Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 32


__ADS_3

Bab. 32


Akibat perdebatan yang terjadi kemarin, dan keputusan kedua orang paruh baya itu tidak bisa di ganggu gugat, terlebih lagi gadis itu setuju dengan begitu mudah ketika mami nya menyuruh mereka untuk tinggal terpisah. Mami Melani juga menawarkan sebuah rumah untuk di tempati oleh Gina, jika Naka tetap tidak mau pindah dari apartemen itu.


"Harus banget pindah, ya?" tanya Naka dengan tampang yang sangat lesu. Tidak bersemangat sama sekali.


Sedangkan gadis yang sedang mengemasi barang-barang nya karena memilih untuk keluar dari apartemen Naka, dan gadis itu tanpa di sangka menolak rumah yang ditawarkan kepadanya untuk dia tinggali.


Ya. Gina memilih keluar dari apartemen Naka dan tidak menerima tawaran dari mami Melani. Gadis itu mengatakan kalau uang dari Naka sudah lebih dari cukup, untuk mencari tempat tinggal serta menghidupi dirinya sendiri beberapa puluh bulan ke depan. Karena jelas Gina akan menghemat uang itu agar tetap bisa bertahan hidup di kota yang penuh kontroversi ini.


"Titah dari Kanjeng Mami, kan?" balas Gina sangat santai. Gadis itu tidak terlihat murung atau sedih, barang sedikit saja. Dan inilah yang membuat Naka kesal.


"Kenapa nggak tinggal di sini saja? Aku yang pulang ke rumah? Gimana?" saran Naka penuh harap.


Gina meenarik resleting kopernya, menepuknya pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Naka yang tengah duduk di tepian ranjang.


Gadis itu mengembangkan senyuman yang begitu manis di bibir.


"Hubungan kerja kita sudah selesai, Tuan Muda Naka. Jadi, sudah waktunya aku kembali, kan?" ucap Gina dengan mata yang berbinar sangat senang. Gadis itu tidak berpura-pura seperti sebelumnya. "Terimakasih sudah memberiku uang yang sangat banyak, meskipun itu memang hakku. Terimakasih juga sudah mengajari aku banyak hal. Aku harap, setelah ini anda mempunyai kehidupan yang lebih bahagia dari sebelumnya. Jadi, lebih baik kita tidak saling kenal kalau saja bertemu lagi di kemudian hari."


Gina berdiri, lalu menepuk bahu serta mengusap lembut dada Naka dengan senyuman yang masih mengembang di sana. Tanpa menunggu respon dari Naka, Gina memutar tubuhnya untuk kemudian meraih koper lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang selama hampir dua bulan dia tempati.

__ADS_1


Akhirnya, ia terbebas dari perkerjaan yang sangat beresiko tersebut. Beruntung, Gina bertemu dengan kedua orang tua Naka, sehingga Gina tidak kehilangan sesuatu yang memang seharusnya hilang. Sebab seperti itulah kesepakatan secara tak langsung yang tidak tertulis di isi kontrak mereka.


Naka mengepalkan erat tangannya. Ingin memandang kepergian Gina dengan rahang yang saling menempel. Ingin mengejar, jelas Naka terlalu gengsi. Lebih lagi gadis itu sama sekali tidak terlihat keberatan. Di tambah ucapan Gjna barusan yang berhasil membuat Naka menahan diri.


"Bisa-bisanya dia bilang nggak usah kenal, setelah apa yang terjadi di antara kita. Ck! Baru kali ini gue merasa terbuang. Nggak ada harganya banget." kesal Naka karena dari awal bertemu Gina, ia belum bisa menyentuh hati gadis itu, selain membuatnya tak berdaya dengan sentuhan tangannya.


Ya. Hanya sebatas itu. Selebihnya pesona Naka seolah ternistakan di hadapan gadis penari tersebut.


Sedangkan Gina melangkahkan kakinya menuju ruang depan, seraya mengedarkan pandangannya ke ruang sekitar. Ruangan yang selama ini ia bersihkan, juga menjadi tempat tinggalnya meskipun tidak terlalu lama. Gina hanya ingin mengingatnya.


Dengan satu kali tarikan napas, Gina melanjutkan langkah kakinya, lalu mulai berjalan menuju ruang depan. Di mana dua orang paruh baya berada di sana. Jelas, mereka ingin memastikan kalau Gina benar-benar pindah.


Gina sengaja memilih pindah dari apartemen ini ketika malam hari. Karena Gina tidak mau ketahuan oleh tetangganya kalau dirinya kembali lagi ke kontrakannya yang dulu.


"Malam," balas papa Biru dengan suara datar.


Sementara mami Melani menatapnya tidak tega. Namun, ia tidak bisa membantah keputusan suaminya. Karena ini menyangkut nama baik keluarga mereka. Mereka tidak mau kalau sampai berita mengenai Naka yang tinggal bersama dengan seorang wanita tanpa adanya ikatan, akan tersebar ke media. Jelas, akan tercemar nanti nama besar mereka.


Terlebih lagi mereka belum mengetahui betul dari mana asal gadis yang sampai rela menjual ksuciannya hanya demi mendapatkan uang banyak. Pikir mereka. Meskipun pada kenyataannya tidak sampai seperti itu. Hanya saja kesan papa Biru sudah buruk mengenai Gina. Karena jika gadis itu berasal dari keluarga yang baik dan merupakan gadis baik, jelas dia tidak akan menerima pekerjaan semacam itu.


Itulah mengapa papa Biru sangat menentang jika mereka tinggal bersama.

__ADS_1


"Di mana Naka?" tanya pria itu dengan nada sangat datar.


"Ada di kamar, Om," jawab Gina.


Lalu kemudian gadis itu menatap ke arah mami Melani. Mengulurkan tangan, lalu mengecup tangan wanita itu ketika tangannya di sambut dengan sangat hangat. Bahkan tatapan wanita itu sangat teduh mengarah ke arahnya.


"Gina pamit ya, Tant," pamit Gina pada kamu Melani. "Maaf, uang anaknya nggak bisa Gina kembalikan," imbuhnya yang masih merasa tidak enak kepada mami Melani.


Mami Melani terkekeh mendengar kejujuran Gina.


"Iya, nggak apa. Itu sebanding dengan apa yang kamu lalui, Gina," balas mami Melani. "Atau ... kamu mau lebih?" tanya Melani yang sebenarnya tidak bermaksud apa-apa.


Berbeda dengan anggapan Gina. Gadis itu salah tangkap mengenai sifat mami Melani. Di mana Gina berpikir jika wanita paruh baya itu baik dan tidak akan memandang latar belakangnya. Sepertinya juga mereka sudah tahu. Karena sikapnya sangat berbeda dengan ketika mereka saat pertama kali bertemu. Meski begitu, Gina tetap mengucap terimakasih pada mereka.


"Terimakasih, Tante. Tetapi ini sudah banyak. Kalau begitu, saya pamit," pamit Gina sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu pergi dari sana.


Entah mengapa melihat sikap mami Melani yang berubah dan justru menilai dirinya dengan uang, sedikit membuat dadanya sesak. Serendah itukah seorang penari?


...Padahal udah selesai semalem, tapi lupa belum ke klik publish. Maap, ya. Hehe...


...Kalau ada typo, komenin aja. Soalnya semalem sambil ngitungin bulu ayam^•^...

__ADS_1


__ADS_2