Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 46


__ADS_3

Bab. 46


Gina keluar dari ruangan dokter dan langsung di sambut oleh om Dias. Pria itu terlihat sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Gina.


"Bagaimana, Nona?" om Dias sama sekali tidak bisa menutupi rasa khawatirnya. Di tambah lagi pria itu juga takut. Takut kalau sampai apa yang pernah Gina lakukan beberapa bulan yang lalu, ternyata membuahkan hasil.


Sedangkan wanita berkacamata hitam tersebut berjalan dengan begitu santai nya, lalu memberikan hasil pemeriksaan kepada om Dias.


"Cuma kecapean aja katanya. Nggak boleh terlalu banyak pikiran sama kerjanya jangan dis fostir," jawab Gina yang juga merasa lega.


Ia juga sempat menanyakan kenapa dirinya sering kali mual. Rupanya terlaku banyak pikiran juga bisa memicu rasa tersebut. Lebih takutnya nanti kalau sampai asam lambungnya naik. Oleh karenanya dokter menyuruh Gina agar mengurangi jadwal kerjanya.


"Gimana mau ngurangi kerjaan, kalau jadwalku saja padet banget, Om," keluh wanita itu terus melangkah menuju lobby.

__ADS_1


"Akan saya atur ulang jadwal Nona," sahut om Dias. Dia sendiri juga merasa bersalah karena beberapa bulan ini terlalu menekan Gina dan menuntut wanita itu agar menguasai sesuatu yang baru dia pegang.


Gina menghela napas panjang. "Om atur saja udah. Aku nggak masalah. Asal para investor itu nggak pergi," sahut Gina yang memasrahkan jadwalnya pada om Dias.


Ketika Gina akan menuju mobilnya, tanpa di sengaja ia melihat sosok yang sangat Gina kenal. Sudut bibir wanita itu tertarik ke atas di saat melihat Resa bersama dengan seorang pria baru keluar sari rumah sakit itu juga.


"Waaahhh ... siapa nih yang gue lihat!" sapa Gina memutar tubuhnya dan menghampiri Resa, adik tirinya. Ralat, lebih tepatnya dia orang lain.


Resa yang berjalan sama kekasihnya pun tersentak kaget ketika bertemu dengan Gina di sini. Dari hari paling sialnya, kenapa harus Gina yang dia temui. Sontak, gadis itu langsung melepas tangan seorang pria yang sedari tadi menggenggam tangannya dengan penuh rasa bahagia.


Sedangkan Gina mengangguk dengan senyuman palsu tentunya. Menelisik penampilan Resa yang berbeda lalu menatap pria matang yang berdiri di samping Resa.


"Calon suami?" tanya Gina secara langsung.

__ADS_1


"Bu-bukan!" elak Resa. Lagian mana mungkin calon suaminya pria matang seperti ini. "Di-dia klien yang minta di antar periksa tadi. Ya, kan, Om?" Resa mengalihkan tatapannya pada pria matang di sampingnya. Panggilan Resa tentu membuat Gina penasaran. Lebih terkejutnya lagi pria di samping Resa.


"Iya, Nona. Saya tadi minta tolong pada Resa buat antarkan saya periksa rutin," balas pria itu. Tatapan pria itu menelisik penampilan Gina dari bawah ke atas. 'Bodynya lebih bagus dari Resa.' batin pria itu. "Nona ini ...."


Gina menatap jengah tipe pria modelan seperti ini. Ia sangat hapal betul tatapan pria yang haus akan belaian dan sejatinya memang hidung belang. Sering ditatap seperti itu oleh para zombie nya, jelas membuat Gina bisa langsung menebak seperti apa pria ini.


"Beliau Nona Regina, putri dari Tuan Marhen," sahut om Dias cepat sebelum Resa menjawabnya. Karena Gina terlihat tidak tertarik sama sekali.


Pria itu semakin kagum dan penasaran dengan sikap dingin Gina. Namun, ketika ingin berbicara lebih banyak lagi, Gina memutar tubuhnya.


"Jangan lakuin hal yang nggak perlu lo lakuin." ingat Gina dengan nada dingin yang dia tujukan pada Resa. Membuat Resa meremas bajunya. Karena sepertinya Gina menyadari apa yang ia lakukan.


"Nona Gina, bisakah kita makan malam di lain waktu?" pria matang yang bersama Resa tadi mengejar Gina, namun segera di halangi oleh om Dias ketika pria itu ingin menarik tangan Gina.

__ADS_1


"Maaf, Nona kami sangat sibuk. Tidak bisa membuat janji sembarangan." gegas om Dias membuat pria matang itu menahan kesalnya.


Namun tatapan pria itu sangat penasaran dengan Gina. Resa yang melihatnya pun semakin kesal pada Gina. Keberadaan wanita itu selalu saja mengancam dirinya.


__ADS_2