Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 50


__ADS_3

Bab. 50


Naka masih memilih diam. Sambil terus membaca tentang keluarga Gina, pria itu juga mendengarkan ocehan dua temannya yang masih berlanjut.


"Pantesan lo selalu nolak kalau gue kasih uang lebih," gumam Naka menemukan keanehan yang ia rasa pada Gina.


"Jelas, lah! Orang dua mikiyar aja bukan apa-apa bagi dia," sahut Irham. "Eh, kita kan ada kerjasama sama perusahaan Cakradinata, kan?" ujar Irham kalau tidak salah mengingat.


Naka mengalihkan tatapannya pada Irham seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Nah, kalau emang iya. Lo bisa gunaim itu buat alasan kunjungan kerja aja. Biar nggak terlalu murahan banget lo kesana cuma mau nyamperin dia. Jaga harga dikit. Jangan dibanting." Gibran bersiap beranjak dari sana sebelum mendapat bogeman lagi dari Naka.


"Bener, Bos. Lo laki. Harus jaga harga, meskipun muna juga nggak masalah. Yang penting harga lo aman, tujuan lo tercapai," timpal Irham setuju.


"Kalau gitu kita ke sana sekarang."


Kan? Sudah dibilang jangan macam-macam jika itu menyangkut Gina. Begini kan jadinya.

__ADS_1


"Nggak bisa. Habis ini ada pertemuan penting." tolak Irham dengan tegas dan berani. Meski pria itu tidak berani menatap ke arah Naka.


Naka mengeratkan rahang dengan picingan mata mengarah ke Irham. Siap menerkam mangsanya dalam satu kali hap saja. Akan tetapi, semua itu segera dicegah oleh Gibran.


"Dia punya asisten. Kata informan gue, Gina manggilnya om. Mereka sangat dekat. Bahkan mungkin bisa dibilang seperti anak dan ayah," ucap Gibran menarik perhatian Naka dan mengurungkan niat pria itu untuk menghajar Irham.


"Siapa? Masih muda? Dia berani nyentuh milik gue?" cecar Naka tak sabaran.


Gibran menggeleng. "Namanya Dias Kusumajaya. Dia sebenarnya adik dari Ester, mamanya Gina. Tapi nggak ada yang banyak tahu mengenai ini. Bahkan Marhen sendiri. Orang tahunya Dias merupakan adik angkat atau orang yang Ester tolong."


Naka semakin tertarik dengan keluarga wanita mantan penari itu. Pria yang masih mengenakan jas tersebut, tampak melepasnya dan melempar begitu saja ke arah Irham. Tatapannya serius pada Gibran. Bersiap mendengar penjelasan sebelum bertindak gegabah.


"Dia nggak jadi ahli waris yang sesungguhnya?" semakin tahu mengenai keluarga Gina, semakin membuat Naka penasaran.


Gibran mengangkat bahunya. "Gue nggak tahu sedetail itu. Alasan pasyinya kenapa Dias nggak mau, informan gue nggak bisa nerobos. Akses mengenai pria itu tertutup rapat. Dia hanya terlihat sebagai asisten dan orang yang ngebantu Gina menjalankan Cakradinata Company saat ini."


"Gina jadi CEO!" seru Irham melototkan mata. Tak percaya jika wanita yang ia kenal sangat absurd, sekarang malah menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar.

__ADS_1


"Udah takdir dia. Mungkin kepulangannya kali ini karena dia dipaksa. Soalnya informan gue bilang, Marhen mulai sakit dan Ester meminta Dias membawa Gina pulang," sahut Gibran.


"Bukannya perwakilan yang dulu menemui kita juga seorang cewek muda, Bos? Kalau nggak salah Resa namanya," ingat Irham.


"Dia anak yang di bawa istri kedua Marhen." jelas Gibran.


Lengkap sudah informasi mengenai Gina. Apakah Naka terkejut? Jelas, iya! Pria itu masih tidak percaya bisa dikibulin oleh sikap Gina yang polos menurut Naka.


"Kali ini gue nggak bakalan lepasin lo, Baby. Lo milik gue, dan lo harus terima hukuman gue." tekan Naka membuat dua temannya menatap ngeri.


Lebih lagi perasaan Irham semakin tidak enak. Apa lagi ketika Naka menoleh ke arahnya.


"A-apa?" tanya Irham gugup. Bersiap keluar, namun segera terhenti ketika mendengar perintah dari orang yang berkuasa di sini.


"Lo tau apa yang lo lakukan, kan?" tanya Naka dengan suara lirih tetapi penuh tekanan. Serta tatapan pria itu yang menggambarkan kalau dia sedang tidak menerima penolakan.


Glek!

__ADS_1


Flashback Off.


Naaahh ... udah tau kan kenapa dia ujug-ujug udah ada di Surabaya dan ngenalin Om Dias? Begitu tuh ceritanya, Yaang. heheh. Maaf, ya kalau aku belum bisa gila apdet. Mungkin kasusnya sama kayak penulis lain. Si Gina dan Naka ini novel amalan. eh, maksudnya tidak mendapat bayaran dari Entun sedikit pun. Tapi tenang aja, aku bakalan tetep lanjut kok. Di sisi lain juga aku sedang berduka. Maaf, jika sering lambat☺


__ADS_2