
Bab. 63
Rasa-rasanya Naka sangat merindukan wanita yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Di tambah lagi semenjak keputusan dari mama Ester keluar secara tiba-tiba, Naka belum sempat berbicara dengan Gina lagi mengenai acara mereka. Ia terlalu bahagia dan begitu antusias sehingga sampai lupa membicarakan berdua dengan gadis mantan bayarannya tersebut.
Oleh karena itu, sebelum nanti sore keluarganya datang ke kediaman Cakradinata, Naka menghubungi Gina dan mengajak ketemu. Tentu saja pria itu menjemput sang belahan jiwa. Hingga di sinilah mereka berada. Bukan bertemu di restoran atau cafe lagi. Melainkan langsung ke hotel dong ya.
"Kamu apa-apaan sih, Mas? Makai segala macam setuju sama perintah Mami!" itulah kalimat yang Naka terima dari ibu anak-anaknya nanti.
Naka tidak menjawab pertanyaan Gina. Pria itu menarik tangan Gina yang sedari tadi memilih untuk berdiri, sedangkan Naka duduk di sofa panjang. Hingga wanita yang tengah berbadan dua itu jatuh ke pangkuannya.
Tentu, Naka segera melingkarkan tangannya di perut Gina dengan begitu erat agar dia tidak bisa kabur dari nya.
"Aku mau ngobrol sebentar, Yaang." Naka bersuara di kala Gina memberontak ingin bangkit dari pangkuan Naka.
Bukan karena apa. Dirinya takut kalau sampai ada sesuatu yang bangun di bawah bokongnyaa saat ini.
__ADS_1
"Ya tapi jangan kayak gini posisinya, Mas. Nggak nyaman akunya." protes Gina yang malah bergerak kesana kemari.
Membuat Naka mencengkeram tangannya sendiri seraya mengeratkan rahangnya. Pergerakan yang Gina lakukan saat ini justru semakin mempercepat perkembangan sesuatu yang ada di balik celananya.
"Kamu jangan malah mempercepatnya, Yaang," geram Naka yang kemudian menaruh dagu di bahu Gina.
Tangannya tidak berada di perut Gina lagi. Melainkan turun di paha. Entah, ini sebuah kebetulan atau keberuntungan yang dimiliki Naka. Pasalnya saat ini Gina mengenakan pakaian terusan dengan panjang rok hanya sebatas lutut. Rok berbentuk line A tersebut justru semakin mendukung niatan Naka.
Gina tersentak di kala jari jemari ayah dari calon anaknya yabg saat ini berada di dalam kandungannya, meraba paha dan menyentuh bagian intinya. Walau masih terhalang kain segitiga yang Gina kenakan. Namun masalahnya Gina mengenakan yang sangat tipis dan itupun berbahan seperti jaring. Jelas langsung terasa dong!
"M-mas ...."
"Sudah kubilang, jangan mancing-mancing aku, Yaang," bisik Naka tepat di sebelah telinga Gina.
Gina melotot. Siapa yang mancing siapa di sini. Perasaan dirinya juga biasa saja.
__ADS_1
"Kamu apaan sih, Mas! Katanya mau bicara sebentar!" protes Gina mencoba kabur dari Naka.
Geram dengan sikap mesum calon suaminya, Gina mencubit paha Naka kuat-kuat hingga pria itu memekik dan menarik tangannya.
"Ya kan emang sebentar bicaranya, Yaang. Tapi kamu harus tanggungjawab dulu sama ini," rengek Naka.
Belalainya memberontak ingin keluar, akan tetapi pawangnya malah menjauh.
Gina mendengkus kesal. "Kalau emang nggak ada yang dibicarain, mending aku pulang aja!" ujar Gina. "Orang lagi mau ada meeting, malah diajak kabur." omelnya lagi.
Cepat-cepat Naka bangkit dan mencegah Gina untuk keluar dari kamar yang dia sewa.
"Iya iya ... Yaang ... janji deh, nggak nakal lagi," ucap Naka sembari mengangkat tangannya dan menampilkan dua jarinya ke atas. "Janji, bicara serius." tekannya lagi.
Meski Naka sangat ingin sekali berkunjung, namun harus pria itu urungkan. Daripada wanitanya marah dan malah mengurungkan pernikahan mereka. Tambah berabe urusannya nanti.
__ADS_1
Tentu saja Gina tidak serta merta percaya begitu saja. Karena pria yang dia hadapi saat ini sangatlah cerdik.
"Yakin?" Gina memicingkan matanya tajam. Mana bisa ia percaya begitu saja. Terlebih lagi senyuman Naka sangatlah mencurigai. Eh, mencurigakan.