Gadis Penari Sang Presdir

Gadis Penari Sang Presdir
Chap. 24


__ADS_3

Bab. 24


Kalian pikir Gina akan tunduk dengan begitu mudahnya dari sedangan demi serangan yang coba Naka layangkan? Oh, jelas saja tidak semudah itu, Esmeralda! Jika gadis sang penari terhot di kota ini bisa dilumpuhkan dengan mudah, jelas Gina benar-benar menjadi jablay sedari dulu.


Bugh!


Gina terpaksa menendang anunya Naka yang baru saja mulai bisa merespon dan Gina merasakan hal tersebut, dengan begitu kuat, ketika pria itu mencoba untuk mengungkung tubuhnya di atas sofa sebagai bentuk pertahanan terakhirnya.


Jangan tanya seperti apa penampilan Gina sekarang. Atasan kebaya yang Gina coba tadi kini berkumpul di perut. Serta rok yang dirobek oleh Naka tadi juga tersingkap ke samping dan hanya bisa menutupi sebagian bagian paling privasi Gina. Beruntung Naka belum sampai membuka kacamata khusus dada yang Gina kenakan.


"Arghhh ...!!" desis Naka sembari menunduk dan menyembunyikan wajahnya di leher Gina, sedangkan kaki yang sebelumnya terbuka dan mengunci kaki Gina, kini sedikit menekuk demi menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.


"Dia baru bisa kaget, Gi ... kenapa malah kamu tendang kayak gini," protes Naka dengan suara gemetar. Sangking sakitnya mungkin di bagian inti tubuhnya tersebut. "Kalau dia mati lagi gimana? Mau nanggung seumur hidupmu? Hmm?" imbuh Naka lagi.


Pria itu menindih Gina, karena dibuat bergerak pun tidak bisa. Seolah tenaganya yang justru terkuras habis akibat rasa sakit yang lebih dominan tersebut.


Sementara Gina yang berada di bawah tubuh Naka, merasa berat. Sebab Naka benar-benar menindihnya.


"Ya salah sendiri kamu, Mas!" sentak Gina dengan nada tertahan. Takut pendengaran Naka rusak karena teriakan nya. Sebab, posisi telinga pria itu berada tepat di samping mulutnya.


Naka merilekskan tubuhnya agar rasa sakit itu segera samar. Saat sadar jika menindih tubuh Gina, Naka mulai menjauhkan wajahnya dari leher Gina lalu menumpukan sikunya pada sofa dan menahan beban tubuhnya agar tidak terlalu memberatkan Gina.


Menatap lekat-lekat wajah gadis yang saat ini memalingkan wajahnya ke samping. Napas mereka masih sama-sama belum berhembus normal.

__ADS_1


"Setidaknya jangan lukai dia," ucap Naka membuat Gina menatap ke arahnya dengan tatapan sinis.


"Siapa suruh kamu mau main anu aja! Mana tempatnya sempit banget lagi." protes Gina ketus.


Naka melebarkan matanya. Tidak menyangka jika jawaban ini yang dia dengar setelah apa yang ia lakukan pada Gina barusan. Ia pikir Gina akan marah. Eh, tidak tahunya malah protes masalah tempat. Tentu saja hal itu membuat Naka menarik sudut bibirnya. Itu artinya ia tidak benar-benar ditolak oleh Gina.


"Memangnya kamu mau kalau aku anuin?" tanya Naka dengan raut muka yang berubah senang kembali. Bahkan rasa sakit itu rasanya hilang seketika di kala mendapat anggukan kepala dari Gina. Gadis ini sungguh di luar dugaannya memang.


Naka kembali duduk dan membantu Gina bangun dari tempatnya. Meskipun di dalam ruangan butik yang tertutup rapat tersebut hanya ada mereka berdua, namun Naka tetap membantu Gina menutupi tubuh gadis itu dengan jaket yang ia kenakan.


"Bukannya itu tujuan dari pekerjaan yang kusanggupi?" balas Gina berusaha untuk menjaga parasnya agar terlihat kuat dan tenang. Walaupun pada kenyataannya tetap dirinya merasa takut untuk melakukan hal uang lebih jauh dari tadi.


Membuat Naka teringat akan perjanjian yang ada di antara mereka. Sedangkan Gina juga sangat sadar mengenai pekerjaan yang dia terima dan putuskan dalam keadaan sangat sangat sadar.


"Kenapa?" tanya Gina menatap tidak mengerti mengenai raut muka Naka saat ini. "Bukanya kalau kita beneran lakuin itu dan ternyata ..." Gina mengarahkan pandangannya tepat ke arah bagian yang ditendang olehnya tadi. "Itunya berfungsi, artinya kerjaan ku beres, kan? Aku bisa bebas dan aku bisa lakuin apapun itu pada uang yang kamu transfer sesuai kesepakatan. Hubungan kita berakhir, bukan?" jelas Gina lagi.


Naka memilih diam. Tidak langsung memberi jawaban mengenai ketidakpahaman Gina tentang perjanjian di antara mereka.


"Mas Naka?" panggil Gina sambil menggoyangkan lengan Naka, karena pria itu hanya menatapnya tanpa merespon ucapannya barusan.


"Kalau tidak berhasil?"


Ini bukan terdengar seperti sebuah pertanyaan. Melainkan sebuah tantangan yang Naka layangkan pada Gina.

__ADS_1


Gina tersenyum dengan gelengan pelan. Tatapan mata gadis itu seolah begitu yakin dengan pendapatnya.


"Jelas tidak mungkin, Mas. Orang barusan aja kamu kayak kesetanan. Main nyosor tanpa aba-aba lebih dulu. Coba kalau aku pas lagi kedatangan tamu. Apa ya nggak jadi sosis bakar bertabur saos itunya," balas Gina terdengar begitu santai.


Perlahan namun pasti, Naka mulai sedikit mengerti mengenai Gina. Jika berhadapan dengan gadis ini, memang tidak akurat hasilnya hanya dengan sebuah kata demi kata. Harus dengan tindakan.


'Ck! Bilangnya aja kayak gini. Tapi giliran di eksekusi langsung, responnya gitu seperti wanita yang belum tersentuh sama sekali. Baiklah Regina Shivania, aku akan ikuti permainanmu.' batin Naka.


Sepertinya memang Gina kali ini salah memilih lawan jika dia tengah memainkan sebuah trik. Karena pria yang duduk di samping nya ini lebih ahli dalam menyusun sebuah rencana maupun trik licik.


Jika tidak, Gina tidak akan menyetujui kerja sama di antara mereka. Urusan seperti ini, memang Naka yang lebih ahli dalam memanfaatkan situasi lawannya.


"Ya sudah, mau pilih yang mana?" tanya Naka berdiri. Membenarkan penampilannya, lalu kemudian membantu Gina berdiri. "Kelamaan di dalam ntar kita dikira mesum."


Sepertinya Naka sedikit mengalami guncangan di kepalanya juga. Sampai-sampai tidak ingat jika situasi tersebut dialah yang menciptakannya.


"Siapa yang bikin situasinya kayak gitu!" lirik Gina sinis. "Udah dapat yang pas, tapi malah kamu rusak. Ck! Pemborosan sekali memang anda, Tuan Presdir!"


Naka tersenyum mendapat omelan dari Gina. Gadis ini sepertinya belum tahu seberapa pengaruhnya Naka Kamajaya di negeri ini.


"Nggak apa. Uang segitu layak buat DP barusan," sahut Naka yang semakin memancing emosi Gina.


"Astaga ... beneran jadi jablay gue kalau kayak gini." gumam Gina seraya menatap kepergian Naka yang mengarah ke ruang depan. Sepertinya pria itu ingin memanggil seseorang.

__ADS_1


...Maaf, telat. Hari pertama masuk sekolah, membuatku sedikit agak anu. Jadinya nganu deh. Maap ya, Yaang...


__ADS_2