
Bab. 42
Sudah satu bukan ini Gina terjun di perusahaannya sendiri. Setelah satu bulan sebelumnya di gembleng habis-habisan sama daddy-nya dan juga om Dias yang ternyata sadis juga kalau sedang serius.
"Pagi, Bu Gina," sapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Gina hanya mengangguk samar dan melangkah dengan posisi yang tegap juga pandangan lurus ke depan. Tidak sedikit pun menoleh ke arah mereka.
"Bu Gina cantik juga hari ini," sapa yang lain.
Gina meliriknya ramah. Ramah versi wanita itu maksudnya.
"Gila! Damage Bu Gina emang terlihat jelas banget. Meski wajahnya tersenyum, tetapi tatapan mata nya begitu kuat. Jadi pingin kukarungin," ujar salah satu teman karyawan yang menyapa Gina.
Plak!
"Paling nggak kalau mau mimpi, cuci muka dulu. Biar agak beningan dikit," balas temannya setelah memukul kepala orang barusan agar sadar sebelum bermimpi.
"Sialan!" umpat pria itu.
"Tapi emang beneran dia tegas banget kalau mimpin. Meskipun tampangnya jutek kayak gitu, body-nya aduhai banget, Bro!"
"Bangun ... jangan tidur mulu!"
"Tapi dia nggak cuma tegas sih kalau menurutku," ujar seorang wanita yang berdiri di samping meja resepsionis. "Kalian sadar nggak sih, perubahan perusahaan ini ketika Bu Gina yang mimpin? Padahal baru satu bulan kan dia aktifnya?"
"Iya juga sih. Bener-bener tokver banget otaknya. Terobosan yang dia ambil pun juga nggak bikin kita terlalu di forsir. Tinggal liat aja proyek yang akan dimulai bulan depan ini," sahut yang lain.
"Emang keturunan asli itu nggak bisa dibohongi warnanya. Dulu pas perusahaan ini dipegang sama Bu Ester, juga melambung," ucap seseorang yang baru bergabung mereka dan menatap kepergian Gina menuju ke lift khusus. Seorang bapak-bapak berperut buncit. Sepertinya karyawan lama di sini.
__ADS_1
"Pagi, Pak Hadi," sapa mereka sedikit kaget. Pria yang memiliki jabatan lebih tinggi dari mereka itu bergabung dengan mereka dalam membicarakan pimpinan baru di tempat kerja mereka sekarang.
"Pak Hadi udah di sini ya pas Bu Ester yang mimpin?"
Pria yanh bernama Hadi itu mengangguk. "Kurang lebih sama seperti putri kandungnya ini. Tegas dan smart."
"Loh, terus yang Mbak Resa itu?" tanya Dito yang memimpikan Guna sebagai calonnya.
"Dia cuma anak dari istri kedua. Mana bisa mimpin perusahaan ini. Lihat aja kinerja dia. Nggak ada yang rampung, kan?" ujar pak Hadi terlihat sedikit tidak suka dengan kinerja Resa.
Dito dan Agus pun membenarkan ucapan pak Hadi.
"Iya loh. Mana sok kecantikan banget!" sahut sang resepsionis dengan wajah kesalnya. Sepertinya wanita itu memiliki masalah dengan Resa.
***
Seorang pria bettubub besar berdiri di samping sofa dengan tablet di tangannya pun menggelengkan kepala.
"Untuk hari ini tidak ada, Nona. Nanti sore ada rapat sama para dewan direksi. Membalas perencanaan yang Nona sarankan minggu lalu," sahut om Dias yang juga merangkap sebagai asisten Gina.
Daddy-nya sudah memberi asisten serta sekretaris untuk Gina, namun dengan tegas dan tanpa dilihat dulu siapa orangnya, Gina sudah menolaknya terlebih dulu dan meminta om Dias—sopir pribadinya itu untuk menghandle semua pekerjaannya di kantor. Kalau tidak setuju, maka Gina tidak akan mau mengurus perusahaan mereka.
"Rapat nanti bisa nggak aku nggak usah ikut, Om?" ujar Gina. "Badanku sedikit nggak enak soalnya." imbuh Gina.
"Tidak bisa, Nona. Anda sebagai pengganti Nyonya dan Tuan besar, harus selalu ada di setiap dapat yang diadakan oleh dewan direksi. Kalau tidak, mereka akan meragukan kemampuan anda," balas om Dias yang menolak permintaan Gina.
"Kalau suruh Resa saja yang datang, gimana?" tawar Gina sersya memegang kepalanya yang terasa pusing. "Sumpah, aku pusing banget hari ini, Om. Nggak tau kenapa badan aku juga rasanya capek banget. Apa ini karma karena ngebantah Daddy terus ya, Om?"
Om Dias terlihat menghembuskan napas pelan melihat tingkah anak yang dia asuh sedari dirinya mengikuti mami Ester Kusumajaya.
__ADS_1
"Justru lebih pusing lagi kalau Nona menyerahkan tanggungjawab ini pada Nona Resa. Anda tahu sendiri bukan, tingkat kemampuan Nkna Resa itu seberapa?" ingat om Dias. "Itu sebabnya Tuan Besar tidak berani memberikan tanggungjawab perusahaan ini pada Nona Resa. Kalau memang Nona Gina masih merasa pusing, bisa saya undur satu jam. Gimana?" tawar om Dias mengambil solusi dari situasi Gina. Kalaupun ia paksa, nona mudanya ini tetap tidak akan bisa di atur.
Gina mengangguk ngangguk. "Om atur aja sudah. Pokoknya jangan terlalu mepet. Kalah bisa pas jam tiga sore aja. Biar tenagaku penuh dulu, Om," ujar Gina.
Setelah mendapat jawaban dari Gina, om Dias pun pamit keluar dari ruangan nona mudanya itu. Menuju ke ruangan beberapa direksi yang nanti akan ikut rapat.
Sepeninggal om Dias dari ruangannya, Gina tampak mengusap kakinya yang terlihat sedikit bengkak.
"Aneh banget. Perasaan semalam enggak apa-apa. Jalan lama juga enggak. Kenapa kayak gini kaki mulus gue?" gumam Gina sambil memperhatikan kakinya.
Dan pada saat dirinya memijat pelan kakinya, ia ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Wanita itu pun dengan cepat menurunkan kaki dan membenarkan penampilannya.
"Masuk!" ucap Gina. Dia sudah duduk dk kursi kerjanya sekarang.
"Permisi, Bu Gina ...." ternyata seorang OB yang masuk ke ruangannya dengan membawa sebuah nampan yang berisi satu gelas agak besar. Dari warnanya saja Gina bisa menebak minuman apa itu.
"Aku nggak minta teh," ujar Gina sebelum OB itu menaruh teh jangan lengkap dengan camilan di atas meja Gina.
"Maaf, Bu Gina. Ini tadi Pak Dias yang minta saya buatkan teh terus nyuruh di antarkan ke Bu Gina, gitu katanya," balas OB itu sembari membungkuk sopan.
Gina tidak tega jika menyuruh pria yang mungkin usianya tak jauh dengan dirinya ini membawa kembali teh beserta camilan.
"Ya udah, taruh saja."
Raut Gina begitu datar dan wanita itu memilih fokus pada layar komputer yang ada di hadapannya. Walaupun padahal Gina baru saja menyalakan komputer tersebut.
"Kalau begitu saya permisi, Bu," pamit OB tersebut yang kemudian keluar dari ruangan pimpinan baru itu setelah mendapat anggukan kecil dari wanita cantik yang mempunyai wajah behitu dingin.
"Capek juga ternyata musti akting begini. Mendingan gue nari aja udah. Bebas. Bikin setres juga ilang. Nggak kayak sekarang." keluh Gina ketika harus berpenampilan selalu berwibawa dan mempunyai damage yang ngeri, agar tidak di pandang rendah oleh beberapa orang yang menentang posisinya sekarang. Tentu, tidak secara terang-terangan. Namun Gina bisa tahu, mana sikap yang tulus dsn tidak.
__ADS_1