Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 36


__ADS_3

Bab. 36


Naka yang tengah berkelana di alam mimpinya, tiba-tiba saja dipaksa untuk bangun ketika mendengar alarm di ponselnya. Pria itu mengucek mata, lalu meraih ponsel dan mematikan alarm.


Belum sempat membuka mata dengan sempurna, Naka dikejutkan dengan ketidak adaan Gina di sampingnya.


"Kemana dia?" ujar Naka mengedarkan pandangan ke arah seluruh kamar. Tetapi dia tidak menemukan sosok gadis yang sudah dia perawani. Eh, gadis yang sudah dia bobol semalam dengan cara paksa.


Semalam, ketika mendapat kabar dari orang suruhan yang Naka tugaskan untuk mengawasi Gina, Naka langsung menuju club Naimos di kala mendengar jika Dewi penari di sana akan tampil tanpa topeng. Jelas, Naka keberatan.


Menggunakan topeng saja sudah banyak yang ingin membungkus gadis itu, apa lagi kalau sampai Gina mengungkapkan wujud aslinya. Jelas, makin banyak yang ingin membawanya pulang.


Sebagai orang yang pernah bekerjasama dengan Gina, juga orang yang sangat tahu betul setiap inci tubuh Gina, jelas, Naka tidak akan membiarkan gadis itu dimiliki oleh pria lain. Oleh karenanya Naka menggunakan cara yang sangat cerdik. Eh, licik.

__ADS_1


"Gi ... lo di mana?" panggil Naka, tetapi tidak mendapat sahutan sama sekali. "Lo di dalam kamar mandi?" tanya Naka sedikit menambah nadanya.


Tetap, Naka tidak mendapat jawaban dari Gina. Lalu ia putuskan untuk turun dari ranjang dan mencari gadis itu. Tiba-tiba saja pergerakan Naka terhenti di kala ia menyingkap selimut. Ada noda merah yang cukup banyak di sana. Bukannya merasa bersalah, pria itu justru tampak tersenyum melihat noda itu di spreinya.


"Beneran masih segel ternyata," gumamnya penuh dengan rasa bangga. "Ternyata rasanya seperti itu." Akhirnya ia menjadi yang pertama bagi Gina. Pun begitu dengan sebaliknya.


Naka mengurungkan niatnya untuk mencari Gina. Pria itu lebih dulu menyingkap sprei dan memasukkannya ke dalam plastik besar lalu menyimpannya di lemari bagian susunan paling bawah. Sebelum dicuci oleh Gina nanti. Pikir Naka.


"Gi ...!" panggil Naka sambil menyusuri ruang demi ruang yang ada di apertemennya tersebut.


Perasaan Naka semakin resah di saat tidak bisa menghubungi nomor Gina lagi. Bahkan berada di luar jangkauan. Hal itu membuat Naka menghubungi orang suruhannya dan mengutus mereka untuk mencari keberadaan Gina.


"Ya. Dia pasti pulang ke kontrakannya," gumam Naka. "Tapi nggak mungkin hanya mengenakan atasan milikku saja, kan?" ujar pria itu dengan segala pemikirannya.

__ADS_1


Cepat-cepat Naka kembali ke kamarnya. Barang kali Gina meninggalkan sebuah pesan. Seperti apa yang terjadi di film-film yang pernah Naka tonton. Di mana ketika seorang pria ditinggalkan oleh pasangannya sehabis menghabiskan malam panjang bersama, mereka pasti akan meninggalkan pesan. Tetapi berbeda dengan apa yang di alami oleh Naka sekarang ini. Gadis itu sedikit pun tidak meninggalkan sesuatu di kamarnya selain bajunya semalam.


"Ya. Gimana? Apa dia pulang ke kontrakannya?" tanya Naka tidak sabaran sama sekali ketika menjawab telepon dari orang suruhannya. "Brengsek! Cari dia sampai ketemu, bodoh!" sentak Naka dengan suara begitu marah ketika mendapat info jika Gina tidak ada di rumah kontrakan gadis itu.


Naka membanting ponselnya ke atas ranjang. Rahang pria itu tampak mengeras. Ingin sekali menghajar orsng-orang yang tidak becus bekerja. Walaupun pada kenyataannya itu semua di luar kendali mereka dan bukan salah mereka.


"Jangan harap lo bisa kabur dari gue, Gi!" tekan Naka menatap tajam ke arah baju Gina yang masih berada di atas lantai. "Setelah apa yang sudah kita lalui semalam."


Pudar sudah rasa bahagia yang sempat Naka rasakan ketika bangun tidur tadi. Padahal semalam pria itu memiliki banyak wacana mengenai hidupnya ke depan dengan Gina. Namun, kini semua itu harus tertunda setelah kabirnya Gina darinya.


Kemudian pria itu mengambil kembali ponsel yang dia banting tadi ke ranjang. Sok sok-an tidak membutuhkan barang tersebut, namun pada faktanya masih membutuhkan.


"Blok semua bandara untuk satu jam mendatang. Periksa dan temukan gadis bernama Regina Shivania Aresti!" titah seorang Naka Kamajaya yang dalam sekejap sudah harus dilaksanakan.

__ADS_1


Tidak peduli jika papinya menentang apa yang dia lakukan. Naka hanya ingin mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya sedari awal. Ya. Pria itu mengklaim Gina sebagai miliknya. Tidak tahu saja jika gadis yang sedang dia pusingkan keberadaannya sekarang, kini sudah sampai di bandara dan baru keluar dari pintu kedatangan.


...Gimana gimana? masih mau lagi? mumpung akhir bulan ini, sekalian hajar aja udah ini otak T•T...


__ADS_2