
Bab. 58
"Dari mana saja kamu seminggu ini, Gina? Masih ingat rumah sama kantor? Hah!"
Baru juga kakinya melangkah masuk dan belum sempat menyuruh Naka masuk ke dalam kediaman Cakradinata. Tetapi dirinya sudah mendapat semprotan dan sambutan yang luar biasa dari pria yang Gina benci.
Dengan gaya cueknya, Gina mengabaikan pertanyaan dari daddy-nya. Wanita itu memilih untuk menarik tangan Naka dan mengajak pria yang tengah mengenakan pakaian santai tersebut masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Sementara seorang wanita cantik tampak begitu lega setelah melihat Gina, yang sebelumnya sempat mengirim pesan pada Gina dan menanyakan keadaan serta keberadaannya.
Di sisi lain, ada seorang wanita lagi yang terlihat tidak senang melihat kedatangan Gina di rumah ini. Namun, Gina mengabaikan wanita itu dan memilih memeluk maminya.
"Mami nggak bosan kan nggak ada Gina di rumah selama seminggu ini?" tanya Gina dengan memasang wajah polosnya. Di mana wanita itu malah mendapat cubitan di pinggangnya hingga mengaduh.
"Dasar! Kalau emang mau kawin lari, itu bilang dulu. Biar Mami nggak nungguin kamu pulang!" geram mami Ester kepada putri kesayangannya tersebut.
Gina melirik kesal seraya mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Bukannya dicegah, ini malah didukung. Memang agak lain mami gue," gumam Gina yang terdengar begitu jelas di telinga mami Ester.
"Ya daripada kamu ujug-ujug pulang bawa anak terus bikin Mami shock. Mending pamit aja sekalian. Biar Mami bisa jalan-jalan sepuasnya cari papi baru," balas mami Ester dengan suara yang sengaja di keraskan di akhir kalimat serta lirikannya mengarah ke arah pria yang tengah di dampingi oleh wanita berwajah ketus. Sangat tidak ramah lingkungan sama sekali.
Gina mengangguk setuju. "Asal jangan seumuran Gina aja, Mi. Gina dukung!" Gina mengacungkan dua jempolnya ke arah mamanya.
Membuat Naka menatap keheranan pada interaksi ibu dan anak seperti itu. Padahal di depan mereka ada pria yang Naka tahu bernama Marhen Cakradinata—ayahnya Gina.
'Ngeri banget hubungan mereka.' batin Naka.
"Emang udah nggak bener banget mereka, Mas. Masa niat mau selingkuhin kamu, sih!" seperti biasa, Salma selalu menjadi bahan bakar di antara mereka jika terjadi percekcokan atau salah paham.
Gina dan Ester kompak melirik sinis, lalu mereka menatap ke arah Naka yang masih berdiri di sana.
"Duduk aja, Mas. Atau mau langsung ke kamar aku aja." tawar Gina dengan begitu santai dan langsung mendapat cubitan dari mami nya.
Sungguh, sikap wanitanya ini sangat berani sekali untuk ukuran bercanda di depan orang tuanya.
__ADS_1
"Jaga sikap kami, Gina!"
Lagi dan lagi Marhen di buat naik darah oleh putri kesayangannya sendiri. Namun sayangnya Gina sama sekali tidak menganggapnya.
"Bagaimana keadaan perusahaan, Dad? Aman atau malah mah bangkrut?"
Sepertinya Naka mulai terbiasa dengan cara bicara Gina kepada orang tuanya sendiri. Sebelumnya ia sudah mendengar sedikit banyak mengenai permasalahan yang terjadi di dalam keluarga Gina hingga wanita itu memutuskan hidup sendiri di ibu kota. Lepas dari orang tuanya yang sangat berpengaruh di kota Surabaya.
"Kemana aja kamu selama ini?" Marhen mengulang pertanyaannya lagi. Ada rasa khawatir, karena Guna tidak ada kabar sama sekali. Selain menghubungi Dias meminta untuk cuti dadakan.
"Lagi buatin cucu buat Daddy." celetuk Gina. Lalu wanita itu duduk di samping Naka. Menatap pria itu sebentar, kemudian berpindah menatap ke arah daddy-nya. "Kalau udah keluar, disayang cucunya, Dad. Jangan wanita buangan yang disayang terus. Kalau nggak ingin Cakradinata Group Gina hancurin."
Salma melotot dengan ancaman yang baru saja Gina layangkan. Bisa-bisanya bocah kurang ajar itu ingin menghancurkan perusahaan yang dia incar selama ini.
Di sisi lain, Naka menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Diam-diam pria itu tersenyum melihat tingkah Gina.
'Nggak salah pilih cewek memang.' batin Naka seolah bangga melihat sikap Gina yang begitu berani.
__ADS_1