Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 35


__ADS_3

Bab. 35


Di dalam sebuah ruangan bernuansa abu dan hitam, yang semakin membuat ruangan itu tampak gelap namun terlihat sangat nyaman jika di malam hari seperti ini, tampak dua orang yang tengah terlelap di atas ranjang. Saling berbagi selimut dari dinginnya malam serta AC yang menyala di kamar tersebut.


Jarum jam masih menunjuk ke angka empat pagi. Itu artinya di luar sana masih terlihat sangat gelap. Namun, tiba-tiba terlihat pergerakan dari salah satu orang yang tengah berbagi selimut tadi.


Gadis itu mengerjapkan mata pelan, lalu menguceknya agar pandangannya terlihat jernih kembali. Dia tampak kaget ketika mendapati dirinya di ruangan asing.


"Kamar siapa?" gumam gadis itu dengan nada lirih.


Ketika ingin membenarkan posisinya, gadis itu melihat sosok pria yang terlelap di sampingnya dengan tangan yang melingkar di atas perutnya.


"Pantas saja berat," ucap gadis itu lagi yang belum benar-benar tersadar dengan situasinya sekarang ini. Hingga selang beberapa detik, gadis itu tersentak kaget ketika sadar jika ini tidak benar. Demi memastikan ulang, gadis yang tak lain ialah Gina pun menoleh ke samping. Ada Naka di sana yang masih tertidur.


Oke, jika pria itu tidur di samping dirinya dalam keadaan seperti yang Gina alami dulu sih tidak apa-apa. Akan tetapi, sekarang ini berbeda. Naka terlihat tidak memakai baju. Gina juga merasa bajunya sangat dingin. Gadis itu pun memeriksa tubuhnya setelah berhasil menyingkirkan tangan Naka dari atas perutnya.


"Asta—"


Gina langsung menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengumpat dengan nada tinggi. Meskipun gadis itu sedang di landa keterkejutan yang sangat luar biasa mengenai kondisinya sekarang.

__ADS_1


Betapa tidak terkejutnya Gina ketika mendapati dirinya dalam keadaan polos. Lalu ia beranikan diri mengintip keadaan Naka. Sama. Mereka sama-sama polos.


"Itu artinya semalam ...." Gina tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Ia terbangun karena tenggorokannya terasa sangat kering, namun ternyata justru mendapati sebuah fakta lain. Ya. Jika keadaan mereka seperti ini, itu jelas semalam mereka melewati sesuatu yang Gina lewatkan. Sebab Gina tidak terlalu ingat.


"Perasaan semalam aku nggak jadi minum, deh. Tapi kenapa malah nggak ingat sama sekali dan malah berakhir seperti ini," ucap Gina. "Ini masuk dalam kasus pemerkosaan nggak sih, kalah gue nggak sadarkan diri?" gumamnya lagi.


Kepalanya terasa pusing, berusaha mengingat lagi momen yang seharunya berharga bagi Gina. Akan tetapi tetap saja dia tidak teringat apapun, kecuali pada saat dirinya ditarik oleh sepasang tangan dan wajahnya langsung ditutup kain.


"Bentar bentar," sepertinya kini Gina mengingat sesuatu. Hingga pada detik selanjutnya, Gina menoleh cepat ke arah pria yang menggunakan cara begitu licik seperti ini. "Sialan! Dia yang ngebius gue sebelum tampil!" umpatnya dengan nada tertahan.


Gina melayangkan tangan ke arah Naka, namun terhenti di udara tanpa spat menyentuh tubuh pria yang mungkin sangat kelelahan bekerja sendiri semalaman.


Bisa-bisanya pria itu melakukan hal yang seperti itu kepada dirinya tanpa bisa ia ikut andil di dalam nya.


"Padahal udah penasaran banget rasa sakitnya kek apa. Ini malah dibius." tidak hentinya Gina merutuki sikap Naka yang tidak gentle menurutnya.


Gina menarik napas, mengatur emosinya agar tidak meluap. Lalu gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Naka. Menatap pria yang masih terlelap dan mungkin sedang berkelana di alam mimpinya. Ingin sekali Gina memukulnya. Akan tetapi ia tahan.

__ADS_1


"Oke, anggap aja emang ini hak lo karena udah bayar gue mahal. Gue harap ini pertemuan terkahir kita. Gue juga udah nggak punya hutang lagi sama lo, Naka. Semoga hidup lo ke depan lebih bahagia," ucap Gina.


Gad—wanita itu meringis ketika memutar tubuhnya sedikit agak kasar. Seperti apa yang Gina lakukan selama ini ketika ingin beranjak dari tempat tidur.


Nyata. Nyata sekali rasa sakitnya di bagian paling privasi. Gina sampai meringis, menahan rasa sakit itu ketika dirinya menggerakkan kaki.


"Sial! Udah selesai aja masih terasa sakit. Gimana rasanya semalam." Gina masih saja kepikiran sesakit apa semalam dirinya.


Cepat-cepat wanita itu turun dari ranjang dan mengambil kemeja Naka serta dalam4nnya sendiri. Karena tidak mungkin ia memakai baju dinasnya semalam. Bisa-bisa menjadi bahan tontonan nanti.


Selesai berpakaian dan mencepol asal rambutnya, Gina mencari ponsel Naka lalu mengetikkan sebuah pesan dan ia kirim pada seseorang. Beruntungnya ponsel Naka tidak terkunci dan Gina bisa menggunakannya secara bebas. Tidak lupa wanita itu menghapus pesannya. Lalu keluar dari sana tanpa mengucap pamit.


Sesampainya di lobby, ada seseorang yang sudah menunggu Gina. Karena tadi dirinya juga mengirim posisinya sekarang.


"Mampir ke kontrakan dulu sebelum ke bandara. Ngambil barang-barsng gue yang ada di sana. Tas gue udah lo ambil kan di Tania?" tanya Gina pada seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun dengan tubuh tegap yang menatap menunduk ke arah Gina.


"Sudah, Nona. Barang-barang Nona sudah saya kemas dan sudah ada di dalam. Kita bisa langsung ke bandara, karena penerbangan anda di jam pertama," jawab pria itu tetap tidak berani menatap penampilan Gina sekarang.


Gina mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang di bukakan oleh pria itu. Tidak lupa Gina mengenakan masker dan juga kacamata hitam dari pria yang menjadi sopirnya tersebut.

__ADS_1


Mobil itu pun melaju ke arah bandara. Sedang Gina terus mengamati penampilannya. Dari sorot lampu jalan yang menembus ke dalam jendela mobil, ia bisa melihat tanda merah di kakinya.


'Cukup beringas banget dia.' batin Gina.


__ADS_2