Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 40


__ADS_3

Bab. 40


"Aww ... sakit, Mi! Bukannya di sayang, kenapa malah Gina di jeweri kayak gini sih. Udah nggak anggep Gina juga, ya?"


Dengan tatapan penuh rindu serta memasang wajah memelas ke arah maminya, Gina berusaha untuk meminta ampun pada mami nya.


"Biarin! Kenapa jadi anak bandel banget! Susah dibilangin. Suruh kalem kok malah ngegas kayak tadi." mami Ester tidak hentinya memberi cubitan kepada Gina. Wanita itu gemas sekali dengan sikap putrinya yang masih sangat barbar. Padahal ia ingin Gina bersikap kalem.


"Ya nggak bisa dong, Mi. Gina di hina loh, Mi. Mana bisa Gina diem aja. Jelas nggak mungkin, lah!" balas Gina sembari menghentikan tangan mami nya agar tidak menarik telinganya lagi. Panas juga ternyata rasanya. Batin Gina.


Sedangkan mami Ester yang juga lelah pun kemudian memilih untuk memeluk putri semata wayangnya tersebut. Menyalurkan rasa rindu yang selama ini ia tahan. Memeluknya begitu erat.


"Mami cuma nggak mau kamu makin terlihat nakal di depan Daddy kamu, Sayang. Kalau seperti itu, yang ada mereka bakalan manfaatin kamu," ujar mami Ester yang sesungguhnya hanya menginginkan Gina bahagia. Tidak terlibat dalam perebutan warisan seperti ini.


Gina terdiam. Ia melihat kekhawatiran di wajah mami nya. Gina tahu itu.


"Mami raguin anak Mami sendiri?" tanya Gina menatap serius mami nya yang di pinggiran ranjang milik Gina.


Setelah menyuruh pekerja yang sempat bertemu dengan Gina tadi, kini kamar yang sebelumnya memang milik Gina, kembali Gina tempati. Entah, ke mana larinya barang-barang putri yang menumpang itu. Gina tidak peduli sama sekali.

__ADS_1


Mami Ester menganggukkan kepala samar. Tangannya memegang lembut tangan Gina. Wanita yang memiliki tatapan yang begitu teduh, kini membelawai wajah putri nya yang tumbuh selama lima tahun ini tanpa dirinya dan sangat cantik.


"Mami tau kamu bisa. Mami hanya khawatir kalau mereka akan rencanain sesuatu yang akan jahatjn kamu nanti, Sayang. Sedangkan kamu tau sendiri, pria tua itu sangat percaya sekali sama dia," ujar mami Ester mengingat suaminya yang lebih sayang kepada istri kedua. Sedangkan sama dirinya? Sudah, jangan tanyakan itu. Karena mami Ester bertahan di sini demi hak Gina.


Gina mencebik. "Ck! Meski tua juga Mami dulu cinta buanget sama dia." cibir Gina yang mendapat cubitan di mulutnya dari mami Ester.


"Kalau nggak cinta, mana ada kamu, Gina!" gemas mami Ester pada Gina. Ternyata mulut pedas nya masih sama saja. "Biar gitu, dia tetap Daddy kamu. Jangan terlalu ngajak dia debat. Udah tua, kasihan. Ntar kalau kenapa napa, malah kamu yang disuruh menghidupi mereka. Mau memangnya?" ujar mami Ester.


Tentu Gina langsung menolak dengan nada sangat sewot.


"Bodo amat sama mereka. Orang sama Gina saja juga sadis banget," ujar Gina.


Gina sampai melupakan adik perempuan beda pabrik tersebut. Karena tadi sangat asik menggoda mama tirinya, Gina sampai melupakan keberadaan Sivanya di sana.


"Gampang lah, Mi," balas Gina.


Lalu wanita itu mengedarkan pandangannya ke ruangan yang sudah lama ia tinggal. Tidak ada yang berubah di sana. Bahkan catnya pun juga masih sama.


"Nggak ada perubahan sama kamar ini, Mi?" tanya Gina. Merasa aneh. Jika kamarnya di tempati oleh Resa, sudah seharusnya akan di sulap sesuai dengan kemauan gadis itu.

__ADS_1


Mami Ester mengikuti pandangan Gina. Lalu wanita itu tersenyum lembut. Membuat Gina sangat betah sekalienatap senyuman mami nya.


"Nggak ada yang berani mengubah kamarmu ini, Sayang. Meski Resa berulang kali memohon sama Daddy, tetap saja Daddy tidak mengijinkan selain untuk menempatinya." jelas mami Ester membuat Gina paham.


"Baguslah kalau dia masih punya hati, Mi," ujar Gina begitu asal.


"Hust! Nggak boleh bilang kayak gitu!" ingat mami Ester yang justru mendapat kekehan dari Gina.


Gina merasa tubuhnya tidak nyaman. Mungkin karena semalam habis digempur, sehingga efeknya masih terasa. Meski sudah berpura-pura kuat menahan sakit di bawah sana.


"Mi, aku mau mandi dulu, terus istirahat. Mami keluar dulu, ya. Nanti kita kangen-kangenan lagi kalau Gina udah ada tenaga," ujar Gina seolah tengah mengusir mami nya dengan cara yang sangat lembut.


Mami Ester tidak mempermasalahkan hal itu. Karena Gina memang pulang terlalu pagi, sehingga wanita paruh haya itu menyetujuinya.


Namun, ketika mami Ester menyibakka anakan rambut Gina yang menutupi wajah dan terlepas dari cepolan rambut Gina, mami Ester menangkap sesuatu yang sangat tidak asing di matanya. Namun, menjadi sangat asing jika tanda itu ada di tubuh putrinya.


Karena sangat penasaran, mami Ester pun membuka kemeja yang Gina kenakan tanpa berkata terlebih dulu. Membuat Gina tersentak kaget dengan pergerakan mami nya yang begitu cepat dan tidak sempat Gina cegah.


"Jangan bilang apa yang kamu katakan sama Salma tadi sungguhan, Gina?" tatapan mami Ester kali ini bukan teduh lagi. Melainkan sangat tegas dan menuntut penjelasan lebih pada Gina. "Siapa yang melakukan ini padamu? Hmm? Jawab, Regina Shivania Kusumayaja!"

__ADS_1


Gina menunduk dan menghembuskan napas pelan. Jika mami nya sudah menyematkan nama keluarga dari pihak mami Ester, itu artinya Gina tidak bisa bercanda lagi dengan wanita ini. Gina ingat betul, sebenarnya mami nya lebih galak dari pada daddy-nya. Hanya saja wanita ini berlindung dari wajah kalem nan lembut yang selalu berhasil menipu semua orang.


__ADS_2