk mencicipinya, namun dia berusaha menahan. Ingin berkenalan lebih dulu, sebelum membuat wanita di hadapannya ini tidak bisa jalan karena dirinya.


Wanita itu melirik sinis, seolah najis sekali menatap pria jelek di depannya. "Nggak laki banget. Beraninya main keroyokan." sindir wanita itu sambil meludah ke arah pria buncit tersebut.


Tak ayal, hal tersebut memicu kemarahan pria buncit karena merasa dihina. Lebih lagi sikap wanita murahan yang tidak tahu diri itu.


"Beraninya kau meludah ke arahku!" sentak pria itu dengan tatapan melotot.


"Kenapa? Lo nggak seberharga itu buat gue perlakukan dengan sopan!" tantang wanita yang tak lain ialah Gina.


Gina menarik sebelah alisnya, dengan tersenyum miring. Benar-benar membuat lawan bicaranya saat ini merasa diremehkan.

__ADS_1


Plak!


Sebuah tamparan mendarat dengan begitu sempurna, hingga memberikan bekas kemerahan di pipi yang putih dan mulus tersebut. Sampai-sampai wajah Gina menoleh ke samping.


Meski begitu, Gina sedikit pun tidak meneteskan air mata sama sekali. Tatapan wanita itu masih sama. Begitu keras dan tidak takut pada lawannya meski keadaan dirinya tidak memungkinkan.


"Kau pelacur murahan! Beraninya membuatku marah seperti ini!" geram pria buncit tersebut. Maju lebih dekat lagi, lalu mencengkeram rahang Gina. Menghadapkan wajah wanita sialan itu tepat ke arahnya. "Kau cantik, tapi mulutmu brengsek sekali."


Gina tersenyum mendengarnya. "Terimakasih atas pujiannya."


Pria buncit itu tersenyum melihat keberanian Gina yang belum pernah ia lihat pada wanita lain. Semakin membuatnya tertantang.


Pria itu kemudian mendaratkan tangannya di bagian dada Gina. Menyentuhnya memutar, sesekali memijatnya dari balik baju yang Gina kenakan.


"Kenyal dan lembut," ucap pria itu memberi komentar.


Gina mengepalkan tangan dengan rahang menyatu begitu erat. Merasa jijik tubuhnya disentuh oleh bajingan di depannya saat ini.


"Singkirkan tangan motormu itu dari tubuhku!" sentak Gina menatap begitu tajam. Seolah siap mengoyak tubuh pria itu menjadi beberapa bagian.


Pria itu tersenyum, tangannya semakin memainkan dada Gina. Bukan hanya satu, tetapi dua sekaligus.

__ADS_1


"Kenapa? Sudah mulai basah?"


Gina berusaha melepas tali yang mengikat tangannya. Namun sangat sulit. Lebih lagi ketika pria jelek itu mulai menyentuh paha dan menyingkap rok yang dia kenakan. Jijik, marah, kesal, itu yang Gina rasakan. Ditambah lagi tangan sialan itu juga mulai membuka kancing kemeja yang dia pakai.


"Wooowww ... benar-benar barang yang bagus," ucap pria itu mengagumi dada Gina yang sangat indah, di saat berhasil membuka kemeja Gina dan dihadapkan dengan dua buah kenyal yang begitu kencang dan sangat menggoda. Walau masih terbungkus oleh kacamata khusus tersebut.


"Jangan mendekat, brengsek!" cegah Gina ketika wajah pria itu mendekat ke arah dadanya.


Gina memberontak. Menggoyangkan tubuhnya guna bisa terlepas dari pria itu. Bohong jika dirinya tidak takut. Dia sangat takut. Merasa jijik jika pria itu menyentuh tubuhnya. Air mata yang berusaha dia bendung, kini mengalir begitu saja.


'Mas ... tolong ... aku nggak rela disentuh orang lain.' batin Gina.


Sedangkan orang- orang suruhan pria itu juga ikut menyaksikan apa yang dilakukan oleh bos mereka.


"Tenang aja. Aku pasti akan buat kau melayang dan merengek meminta lagi. Aku kau sudah nggak segel lagi. Jadi jangan sok merasa dikotori. Karena kau sudah kotor, Regina Kusumajaya," ucap pria itu dengan seringai penuh arti.


Maaf, baru apdet. Lagi berduka lagi🄲


Mengenai kenapa aku nggak dapat bayar, sekarang sistem di NT berubah. Kalau kalian penasaran berubahnya bagaimana, bisa baca di keuntungan author. Yuta sudah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi mungkin memang belum rejeki saja. Jangan sangkut pautkan aku nggak dapat bayar karena judul novel ini sama kayak punya e Kak Juskelapa. Apalagi aku nggak up beberapa hari. Maaf, kalian bisa bandingkan, kok. Sama atau tidaknya. Masalah aku nggak update lagi beberapa hari ini, Selain kesibukan RL, aku juga berduka lagi. Suami sepupu meninggal kemarin, deket rumah. Sebagai kerabat, enggak mungkin aku kerja terus di kamar, kan? sudah jelas ngumpul di sana dan kalian pasti tahu kesibukannya apa.


Terimakasih buat yang masih mendukung Yuta dan percaya sama Yuta kalau ini bukan plagiat. Yuta sayang kalian. Jaga kesehatan dan lisan, ya. Karena usia tidak ada yang bisa memprediksi. Tua muda sama saja. Ailopiyuuuuu😘😘

__ADS_1


__ADS_2