
Bab. 26
Sebelum datang ke kampus tempat Gina wisuda hari ini, Naka lebih dulu berangkat ke kantor. Setelah menyuruh sopirnya untuk mengantar Gina dan dirinya mengemudikan mobilnya sendiri menuju Kamajaya Company.
Sesampainya di ruangan, Naka disuguhi dengan pekerjaan yang lumayan menumpuk hari ini. Namun, pria itu sedikit mengabaikan dan malah menghubungi temannya yang satu lagi untuk datang ke kantornya secepatnya.
Hal itu tentu saja membuat Irham sedikit tidak mengerti. Kenapa juga Gibran di panggil untuk segera ke sini, sedangkan pekerjaan yang akan mereka bahas sekarang tidak menyangkutkan media di dalamnya.
"Kenapa dia juga, Bos?" tanya Irham yang penasaran.
"Aku ada perlu sama kalian," jawab Naka ketika Gibran baru saja masuk ke dalam ruangannya.
Sementara Gibran dan Irham saling memandang, lalu mengangkat bahu mereka. Tidak mengerti apa yang akan di bahas Naka. Sedangkan tidak ada yang perlu dibicarakan dalam pekerjaan mereka bertiga.
Mereka diam, menunggu Naka membuka suara lebih dulu. Akan tetapi pria itu justru sibuk memijat pelipisnya. Membuat Irham sedikit khawatir.
"Memangnya ada masalah apa? Sampai lo kayak gitu?" Irham yakin, jika mereka bertiga berkumpul seperti sekarang, itu jelas bukan masalah pekerjaan yang akan mereka bahas.
Gibran menelisik raut Naka yang sedikit berbeda.
__ADS_1
"Masalah penari lo itu?" tebak Gibran langsung.
Helaan napas terlihat dari Naka. Menandakan jika tebakan Gibran barusan itu memang benar.
"Kenapa lagi dia?" kali ini giliran Irham yang bertanya. "Udah berhasil bikin itu lo bangun?" tebaknya lagi.
Tanpa disangka Naka menganggukkan kepalanya. Membenarkan tebakan Irham dan mampu membuat kedua temannya itu langsung bertepuk tangan.
"Akhirnya ... lo bisa ngerasain sempitnya anu, Bro!" seru Gibran yang memang ahli dalam hal ini.
"Seriusan?" tanya Irham sedikit bimbang dengan anggapan Gibran. "Kalau memang iya, terus ngapain lo keliatan kayak orang susah begini. Atau lo nggak pakai pengaman pas waktu nembak dia?"
Naka semakin gemas dengan sikap temannya yang seperti detektif saja.
Bukannya solusi yang Naka dapat, melainkan suara gelak tawa dari kedua teman laknatnya yang begitu menggema di ruang kerjanya sekarang. Mereka terlihat begitu senang jika melihat dirinya masih merasakan ngilu dan miliknya itu masih setengah sadar. Antara tidur dan bangun. Sehingga terasa begitu aneh bagi Naka yang baru merasakan hal tersebut.
"Kalian bisa serius nggak? Mau gue pindah ke Libanon?" ancam Naka. Membuat kedua temannya langsung kicep.
"Ya udah sih. Kalau emang udah bangun, coba gas aja ke cewek lain," saran Irham begitu lancar sekali meluncur dari mulutnya.
__ADS_1
Bugh!
Naka melempar bolpoin tepat mengenai kening Irham. Membuat pria itu meringis.
"Lo kira gue sama kayak Gibran. Main nusuk barang orang tanpa peduli kebersihannya!" semprot Naka tidak terima dengan saran Irham.
Gibran yang disangkut pautkan pun melotot.
"Wehhh ... lo keterlaluan banget, Bos! Lo pitenah gue ini namanya. Padahal gue mau kasih saran yang bagus loh! Nggak mau nih, denger saran dari sifu? Hmm?" timpal Gibran juga tidak terima dikata seperti itu. Karena berita yang ada di luaran sana tidak semua benar. Meski sedikit menyerempet dikit. "Yakin, nggak mau denger?" ulang Gibran.
Padahal Naka tahu jika saran dari Gibran selalu parah. Tetapi pria itu tetap saja mengangguk.
"Jangan lama-lama. Bentar lagi gue mau ke acara wisudanya Gina. Kasihan dia nggak punya temen," ingat Naka pada akhirnya mendengarkan saran dari Gibran—sifu dalam ilmu biologi bab reproduksi.
"Dia masih segel, Gib," beritahu Naka pada Gibran ketika mendapat gaya sedikit ekstrim bagi Gina.
Dua pria yang duduk di depan meja kerjanya itu sama-sama memicingkan mata mereka ke arah Naka.
"Kok lo tau?"
__ADS_1
"Sudah di tes?"
Mendapat serangan pertanyaan dari mereka, membuat Naka segera memalingkan wajahnya. Entah mengapa jika mengingat kejadian kemarin, rasa rasanya Naka ingin mengulangnya lagi. Eh!