
Bab. 25
Acara wisuda berlangsung lancar. Semua teman-temannya di dampingi oleh keluarga mereka masing-masing. Hanya Gina lah yang tampak sendiri. Namun, gadis itu tidak akan terhanyut oleh perasaan sedihnya yang nanti justru membuat dirinya semakin rapuh. Tidak. Gina bukan orang yang berlarut dalam rasa dukanya.
"Lo beneran nggak bisa datang?" tanya Gina pada seseorang yang saat ini tengah dia hubungi. "Ya udah sih. Kalau nggak jadi datang, gue langsung pulang aja habis ini. Oh, ya. Ntar malem gue nari lagi ya. Kangen, pingin denger teriakan para zombie gue," ucap Gina lagi.
Lalu gadis itu mematikan sambungan di antara mereka ketika orang diseberang sana mengiyakan ucapannya barusan.
"Huufftt!" hembusan napas berat keluar dadi mulut Gina.
Mata gadis itu menatap ke bawah. Di mana sepatu cantik serta setelan kebaya dengan rok di bawah lutut itu tampak terlihat begitu sangat bagus. Akan sangat disayangkan jika dirinya tidak mengambil gambar ketika mengenakan baju semahal yang ia pakai saat ini. Kapan lagi coba memakai baju seharga motor. Ya, kan? Batin Gina cekikikan sendiri. Bodo amat kalau ada yang melihat dirinya itu tidak waras.
Yang terpenting baginya ia tidak merusuh hidup orang lain. Cukup bahagia dengan caranya sendiri. Meskipun sebenarnya di dalam rekening Gina saat ini, ada nominal yang sangat banyak. Tetapi gadis itu tetap harus berhati-hati dalam mempergunakannya.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Beberapa kali Gina mengambil gambar wajahnya sendiri dengan berbagai pose. Terkadang juga sampai menampilkan keseluruhan penampilannya saat ini dengan mengarahkan ponselnya ke atas.
Sungguh tragis bukan? Kalau malam dipuja sebagai dewi penari paling hot. Kalau di apartemen selalu ditemani oleh seorang Presdir. Akan tetapi jika saat berada di kampus, gadis itu selalu sendiri dan menutupi sinar dirinya dengan sikap dinginnya yang begitu parah. Walaupun terkadang gadis itu juga ramah jika ada seseorang yang menegurnya. Itupun tidak sembarang orang yang bisa membuat Gina menjadi ramah.
Hingga di jepretan terakhir, Gina cukup mendelik di saat mendapati ada orang lain di dalam fotonya. Lebih lagi orang itu tanpa permisi berdiri di belakangnya dan langsung memasukkan wajahnya ke dalam frame kamera di ponsel Gina.
"Kasian banget, cantik-cantik sendirian. Mana foto-foto sendiri, lagi," sindir orang itu yang kemudian duduk di samping Gina tanpa permisi.
Akan tetapi belum juga pantatnya menyentuh bangku dari besi tersebut, bahunya didorong kuat oleh pria yang lain.
"Siapa bilang dia sendiri! Orang dia sama gue," sahut pria itu dan sangat kurang ajar nya dia mengambil alih ponsel Gina, lalu mendekatkan diri dengan gadis yang masih syok melihat keberadaan mereka saat ini. Karena seingatnya ia tidak mengundang mereka datang di acara paling penting seperti sekarang.
"Sialan!" umpat pria yang didorong tadi.
Sementara orang yang mendorongnya itu justru tampak melakukan.sesi foto bersama Gina dengan ekspresi begitu menyebalkan. Hingga kemudian dia mendapat batunya.
__ADS_1
Plak!
"Siapa suruh foto makai ponsel aku, Kak!" amuk Gina yang baru tersadar setelah pria di sampingnya itu mengambil banyak gambar mereka berdua.
"Awww ... sakit, Gi!" rengek pria yang dipukul oleh Gina. "Lo tuh cewek apa cowok, sih? Herman banget deh gue. Tenaganya kayak orang yang biasa nguli aja," sambung pria itu sambil mengusap lengannya yang dipukuli oleh Gina.
"Biarin! Siapa suruh kalian hancurin ketenangan Aku!" balas Gina ketus. "Orang nggak di undang juga. Main datang datang seenaknya sendiri." omelnya lagi yang masih kesal.
Gagal sudah waktu tenangnya barusan.
"Kalau yang itu, jangan salahkan gue. Salahkan Bos tuh, yang ngajakin kita buat kesini," sahut Irham yang dipukuli oleh Gina barusan. "Padahal kerjaan gue masih numpuk. Dia malah ngajakin ke sini buat bawain lo itu."
Mendengar pengakuan dari Irham, di mana Gina tahu pria itu merupakan asisten dari Naka, lantas Gina mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Mencari sosok orang yang di maksud oleh Irham. Gina tidak menemukan sosok tersebut.
"Dia nggak ikut turun," ujar Gibran seolah tahu apa yang sedang dicari oleh Gina. "Jaga image dia." imbuhnya lagi.
Gina mengerti. Memang, sebagai seorang pimpinan perusahaan yang sangat besar seperti Kamajaya Company, jelas tidak bisa sembarangan bertindak. Lagi pula hubungan di antara mereka juga tidak sedekat ini sampai-sampai pria itu harus datang ke acara wisudanya. Meskipun Naka sempat berkata ingin datang. Gina pikir itu hanya bualan semata.
"Buanget. Apa lagi kalau sampai ketahuan sama ...." Irham tidak jadi melanjutkan kalimatnya dj saat mendapat tendangan dari Gibran di bawah sana. Juga ratapan penuh peringatan oleh Gibran.
"Sama siapa?" tanya Gina terlanjur penasaran.
Gibran dan Irham saling pandang dan berbicara lewat sorot mata mereka. Lalu dengan kompak mereka menatap ke arah Gina.
"Oh, ya. Ini hadiah dari gue," Gibran memberi sebuah kotak kecil pada Gina. Pria itu juga mengalihkan peetanyaan Gina tadi.
Kening Gina mengerut. Tidak paham maksud hadiah yang diberikan oleh Gibran.
"Hadiah buat apa?" tanya Gina seraya menunjukkan barang yang ada di tangannya sekarang.
Gibran tersenyum manis. Semakin menambah nilai ketampanannya sedikit.
__ADS_1
"Biar semangat nanti itunya," jawab Gibran terdengar begitu ambigu.
Plak!
"Jangan bikin anak orang salah presepsi!" sahut Irham tidak tahan menahan rasa keaalmya pada Gibran.
Gibran tertawa melihat ekspresi Gina yang semakin bingung.
"Itu cuma kalung biasa. Jual aja kalau nanti butuh buat beli buku," akhirnya Gibran memberitahu apa isi di dalam kotak kecil yang sekarang ini berada di tangan Gina.
Tentu saja Gina langsung membukanya di saat mendengar jika di tangannya sekarang ada sebuah kalung.
"Waaaahh ...." binar di matanya tidak bisa dipungkiri lagi jika gadis itu sangat suka dengan pemberian Gibran.
"Suka?" tanya Gibran dan mendapat anggukan.
"Boleh kupakai?" tanya Gina.
"Jangan!" cegah dua pria yang ada di dekat Gina secara bersamaan. Sampai-sampai membuat Gina sedikit tersentak dengan sikap mereka.
"Kenapa?" tanya Gina bingung. "Bukanya kalau ngasih hadiah sama orang, terus dipakai, senang, kan?" Gina berganti menatap menyelidik ke arah Gibran. Membuat Gibran menelan salivanya. "Jangan bilang kalau Kak Gib kasih cewek-cewek yang Kak Gib pepet itu dengan kalung kayak gini? Terus Kak Gib takut ketahuan dan diputusin sama mereka, kan?" tuduh Gina.
Irham tidak berhentinya tertawa ketika melihat Gibran mati kutu seperti ini.
"Bener, Gi! Dia takut kalau ketahuan nggak bisa ahemin mereka!" balas Irham mengenai tuduhan Gina pada Gibran.
Gibran mendengkus kesal serta melayangkan lirikan sinis ke arah Irham.
"Bukan cuma itu aja, tapi takut nyawa gue melayang kalau ketahuan sama bos yang posesipnya kebangetan." jelas Gibran.
Gina terdiam, menghentikan pergerakan tangannya yang ingin mengambil kalung itu dari tempatnya.
__ADS_1
"Maksud kalian?" tanya Gina pada dua pria yang saat ini tampak saling menatap dan saling menyalahkan lewat sorot mata mereka.