Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 53


__ADS_3

Bab. 53


"Dasar, bocil!" sindir Naka yang kemudian keluar dari ruangan penuh darah tersebut.


Tala tersenyum penuh arti menatap kepergian Naka dan Gina yang diikuti oleh om Dias. Remaja itu kembali menatap ke arah Endra. Membuat Endra refleks merangkak mundur.


Irham yang masih di sana pun menatap heran ke arah bocah remaja di depannya itu.


"Lo mau ngapain, Bocah! Jangan aneh-aneh. Nambah beban gue aja lo." ingat Irham yang belum tahu siapa itu Nattala sebenarnya.


Tala tertawa sambil menoleh dengan wajah imutnya.


"Mas Ham mau liat gue main-main, nggak? Kalau bisa sambil vidioin ya!" pintanya sembari mengedipkan mata berkali-kali.


"Serah lo!"


"Maacih, Mas Hamham!" balas Tala begitu senang.

__ADS_1


Namun tatapan Tala kian berubah ketika kembali menatap Endra.


"Lo salah menilai Mbak Gina, Ncit. Dia nggak sama kek Resa yang tolol itu," ucap Tala dengan wajah santainya. Tala memukul mulutnya sendiri. "Eh, walau gitu dia juga kakak gue ding." cengirnya kemudian. "Tapi, lo udah salah nyentuh Mbak Gina juga. Untung ini gue yang dihubungi sama Om Dias. Coba kalau Mama Ester. Udah dibikin burung bakar anu lo yang pendek itu. Jadi, bersyukur lo ketemunya sama gue. Karena kita sama-sama laki-laki, jadi gue nggak akan kek Mama Ester. Palingan cuma butuh ...."


Tala tidak melanjutkan ucapannya. Bocah itu menatap ke belakang, di mana orang-orang kekar dengan pakaian serba hitam yang ada di dekat pintu, mengangguk serempak, lalu keluar ruangan. Membuat Irham bingung.


"Lo mau apa sih, Cil?" tanya Irham tak sabaran sembari menahan kesal.


"Cieee ... yang udah pingin banget alih profesi." goda Tala dengan raut riangnya lagi. Berbeda sekali dengan dirinya ketika menatap Endra. "Kerja sama gue aja Mas Ham, nggak usah ikut Mas Naka lagi. Gue bayar tiga kali lipat, mau?" tawar Tala semakin membuat Irham gemas menghadapi adik dari Gina tersebut.


Irham tidak menyahut lagi. Daripada kepalanya semakin pusing menghadapi bocah itu.


"Cil, lo ...."


Tala tertawa. "Mas Hamham tenang aja. Mau alih profesi jadi kameramen, kan? Ya udah, Mas. Biasanya tuh di mana-mana kameramen selalu selamat kok. Tenang aja." kekehnya tanpa beban.


Irham menggelengkan kepala. Jika dia tetap berada di sini, yang ada lama-lama gila sendiri.

__ADS_1


"Bocil kematian milik Gina ternyata bukan isapan telunjuk belaka," gumam Irham ketika Tala mengeluarkan beberapa peralatan bedahnya. Bukan. Lebih tepatnya semua itu peralatan penyiksaan untuk mangsanya.


Tala terkekeh. "Seru loh, Mas. Mau gabung? Aku kasih separuhnya deh," tawar Tala lagi sembari mengacungkan pisau kecil ke arah Irham.


"Bocil edyan!" Irham berbalik badan dan melangkah pergi.


"Loh, Mas Hamham! Yang midioin siapa!" teriaknya dengan tawa yang begitu keras. Sedang Endra sudah diikat di kursi yang dipakai oleh Gina tadi.


"Gue masih waras!" teriak Irham memberi sahutan.


Tala menatap tajam ke arah Endra.


"Tu-tuan Mu-muda ... ampuni sa-saya ..." ucapnya tergagap.


Tala menyeringai dengan alis terangkat.


"Dari awal lo gue biarin nyentuh Resa, karena dia emang murahan. Tapi, Mbak Gina? Lo udah salah besar, Bor. Sekarang nikmati aja hukuman lo. Dari pada Mama Ester yang ke sini, kan?" Tala tersenyum menyeringai dan ruangan itu seketika dipenuhi oleh teriakan serta rintihan yang terdengar begitu mengerikan.

__ADS_1


Lah, Mas Hamham malah kabur😅😂


__ADS_2