Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 39


__ADS_3

Bab. 39


Sontak, Salma pun langsung menghampiri Gina. Memeluk anak dirinya itu lalu mengcupi pipi Gina.


"Maafkan Mama, Sayang. Mama terlalu shock tadi. Nggak menyangka kalau kamu akhirnya pulang. Saking senangnya, Mama sampai nggak bisa berkata-kata," ujar Salma yang penuh dengan sikap kepalsuan.


Namun Gina memberi anggukan dan juga senyuman yang tak kalah palsu dari wanita di hadapannya ini.


'Okey, Tante pelakor ... lo mau adu mekanik sama gue? Gue jabanin mah kalau cuma akting beginian doang.' batin Gina. Wanita itu tersenyum sangat manis ke arah istri kedua daddy-nya yang artinya dia merupakan mama tirinya.


"Enggak apa-apa, Tante. Gina tau kok, kalau Tante itu juga sibuk, kan?" ujar Gina menanggapi akting mama tirinya.


Salma mengangguk, membenarkan ucapan Gina. Wanita yang usianya lebih muda lima tahun dari mami nya itu tampak mengusap lembut lengan Gina. Sampai-sampai Gina melihat Resa cemberut menatapnya. Sepertinya gadis itu sedang cemburu, karena mamanya terlihat berada di pihaknya.


"Iya, Sayang. Mama sibuk ba—"

__ADS_1


"Sibuk mikirin gimana caranya alihin warisan, kan?" skak Gina langsung tepat mengenai sasaran. Membuat Salma mematung.


"Gina!" sentak Marhen dengan suara begitu menggema. Menatap tajam ke arah putrinya. "Jangan bicara omong kosong!" imbuhnya lagi dengan intonasi yang lebih tinggi.


Apakah Gina takut? Oh, jelas saja tidak. Wanita itu kemudian berdiri, mengabaikan Salma yang masih berusaha mengambil alih perhatian Gina.


"Udahlah, Dad. Gina capek, jangan akan debat dulu. Simpen aja tenaganya buat ntar malem. Masih suka main di sembarang tempat, kan?" Gina menaikkan sebelah alisnya dan juga tersenyum miring. Menatap penuh makna dan juga penuh kebencian akan sosok pria yang ada di depannya sana.


"Kalau begitu Gina istirahat dulu. Minggir, Tante. Gina masih bau. Soalnya semalam habis praktek penyatuan dua cairan kental yang berbeda kandungan. Belum sempat mandi juga karena pagi-pagi tadi Om Dias sudah jemput aku. Daripada nanti Tante juga ikutan bau dan malah dituduh main dengan pria lain, mending jangan dekat-dekat sama Gina, ya!" ingatnya pada mama dirinya tersebut.


"Jadi kelakuan kamu kayak gitu di luar sana?" sahut gadis itu berusaha untuk menjatuhkan Gina di depan orang tuanya.


Gina menoleh sambil tersenyum bangga sampai matanya menyipit.


"Iya. Mumpung masih laku, kan, ya? Jadi manfaatin aja. Ntar kalau udah nikah, udah nggak boleh coba-coba soalnya," balas Gina yang tidak terprovokasi sama sekali dengan ucapan Resa.

__ADS_1


Reaksi Gina yang santai seperti itu membuat Resa kesal sendiri.


Sementara Marhen benar-benar tidak bisa menahan emosinya yang semakin meluap.


"Apa kamu mengikuti pergaulan bebas?" tanya Marhen dengan tatapan begitu dalam dan tegas.


Gina terdiam, seolah mengingat apa yang ia lakukan. Lalu wanita itu menatap ke arah mami nya yang juga sedikit shock dengan fakta yang dia dengar dari Gina barusan. Hanya saja mami Ester bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Mi, Gina anak kandungnya Daddy, kan?" tanya Gina dengan suara dan tatapan yang sangat lembut mengarah ke mami nya.


Mami Ester mengerjam samar. "Seribu persen bibitnya Daddy. Karena Mami nggak pernah lakuin itu sama pria lain."


"Naaaaahhh ....!" seru Gina seketika. Membuat lima orang di sana sedikit kaget. Apa lagi wanita itu sambil menepuk tangannya. "Daddy udah denger, kan? Gina anaknya Daddy. Aseli tanpa imitasi dan campuran! Jadi, apa yang Gina lakuin ini sudah jelas nurun kelakuan Daddy. Betul, nggak?" ujar Gina yang kemudian berlalu pergi sambil tersenyum sinis ke arah Salma dan Resa.


Memang kurang ajar sekali mulut wanita itu jika sudah benci sama seseorang. Tidak bisa dihentikan barang sedikit saja.

__ADS_1


__ADS_2