
Bab. 45
Dengan napas yang terengah, Gibran berlari menuju ruangan Presdir Kamajaya Company. Sampai-sampai membuat Irham yang sedang duduk di meja kerjanya yang terletak di depan ruangan Presdir pun menatap heran dengan tingkah temannya itu. Karena kalau mengenai pekerjaan, Gibran tidak pernah sampai bersikap seperti ini. Di mana pria itu malah justru membuat image-nya terlihat sangat buruk.
"Jangan bilang kalai dia hamilin pasangan olahraga nya," gumam Irham menatap Gibran masuk ke ruangan Presdir tanpa krngetuknpintu terlebih dulu. Bahkan tidak melirik ke arahnya.
Saking penasaran dengan apa yang terjadi di dalam, akhirnya Irham memutuskan untuk mengikuti jejak Gibran dan masuk ke dalam ruangan atasannya itu.
Di dalam ruangan, Naka yang tengah sibuk dengan apa yang ada di layar komputer pun sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan sahabatnya yang mempunyai akhlak sangat tipis tersebut.
"Ka! Lo harus tau!" ujar Gibran dengan napas terengah.
Pria itu sampai berjongkok dengan tangan bertumpu di lutut. Mengatur napasnya yang tersengal karena berlari. Sebab kurang dari satu jam dia memiliki pertemuan dengan seseorang yang sangat penting. Namun, informasi yang dia bawa saat ini pun juga tidak kalah penting. Sehingga Gibran memilih untuk menuju ke sini dan menemui Naka terlebih dulu.
"Lo nggak bisa sopan dikit? Mau dibatalin aja kerjasama di antara perusahaan kita," ujar Naka tanpa menatap siapa yang datang. Karena tidak ada yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu selain Gibran.
__ADS_1
Napas Gibran yang mulai teratur pun membuat pria itu menghampiri Naka dan langsung mengulurkan tangan ke arah Naka dengan posisi telapak tangannya ke atas. Membuat Naka menaikkan alisnya dan menatap penuh tanya.
"Apa?" tanya Naka tidak mengerti dengan sikap Gibran yang sangat absurd sekali menurutnya.
Sementara Gibran terus menggerakkan telapaknya ke atas bawah dengan cengiran di bibirnya. Terlihat begitu menjijikkan sekali di pandangan Naka.
"Ham, lo buang aja ini anak dari pada jadi polusi di sini." perintah Naka pada Irham yang baru saja masuk ke dalam ruangan Naka.
Sementara Irham yang masih belum mengenali situasi seperti apa, hanya diam dan mengamati tingkah Gibran yang sangat aneh.
"Sialan, lo!" sahut Gibran tidak terima. "Bener, gue emang nagih utang. Tapi gue nggak bisu." tegasnya pada kalimat terakhir yang Gibran ucap.
Irham semakin tertawa melihat reaksi Gibran. "Lagian lo punya mulut nggak dipakai. Mana ngerti Naka sama gerakan isyarat lo. Orang dia nggak belajar gerakan kayak gitu."
Mengabaikan Irham yang semakin membuatnya kesal. Gibran mengalihkan tatapannya pada Naka yang justru kembali fokus pada layar komputer di depannya.
__ADS_1
"Mana, sepuluh miliyar gue!" ujar Gibran kali ini dengan tampang serius. Membuat Naka mengangkat wajah lalu menatap ke arahnya. "Gue temuin penari lo." imbuh Gibran lagi.
Naka tidak bisa santai setelah mendengar ucapan Gibran yang dia anggap sedang bercanda tadi. Irham juga sama. Pria itu langsung mendekat. Penasaran di mana keberadaan gadis yang mampu membuat hari-hari bosnya jungkir balik dan gadis itu selalu berpikiran positif.
"Lo nggak sedang bercanda, kan?" Naka hanya ingin memastikan hal itu. "Di mana dia?" cecarnya lagi sangat tidak sabaran.
Beberapa bulan tidak bertemu setelah apa yang terjadi pada mereka berdua. Tak sedikit pun Naka melupakan rasa itu. Eh, kenangannya bersama gadis yang sudah dia bayar.
Di saat Naka terlihat sangat tidak sabaran, di situlah Gibran justru menguji kesabaran Naka. Pria yang mengenakan kemeja lengkap dengan jasnya tersebut malah dengan begitu santai nya menarik kursi di dekatnya lalu menduduki kursi itu. Tidak lupa menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu menumpangkan kaki di atas kakinya yang lain. Berlagak seperti bos besar yang berhadapan dengan anak buahnya.
Tidak perlu menunggu berganti menit, seketika itu juga Gibran langsung mendapat tonjokan di wajah. Di mana wajah itu merupakan aset Gibran selama ini.
Bugh!
"Jangan main-main sama gue kalau menyangkut tentang Gina!" sentak Naka sangat marah.
__ADS_1