Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 54


__ADS_3

Bab. 54


"Dingin ... ngapain buka bajuku semua!" protes Gina ketika Naka dengan tanpa ijin terlebih dulu membuka baju yang dipakai oleh Gina.


"Diem. Jangan mikir aneh-aneh. Aku cuma mau hapus jejak bajingan itu dari tubuhmu. Meski itu di wajah. Nggak sudi banget milikku disentuh sama bajingan jelek!" balas Naka dengan ekspresi tidak ramah sekali.


Mungkin kalau pria ini dari penyedia jasa, sudah Gina kasih bintang satu. Tetapi sayangnya bukan.


"Ya tapi kan bisa pelan-pelan, Mas. Nggak perlu keburu juga," omel Gina dengan bibir cemberut.


Jujur saja, tubuhnya masih terasa sakit. Banyak terdapat memar di bagian tubuh tertentunya karena perbuatan pria buncit tadi. Belum lagi ketika dirinya di seret dan di masukkan ke ruangan busuk, tempat Endra menyekapnya.


Tangan Naka berhenti. Ia baru tersadar kalau tubuh Gina banyak terdapat memar. Rahangnya mengeras di kala melihat jejak-jejak tersebut. Rasanya ingin sekali membunuh pria sialan yang sudah berani membuat wanitanya seperti ini. Akan tetapi, mungkin bocah tengil itu sudah melakukan bagiannya.


"Mau pulang dalam keadaan seperti ini?" Naka menatap lembut tepat ke arah Gina.


Membuat Gina terdiam di tempatnya. Lalu di detik selanjutnya wanita itu menggelengkan kepala.


"Aku nggak mau bikin Mami khawatir," jawab Gina dengan tatapan sendu. Lalu wanita itu membalas tatapan lembut Naka. "Boleh antar aku ke hotel saja? Nanti kalau udah mendingan dan ilang biru-birunya, aku baru pulang," pinta Gina.

__ADS_1


Naka menarik sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman di sana. Senyuman yang selama ini diam-diam Gina rindukan.


"Dengan senang hati, My Sweety. Aku akan menemanimu," balasnya dengan tatapan jahil. Sengaja Naka lakukan agar Gina tidak merasa takut kepada dirinya dan menjaga jarak.


Bisa saja kejadian tadi mungkin membuat wanitanya ini takut dan bahkan barang kali trauma. Oleh karena itu, Naka ingin membuat Gina nyaman berada di dekatnya dan kalau bisa bergantung kepadanya. Meski Naka sadar, itu akan sulit ia lakukan. Sebab, Gina merupakan wanita independen. Selagi bisa melakukannya sendiri, dia tidak akan membutuhkan orang lain. Termasuk dirinya.


Plak!


Gina memukul lengan pria yang kini tengah membantu dirinya memakai kaos milik pria itu. Tentu, setelah melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Tanpa terkecuali.


"Enggak gitu juga maksudnya, Mas!" protes Gina dengan bibir cemberut. Serta tangannya sibuk memberi jarak antara baju dan permukaan kulit tubuhnya. Terutama di bagian dada. Sebab, jika kaos yang ia kenakan terlepas dari tautan tangannya, jelas keindahan yang ada di dadanya itu akan tercetak sangat jelas. Karena Gina tidak mengenakan apapun di balik kaos berukuran besar milik Naka.


Pria itu pun menjulurkan tangan, mengusap lembut ujung kepala Gina.


"Tenang aja. Aku nggak akan nganuin kamu, kok. Paling cuma tidur sama meluk doang," ucap Naka sembari memainkan alisnya dan bersiap menyalakan mesin mobilnya. Melakukan dengan kecepatan sedang, menuju ke hotel terdekat.


Gina memicingkan mata, menatap curiga ke arah Naka. Tentu saja wanita itu tidak serta merta percaya begitu saja.


Naka sadar akan tatapan Gina, pria itu mengusap lembut pipi Gina yang memerah. Karena sempat mendapat tamparan dari Endra. Melihat itu, membuat Naka benar-benar geram.

__ADS_1


"Semoga aja adikmu itu nggak mengecewakanku," desis Naka mencoba untuk menekan emosinya.


Gina mengerutkan kening. "Apanya?"


Naka tersenyum sambil mengglengkan kepala.


"Enggak. Kita akan segera sampai ke hotel terus ...." Naka sengaja menggantung kalimatnya dengan senyuman dan tatapan begitu jahil.


Gina berdecak lalu mendorong wajah Naka agar menghadap ke arah depan.


"Fokus aja sama jalan. Aku masih mau hidup," balas Gina yang kemudian memalingkan wajahnya dan menatap ke arah luar jendela.


"Iya. Setelah sampai di hotel, aku akan fokus sama kamu."


"Mas! Ingat, kamu seorang Presdir loh! Jaga image dikit, napa! Mesum banget jadi orang!" kesal Gina dengan sikap Naka yang terus saja mengarah ke sana.


"Mesumnya sama CEO Cakradinata, nggak masalah dong!"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2