Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 38


__ADS_3

Bab. 38


Gina terus melangkah mendekat dan menghampiri maminya. Memeluk sebentar wanita yang tengah menatap sendu ke arahnya. Rasa rindunya selama ini pun sedikit terobati.


"Apa kabar, Mi?" sapa Gina sembari mengurai pelukan mereka.


Wanita dengan penampilan yang sangat anggun serta kalem tersebut mengangguk samar serta tersenyum tipis.


"Seperti yang kamu lihat, Sayang," balas wanita paruh baya yang terlihat mulai ada kerutan di ujung matanya.


Gina kemudian mengalihkan tatapannya pada seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan tatapan tidak bisa Gina uraikan dengan mudah. Entah, senang dengan adanya dirinya, atau justru sebaliknya. Sebab, sudah ada anaknya yang lain, yang sedia menggantikan posisi Gina.


"Sepertinya anda tampak selalu bahagia ya, Tuan Marhen Cakradinata?" sapa Gina dengan sengaja menampilkan tampang yang sangat menyebalkan. Bahkan memanggil nama daddy-nya sendiri saja dengan sebutan yang sangat formal sekali.


Pria yang menatap wajah putrinya, mengamati wajah gadis yang dulu selalu ia ajak ke tempat bermain jika libur bekerja. Kini, dia tumbuh dewasa dan sangat cantik. Hatinya menghangat ketika melihat putri kandungnya itu berada di hadapannya. Namun, kenapa mulutnya masih saja begitu pedas. Di tambah lagi ketika Gina mengaku jika dia merupakan anak yatim piatu di luaran sana. Bahkan tidak memakai nama belakangnya dengan benar.


Plak!


Sebuah tamparan pun mendarat ke wajah Gina secara cepat. Bahkan sang pelaku pun sampai terkejut dengan apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Tidak. Seharusnya tidak seperti ini di pertamuan kembali mereka. Harusnya ia peluk gadis yang dulu begitu manis dan selalu patuh.


Tentu saja perbuatan itu membuat semua orang yang berada di sana tersentak kaget. Terutama nyonya Ester Kusumajaya.


"Mas!" sentaknya yang langsung menarik tubuh Gina agar menjauh dari suaminya. "Apa yang kamu lakukan! Regina anakmu!" imbuh mami Ester yang tidak terima jika putri semata wayangnya ditampar begitu saja walau oleh daddy-nya sendiri.


Tangan daddy Marhen gemetar. Menatap penuh sesal ke arah tangannya. Namun, tidak untuk dua wanita yang diam-diam tersenyum senang di melihat Gina di tampar seperti itu, setelah sempat merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Dasar, anak durhaka! Bisa-bisanya kamu mengaku sebagai yatim piatu! Kamu nggak anggap kami masih ada? Hah!" sentak daddy Marhen lagi.


Amarahnya cukup dominan, sehingga membuatnya tidak bisa mengucap kata maaf pada Gina. Meski hatinya juga sakit melihat putrinya tadi mengernyit, menahan rasa sakit dari tamparannya.


"Bukannya kalau bersandiwara itu harus totalitas ya, Dad?" balas Gina sambil melirik ke arah wanita yang berdiri di samping daddy-nya dan juga wanita yang terlihat menjijikkan sekali di pandangan Gina.


Ucapan Gina barusan dan juga ekspresi wajah putrinya itu, sungguh mematik amarah daddy Marhen. Pria itu menatapnya geram.


"Kau ...."


"Udahlah, Dad ... mau apa suruh Gina pulang, hmm? Udah nggak sanggup lagi pimpin perusahaannya?" sela Gina ketika daddy-nya belum menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


Daddy Marhen menelan kalimatnya lagi. Dia harus mengesampingkan ego, demi mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Ya. Kamu benar," balasnya menurunkan tangan dan tidak jadi marah pada Gina. Meski pria paruh naya itu harus mengatur napasnya.


Gina tersenyum puas saat melihat ekspresi saudara tirinya yang terlihat tidak suka dengan pembahasan ini.


"Bukannya sudah ada Resa yang bantu kamu di perusahaan, Mas?" tanya wanita yang kini membantu daddy Marhen duduk kembali di tempatnya. "Dia cukup bisa di andalkan, kan? Kenapa malah nyuruh Gina pulang?" protes wanita itu juga tidak terima.


"Iya, Pa. Resa sanggup handle semuanya kok, kalau Papa emang mau istirahat bentar," sahut seorang gadis yang usianya di bawah Gina satu tahun. Berusaha membujuk Marhen di sini.


"Iya, Mas. Resa udah bilang sanggup, loh. Biarkan Gina bebas dengan apa yang dia suka," bujuk wanita yabg merupakan istri kedua Marhen—Salma.


Gina tersenyum meledek. Sama sekali tidak percaya dengan kemampuan adik dirinya itu. Karena ia sudah mendengar laporan dari om Dias, bagaimana cara kerja Resa selama ini.


"Itu berarti Tante harus mengakui kemampuan Resa yang nggak sebanding denganku, Tante," ucap Gina menyela di antara obrolan mereka. "Oh, ya. Kenapa kalian tidak menyambutku, bahkan tidak menanyakan kabarku saat aku pulang tadi? Sebegitu nggak sukanya kah kalian denganku?" Gina menampilkan wajah yang sangat memelas. Sesekali menyeka sudut mata yang jelas-jelas tidak ada di sana.


Seolah terluka dengan tindakan mereka. Namun, kata-kata yang dia ucapkan cukup menampar dua orang itu. Sampai membuat muka mereka pias.


Mami Ester yang ada di sebelah Gina pun menyenggol lengan wanita itu tanpa mencolok. Memperingati Gina untuk tidak terlalu terburu.

__ADS_1


__ADS_2