
Bab. 57
Kalau boleh, Naka akan memasukkan Gina ke dalam karung lalu benar-benar ia bawa pulang. Wanitanya ini terlalu menggemaskan di matanya.
Namun, Naka memilih untuk bersabar san melanjutkan kegiatannya agar segera selesai. Karena ia tidak mau anak-anaknya nanti kelaparan di dalam sana.
Mau serapat apapun Gina menutupi fakta yang tidak akan pernah bisa Gina sembunyikan darinya, juga seberapa bagus akting yang diperankan oleh wanita yang mampu membuatnya selalu jatuh hati untuk ke sekian kali dan juga wanita yang selalu membangkitkan inginnya untuk melakukannya lagi dan lagi. Toh, seiring dengan bertambahnya hari, perut Gina akan membesar juga.
Jangan kira Gina akan berhenti di sampai di situ saja. Wanita itu terlalu menggemaskan jika sedang cemburu seperti ini. Dia terus melayangkan pertanyaan pada Naka mengenai wanita lain yang Gina maksud.
Sedangkan Naka sendiri mengabaikan pertanyaan tak penting dari Gina. Hingga pada akhirnya masakannya matang dan cepat-cepat pria bertelanjang dada tersebut menyajikan di piring lalu menaruhnya di atas meja. Tepat di depan Gina.
"Udah, jangan ngomel-ngomel nggak jelas. Makan dulu. Aku nggak mau kalah anakku kelaparan," suruh Naka sembari menyodorkan sendok ke arah Gina.
Gina berdecak kesal. Karena dari sekian pertanyaan yang ia layangkan tadi, tidak ada satu pun yang dijawab oleh Naka. Pria itu seolah dengan sengaja mengabaikan pertanyaannya.
__ADS_1
"Udah nggak napsu!" balas Gina sembari memalingkan wajahnya ke samping. Tidak mau melihat pria yang saat ini menatap dirinya dengan penuh rasa cinta.
Naka menghela napas. Berusaha sekuat mungkin menahan dan menekan rasa gemasnya terhadap sikap Gina. Kalau saja tidak ingat ada sebuah nyawa lain di dalam perut Gina, mungkin Naka sudah melakukannya di dapur saat ini. Ia harus bisa menahan rasa itu.
"Mau di suapin makai sendok apa makai mulut? Hmm?" tawar Naka dengan tatapan yang begitu jahil.
Gina merasa keheranan. Sikap dan sifat pria yang sempat membeli dirinya dengan harga yang lumayan murah untuk dirinya saat ini, sangatlah berbeda dengan sikap Naka waktu pertama kali mereka bertemu. Selain mesin, Naka juga begitu jahil.
"Apaan sih! Nggak asik banget," kesal Gina menatap sinis Naka.
"Oh ... mau disuapin makai mulut? Dengan senang hati, permais—"
"Nggak ya!" tolak Gina memotong kalimat Naka. Wanita itu juga mengambil alih sendok yang dipegang oleh Naka. "Gue bisa makan sendiri. Sana, mandi. Lo bau banget!" imbuh Gina yang kemudian menjauh dari Naka. Duduk di kursi lain yang berjarak dengan Naka.
Ucapan Gina barusan sontak membuat Naka langsung mengangkat tangannya. Mencium badannya sendiri. Perasaan, sebelum ke dapur, Naka mandi terlebih dulu baru memasak. Belum ada satu jam yang lalu.
__ADS_1
"Aku udah mandi loh, Yaang. Mana mungkin udah bau lagi. Harum kok!" ujar Naka ketika mendapati tubuhnya sangat wangi meski sehabis memasak.
Gina mencebikkan bibirnya sembari membuat gerakan yang begitu menggemaskan.
"Idih mindi, misih hiyim. Nyenyenye ....!
Lihatlah wanita berbadan dua tersebut, dia benar-benar menguji keimanan Naka yang begitu tipis. Setipis tisu dibelah menjadi sepuluh jika berada di dekat Gina.
Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu, di kala keadaan yang tidak memungkinkan bagi Naka. Kalau saja tidak ingat apa kata dokter yang pernah memeriksa Gina beberapa hari lalu.
Naka melipat tangan di depan dada, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi makan. Menatap Gina dengan bibir terangkat.
"Habisin sarapannya sekarang, atau kamu mau kuhabisin sebagai makanan pembuka? Hmm?" alis Naka terangkat, begitu gemas dengan sisi lain Gina yang seperti ini.
Rupanya wanita itu mempunyai sisi imut yang sangat membahayakan. Batin Naka.
__ADS_1