Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 43


__ADS_3

Bab. 43


"Bagaimana kalau kita makai selebgram saja buat masarin produk kita?" usul salah seorang yang ada di dalam ruang rapat. "Karena jangkauan mereka lebih luas dan kebanyakan lebih bisa diterima oleh masyarakat dari semua kalangan." imbuh orang itu.


Beberapa orang ada yang setuju, tentu juga ada yang kontra dengan pendapat tersebut.


"Kenapa nggak ke media televisi saja? Bikin iklan yang menarik sesuai dengan tujuan produk ini," usul yang lain.


"Kalau makai iklan di televisi, sekarang itu bukan lagi jalannya orang yang masih banyak nonton televisi, Pak Sunar. Terutama dari kalangan anak muda. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan sosial media. Di tambah lagi produk kita ini kan sasarannya mulai kaum remaja. Jadi saran dari Bu Dina ini lah yang tepat," sanggah seorang pria dengan perut buncit serta memiliki jambang sedikit banyak di rahangnya.


Sementara itu, di kursi paling ujung tampak seorang pria yang tengah mengetukkan bolpoin di meja. Tatapannya mengarah ke arah meja, bukan pada orang yang berdebat di meja rapat tersebut.


Tindakan itu tidak luput dari pengamatan Irham—asistennya. Di mana pria itu tahu kalau Naka tidak sedang fokus pada rapat saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana menurut anda, Pak Presdir?" salah satu di antara mereka pun berntanya pada Naka. Berharap Presdir mereka itu mempunyai solusi dari saran keduanya.


Naka yang ditanya pun, menganggukkan kepalanya. Lalu mengarahkan tatapannya yang begitu datar ke arah mereka. Seolah tidak berminat sekali pada rapat kali ini.


"Hal seperti ini saja kalian masih tidak bisa memutuskan mana yang lebih baik?" Naka menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh emosi. Tanpa terkecuali pun pada Irham yang berdiri di sampingnya dengan sikap yang begitu santai.


"Aku kasih kalian gaji enggak dikit. Pikirin dong, mana baiknya! Mana yang dapat laba banyak nanti! Mana yang bisa narik peminat sesuai produk kita! Bukan cuma besarin perut doang yang ahli!" sentak Naka di puncak amarahnya lalu pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.


"Mau kemana? Kita masih ada pertemuan setelah ini." ingat Irham ketika Naka tidak menuju ke ruangannya dan malah menuju lift.


Naka menarik napasnya. Mengatur agar emosinya agar tidak semakin menjadi.


"Batalkan saja." dengan santai nya Naka mengatakan hal yang sangat berat Irham lakukan.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu, dong!" sergah Irham. "Galau ya galau saja. Tapi lo nggak pikirin ini nasib ribuan orang ada di tangan lo?" tanya Irham dengan suara sedikit di tekan.


Naka begitu frustasi. Sampai-sampai pria itu menyugar rambutnya ke belakang dengan gerakan yang sangat kasar.


"Gue sendiri juga nggak tau, Ham! Rasanya kepala gue mau pecah saat ini!" erang Naka.


Bukannya iba, Irham malah memukil lengan Naka.


"Jangan sebut gue dengan panggilan itu! Geli banget kalau lo yang manggil. Mending Gina, menggemaskan," ucap Irham dengan tampang salah tingkah.


Di detik selanjutnya, Irham yang tersadar pun langsung menutup mulutnya. Ia dengan spontan menyebut nama itu. Sepertinya, Irham memang harus segera memesan tempat untuk pemakaman nya nanti ketika melihat lirikan begitu mematikan dari Naka.


Sudah tahu pria di sampingnya itu sangat sensi jika menyangkut nama yang Irham sebut barusan. Masih saja ia mencari agar-agar. Eh, gara-gara dengan Naka.

__ADS_1


__ADS_2