
Bab. 56
Sesuai dengan apa yang Naka harapkan. Pagi ini setelah matanya terbuka, dia mendapat kabar dari Irham kalau semalam bocah tengil itu menghabisi mangsanya dengan penuh penghayatan yang begitu mendalam.
Tentu, hal ini membuat Naka merasa bangga memiliki calon adik ipar yang tidak main-main dan satu circle dengannya. Sangat pas sekali. Pikir Naka. Padahal, menikah dengan Gina saja belum. Eh, belum tentu juga Gina menerimanya kalaupun Naka melamar atau langsung menikahinya. Emang dasarnya pria berperawakan tegap itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi.
"Sedang apa?" sapa sebuah suara yang begitu lembut terdengar di telinga Naka. Membuat pria yang tengah bertelanjang dada itu membalikkan badan dan menghadap ke sosok wanita seksi di depannya saat ini.
"Udah bangun?" pria yang terbiasa berekspresi dingin jika berinteraksi dengan seseorang, namun hanya di hadapan wanita satu ini dia sudah pantas disebut sebagai pria gila. Karena tanpa sebab, Naka sering kali senyum-senyum sendiri.
Entah, apa yang sedang pria itu tertawakan. Yang jelas tidak ada sosok Presdir Naka Kamajaya jika pria itu sedang berada di dekat Gina. Pria dingin dengan sejuta tatapan tajam nya itu, lenyap begitu saja. Berganti dengan seorang pria mesum yang penuh akan akal bulusnya.
"Sesuai yang kamu lihat," balas Gina.
Sebenarnya Gina sudah bangun dari tadi. Hanya saja wanita itu merasa tubuhnya begitu remuk. Di tambah lagi ia melihat Naka sudah tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
Ya. Sudah dua hari ini dirinya tidak pulang dan tinggal bersama Naka semenjak kejadian pada malam itu. Selama itu juga Naka menutupi kabar terbaru dari orang yang sudah berani menyentuh dirinya dan melecehkannya waktu itu.
Grep!
Gina terkejut di kala dirinya tengah menuangkan air di gelas, tiba-tiba saja ada sepasang lengan kekar yang melingkar di perutnya.
Siapa lagi jika bukan Naka pelakunya. Dengan senyuman tanpa rasa bersalah, Naka memeluk Gina semakin erat.
"Kenapa bangunnya terlalu awal? Hmm? Masakannya belum matang," ujar Naka yang semakin menaruh wajahnya di leher Gina.
"Udah kangen? Hmm?"
Gina mendorong wajah Naka agar menjauh dari lehernya. Ini masih pagi sekali. Ia sedang tidak mood melayani hasr4t pria yang tengah memeluk dirinya sekarang. Tenggorokannya cukup kering. Perutnya juga kosong. Melakukan aktifitas di saat tubuhnya sedang tidak dalam keadaan yang fit, sungguh menguras energi yang Gina miliki.
"Laper," jawab Gina jujur. Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka yang sempat terjadi.
__ADS_1
Naka tersenyum lalu menjauhkan wajahnya dan memutar tubuh Gina agar wanita itu menghadap ke arahnya.
"Sepuluh menit lagi makanan siap. Kamu duduk aja di sini. Jangan banyak gerak. Karena aku nggak mau calon anak aku kecape'an," ucap Naka yang mampu membuat mata Gina membulat. Namun sedetik kemudian mata itu tertutup di saat Naka melabuhkan kecupan di kening Gina. "Nggak usah kaget kayak gitu. Ikatan batin anak dan ayah itu sangat kuat. Jangan sekali kali membohongiku, my sweety."
Cup!
Setelah memberi morning kiss, Naka melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat terjeda. Mengabaikan Gina yang tengah bingung.
'Dia ngomong apa sih sebenarnya. Aneh banget.' batin Gina.
Seingat Gina, ia tidak sedang hamil. Lantas anak dari mana yang Naka Maksud.
"Kamu hamilin cewek lain?" tanya Gina dengan nada ketus dan mata melotot.
Seketika Naka menghentikan kegiatannya, mendengar pertanyaan yang begitu aneh dari Gina.
__ADS_1