Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 23


__ADS_3

Bab. 23


"Manis," ucap Naka setelah membuat bibir Gina sampai terlihat memerah dan sedikit membengkak dari sebelumnya.


Mendengar celetukan Naka barusan, tentu emosi Gina langsung naik.


Bugh bugh bugh!


Entah berapa pukulan yang Gina layangkan pada Naka. Sangking gemasnya dia pada pria yang belakangan ini sering kali mengambil keuntungan darinya.


"Manis manis manis!" sentak Gina dengan amarah yang belum mereda sedikit pun. Lalu gadis itu tanpa sungkan memukul dada Naka lagi. Di mana pria yang kini berubah napsuan tersebut terkekeh melihat reaksi Gina.


"Katanya pro. Tapi giliran di ajak main langsung sampai kayak gitu. Hmm?" bukannya meminta maaf, Naka justru tak hentinya menggoda Gina.


"Au ah! Gelap!" balas Gina membalikkan badan memunggungi Naka. "Bantuin, terus Pak Presdir cepat keluar sana. Dari pada nanti ditangkap satpol pp!" perintahnya pada Naka dengan nada teramat ketus. Seolah lupa siapa di sini sebenarnya yang harus di layani.


Naka tidak menjawab. Pria itu melakukan apa yang diperintahkan Gina barusan. Mulanya Naka memang berniat menyudahi kejahilannya pada Gina. Namun, ketika melihat permukaan kulit halus itu lagi, entah mengapa rasa yang baru dapat Naka rasakan itu kembali datang. Mendorong dirinya untuk mengusap lembut dan ternyata bukan hanya sampai di sana saja.


Dengan cepat kedua tangan Naka bekerja begitu kompak. Tangan kanannya menelusup masuk dari ruang yang terbuka itu dan langsung mengarah ke depan, meraih dua bulatan yang semalam dia mainkan. Sedang yang satunya lagi membungkam mulut Gina agar tidak menjerit seperti tadi.

__ADS_1


Kesannya dirinya tengah melecehkan Gina sekarang. Namun, di dalam poin isi kontrak mereka, Naka diperbolehkan menyentuh Gina jika itu diperlukan dan dalam keadaan darurat. Seperti sekarang misalnya. Karena dirinya ingin memastikan jika rasa itu memang sudah bisa dia rasakan.


"Nanti malam aku ingin membuktikannya," bisik Naka tepat di dekat telinga Gina.


Membuat tubuh Gina semakin merinding di kala bibir serta lidah pria mesum ini memberi usapan basah di permukaan lehernya. Di tambah lagi remasan di depan dadanya yang terasa sangat ngilu Gina rasakan.


'Pria sialaaaaann! Impoten apaan! Ini mah namanya orang mesum sum sum buanget!' jerit Gina tanpa bisa dia keluarkan dengan sempurna. Sebab Naka masih membungkam mulutnya. Sedangkan tangan dan mulut pria itu bekerja sama dengan begitu epic. Sampai-sampai Gina memejamkan mata erat, menghalau rasa yang belinya teramat sangat.


Sedangkan Naka juga memejamkan mata. Mulai menikmati rasa panas yang menjalar di tubuhnya hingga membangunkan sesuatu yang mulai berangsur normal.


"Boleh sekarang saja nggak? Hmm?" tanya Naka dengan suara berat serta napasnya yang tidak beraturan. Sedang tangannya yang semakin kuat meremas dada Gina. "Dia mulai merespon, Gi." beritahunya tanpa merasa malu sedikit pun. Karena Naka berpikir memang adanya hubungan di antara mereka hanya karena demi ini.


Gina langsung melotot panik di saat Naka berkata seperti itu. Dia berusaha untuk memberontak. Tidak siap jika dirinya melakukan hal yang lebih jauh dari ini dengan pria di hadapannya sekarang.


Meskipun sempat memiliki pikiran untuk punya anak dari pria ini, karena ingin mencoba hal yang sangat ekstrim demi bisa menyembuhkan kelainan Naka dan dirinya bisa bebas. Akan tetapi jika mendengarnya dan ditantang secara langsung oleh Naka, Gina benar-benar tidak siap.


"Boleh?" pinta Naka lagi dengan tatapan yang sudah begitu sayu.


Meski Gina belum pernah melakukan anu, tetapi gadis itu sangat paham betul tatapan pria seperti ini. Tatapan yang dulunya selalu mengarah padanya, bahkan sampai ada yang meneteskan air liurnya.

__ADS_1


Gina menggeleng dengan tangan yang langsung memegang kuat kebaya di tubuhnya. Itu pun tidak menutupi tubuh Gina keseluruhan. Hanya di bagian depannya saja. Menolak permintaan Naka.


"Batalkan semua pertemuan hari ini!" ujar Naka pada seseorang yang berada di balik telepon sana.


Entah kapan pria ini mengeluarkan ponselnya. Lalu Naka berjalan mendekat ke arah Gina dan langsung merobek mengangkat tubuh gadis penari tersebut setelah merobek paksa rok span bercorak batik yang sedang Gina gunakan. Belum dibayar, tetapi sudah dirusak lebih dulu oleh Presdir yang mungkin sudah tidak tahan lagi menahan sesuatu yang anu di bawah sana. Sungguh, pemborosan sekali predsir mesum itu.


Gina yang berada di dalam gendongan Naka seperti anak koala tersebut, berusaha untuk menutupi kaki jenjangnya yang terekpos dan justru apa yang dia lakukan sekarang ini membuat Gina lengah. Sehingga Naka berhasil menurunkan lengan kebaya hingga mencapai siku Gina dengan begitu mudah.


"P-pak Pre-presdir ... ini agaknya kurang ba—"


Lagi dan lagi ucapan Gina terpotong oleh suara berat Naka yang berteriak. Terdengar memenuhi seluruh ruang. Bahkan mungkin seluruh ruang butik yang mereka tempati sekarang ini.


"TUTUP SEMUA TIRAI DAN TINGGALKAN KAMI BERDUA!" begitulah perintah dari sang Presdir Naka Kamajaya ketika sudah di ambang batas anunya. Sungguh mengerikan bukan?


Bagaimana nasib Gina? Berdoalah saja jika gadis sok jablay itu dalam keadaan utuh. Eh, baik-baik saja dan bisa berjalan dengan normal. Sehingga besok masih bisa datang ke acara wisudanya.


Sesuai perintah sang Presdir, semua tirai ditutup hingga manager butik sampai membalik tulisan open menjadi closed.


...Heeehhh ... nggak bahaya a itu Mas Presdir Naka?...

__ADS_1


...Makin hari kok makin anu aja deh. ...


...Makin buat Yuta suka. Eh! hehe...


__ADS_2